Setiap 5 November, Indonesia memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN). Peringatan yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 4 Tahun 1993 ini, bertujuan membangkitkan kesadaran kolektif akan pentingnya puspa (tumbuhan) dan satwa sebagai identitas dan kedaulatan bangsa. Dalam keputusan tersebut, pemerintah menetapkan tiga bunga nasional dan tiga satwa nasional; masing-masing adalah puspa bangsa untuk bunga melati (Jasminum sambac), puspa pesona anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis), dan puspa langka bunga padma raksasa atau lebih terkenal dengan nama Rafflesia arnoldii; yang menyandang sebagai bunga terbesar di dunia. Sementara tiga jenis satwa yang mewakili darat, air, dan udara, dinyatakan sebagai satwa nasional yaitu komodo (Varanus komodoensis); ikan siluk merah (Sclerophages formosus) sebagai satwa pesona; dan elang jawa (Spizaetus bartelsi) sebagai satwa langka. Tiga dekade setelah peringatan pertama digaungkan, upaya-upaya penyelamatan diuji realitas lapangan. Nasib flora dan fauna kebanggaan Indonesia, kian terancam. Induk dan bayi orangutan tapanuli ini terpantau langsung di hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, di luar habitatnya di Batang Toru, pada Jumat, 26 September 2025. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Ancaman kehidupan puspa dan satwa Indonesia Ancaman terbesar dan paling masif bagi keanekaragaman hayati Indonesia adalah hilangnya habitat akibat deforestasi. Data Global Forest Watch, menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di peringkat teratas negara dengan kehilangan tutupan pohon primer terbesar di dunia. Dari 2002 sampai 2024, Indonesia kehilangan 11 Mha hutan primer basah, menyumbang 34% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah di Indonesia berkurang 11% dalam periode waktu tersebut. “Dari 2001 sampai 2024, Indonesia kehilangan 76% tutupan pohon di wilayah dominan, sehingga menyebabkan deforestasi,” tulis Global Forest Watch.…This article was originally published on Mongabay










