Banda Aceh – Nilai impor Provinsi Aceh pada Juli 2026 mencapai 81,89 juta dolar AS atau mengalami lonjakan sebesar 214,46 persen dibandingkan nilai impor pada Juni 2026.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Agus Andria, menyampaikan bahwa nilai impor tersebut juga mengalami peningkatan sebesar 56,82 persen jika dibandingkan dengan kondisi pada Juli 2025.
“Nilai impor Provinsi Aceh pada bulan Juli 2026 sebesar 81,89 juta USD. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 214,46 persen dibandingkan impor bulan Juni 2026,” kata Agus, Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan negara asal, Amerika Serikat menjadi negara dengan nilai impor terbesar ke Aceh pada Juli 2026. Nilainya mencapai 56,88 juta dolar AS, dengan komoditas utama berupa gas propana/butana.
Posisi kedua ditempati Rusia dengan nilai impor sebesar 11,63 juta dolar AS. Komoditas yang didatangkan dari negara tersebut berupa pupuk.
Sementara itu, Tiongkok berada di urutan ketiga dengan nilai impor sebesar 9,77 juta dolar AS. Komoditas yang diimpor dari Tiongkok berupa mesin atau pesawat mekanik dan pupuk.
“Jika dilihat berdasarkan negara asal, impor terbesar bulan Juli 2026 berasal dari Amerika Serikat senilai 56,88 juta USD dengan komoditas gas propana/butana,” kata Agus.
Dari sisi komoditas, gas propana/butana menjadi barang impor terbesar Aceh pada Juli 2026 dengan nilai 56,88 juta dolar AS. Nilai tersebut setara dengan 69,46 persen dari total nilai impor Aceh.
Komoditas impor terbesar berikutnya adalah pupuk serta mesin atau pesawat mekanik.
Di sisi lain, peningkatan nilai impor tersebut belum membuat Aceh mengalami defisit perdagangan. Dengan nilai impor yang masih lebih kecil dibandingkan nilai ekspor, neraca perdagangan luar negeri Aceh pada Juli 2026 tercatat mengalami surplus sebesar 2,15 juta dolar AS.
Agus menjelaskan, berdasarkan perkembangan neraca perdagangan sepanjang Juli 2025 hingga Juli 2026, Aceh tercatat mengalami defisit pada Oktober 2025 dan Mei 2026.
“Dengan nilai impor yang lebih kecil dibandingkan nilai ekspor, neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada bulan Juli 2026 mengalami surplus sebesar 2,15 juta USD,” pungkasnya.[]








