Bangkok – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh generasi muda Indonesia di kancah internasional. Sekelompok mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil meraih medali perunggu (Bronze Medal) dalam ajang 3rd International Student Competition yang dihelat di Bangkok, Thailand, pada 8–9 Agustus 2026.
Kompetisi bergengsi ini merupakan hasil kolaborasi dengan Faculty of Agro-Industry, Chiang Mai University. Di tengah ketatnya persaingan global, tim USK berhasil memikat dewan juri melalui gagasan inovatif yang menyoroti persoalan krusial di era digital: maraknya penipuan lowongan kerja atau job scam.
Mengusung inisiatif bertajuk “Spot The Trap”, tim mahasiswa USK ini hadir sebagai respons atas meningkatnya ancaman kejahatan siber yang kerap menyasar para pencari kerja pemula (fresh graduates).
Menjawab Kegelisahan Anak Muda di Era DigitalDi era di mana segala informasi tersaji dalam genggaman, proses pencarian kerja memang menjadi lebih mudah. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan celah kerawanan yang kerap dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab.
Banyak anak muda yang memasuki dunia kerja dengan antusiasme tinggi, namun belum dibekali literasi digital yang memadai untuk mengenali modus penipuan. Mulai dari tawaran kerja palsu berkedip too good to be true, permintaan transfer dana di awal, hingga pencurian data pribadi.
Berangkat dari kegelisahan inilah inisiatif “Spot The Trap” lahir. Tim mahasiswa USK yang digawangi oleh Syaakira Alaika sebagai ketua tim (leader), Fawwaz Zulfikar sebagai presenter, serta Raviya Putra Irwansyah, Fatih Rahmah Risyanti, dan Syifa Alya sebagai anggota, merancang proyek ini dengan pendekatan interaktif agar edukasi keamanan digital dapat diterima dengan mudah oleh kalangan muda.”Kami sangat bersyukur bisa mendapatkan Bronze Medal di ajang internasional ini. Bagi kami, penghargaan ini bukan hanya sebuah medali, tetapi juga menjadi apresiasi terhadap kerja keras tim dalam membawa isu job scam yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda,” ujar Syaakira saat dihubungi, Minggu (9/8/2026).
Melalui “Spot The Trap”, audiens diajak mengenali berbagai jebakan penipuan melalui simulasi berbasis cerita, aktivitas interaktif, hingga ruang berbagi pengalaman. Tujuan jangka panjangnya jelas: membangun generasi muda ASEAN yang lebih kritis, waspada, dan percaya diri di ruang digital.
Kolaborasi dan Perjuangan di Panggung InternasionalKeberhasilan ini tentu tidak diraih dengan instan. Di bawah bimbingan sang dosen pendamping, Aditya Rivaldy, S.H., L.L.M., seluruh anggota tim bahu-membahu mempersiapkan materi hingga tampil memukau di hadapan para juri internasional.
Bagi sang presenter, Fawwaz Zulfikar, berdiri di panggung internasional membawa nama almamater dan Indonesia menyisakan cerita tersendiri. Ada rasa gugup yang sempat melanda, namun hal tersebut berhasil dikapitalisasi menjadi energi positif berkat dukungan penuh dari rekan-rekan setimnya.”Ada rasa gugup ketika harus tampil di panggung internasional, apalagi membawa nama USK dan Indonesia. Tetapi kami menjadikan rasa gugup itu sebagai energi untuk memberikan penampilan terbaik,” ungkap Fawwaz.
Ia berpesan agar anak muda Indonesia semakin berani bersikap kritis dan tidak mudah tergiur dengan tawaran kerja instan yang mencurigakan. “Kenali, periksa, dan pastikan sebelum mengambil keputusan,” imbuhnya.
Apresiasi Penuh dari Pihak UniversitasPrestasi gemilang ini turut mendapat apresiasi mendalam dari dunia akademik. Sang dosen pendamping, Aditya Rivaldy, menilai bahwa capaian medali perunggu ini membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kapasitas intelektual dan kepekaan sosial yang tinggi terhadap isu-isu kontemporer.”Yang paling penting bukan hanya medalinya, tetapi proses yang mereka lalui. Mereka belajar bekerja dalam tim, menyampaikan gagasan, berkomunikasi di lingkungan internasional, sekaligus mempertanggungjawabkan ide yang mereka bawa,” tutur Aditya.Ia berharap, keberhasilan ini dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa USK maupun generasi muda di tanah air untuk tidak ragu melangkah ke panggung global. Dengan persiapan matang dan kolaborasi yang solid, gagasan lokal terbukti mampu bersaing dan memberikan solusi nyata bagi persoalan dunia.
Dari Banda Aceh hingga Bangkok, langkah kelima mahasiswa USK ini membuktikan bahwa kepedulian sosial yang dikemas secara kreatif mampu menembus batas negara dan mengharumkan nama bangsa.










