Jejeran cerobong asap pemurnian pabrik nikel terlihat jelas di pusat Kabupaten Bantaeng menuju Bulukumba. Warga mengenal tempat itu pabrik nikel PT Huadi Group (Huadi). Lokasi itu merupakan Kawasan Industri Bantaeng (KIBA), masuk dalam daftar proyek strategis nasional (PSN) era Presiden Joko Widodo dan lanjut di Pemerintahan Prabowo Subianto. Sejak 2018, tungku smelter sudah beroperasi. Di tengah mega proyek itu, ada para pekerja yang menjadi motor beroperasinya pabrik. Dari cerita mereka terungkap, kondisi buruh terlebih para pekerja perempuan yang menyedihkan. Seperti Nengsi, bekerja di bagian control room PT Huadi Wuzhou Nickel Industry, sejak 5 Oktober 2021 dan diberhentikan pada 7 Agustus 2025. Selama bekerja, dia menghadapi kondisi kerja sungguh melelahkan karen buruh perempuan tak mendapatkan cuti layak. “Tidak masuk kerja, berarti potong upah. Itu prinsip kerja di dalam (KIBA),” katanya. Setiap bulan Nengsi mendapatkan upah Rp2 juta dan naik jadi Rp3,5 juta. Pada Juni 2024, dia menikah dengan Nurdiyanzah juga buruh tenaga las (welder). Pada hari pernikahan, perusahaan memberikan cuti tiga hari dan tidak berbayar. Nengsi menerima dan kembali masuk bekerja. Beberapa bulan setlah itu dia hamil dan bekerja seperti biasa. Dia tak menyangka, jika paparan debu dan panas tiap waktu bisa membuatnya kelelahan. Sepekan berlalu dari hasil tes kehamilan, perutnya terasa sakit. Ketika pulang ke rumah dia pendarahan. “Satu minggu saya pendarahan. Lalu periksa ke RS Bantaeng, dokter bilang saya keguguran itu bulan delapan (Agustus 2024),” katanya. “Dokter bilang usia kandungan saya dua minggu.” Rasanya dunia seperti runtuh. Bersama pasangannya, mereka kembali program hamil. Lalu mendapati hasil testpack bergaris dua.…This article was originally published on Mongabay










