Blangpidie – Seorang siswi kelas XII SMA Negeri Unggul Tunas Bangsa, Aceh Barat Daya (Abdya), Qarira Qurratu Aini, berhasil meraih 11 Letter of Acceptance (LoA) dari sejumlah universitas ternama di Australia dan Selandia Baru untuk program sarjana (S1).
Aini—sapaan akrabnya—mengungkapkan, pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dimulai sejak dirinya duduk di kelas XI semester I, ketika ia mulai memiliki tekad untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
“Saya mulai punya keinginan kuliah di luar negeri sejak kelas XI semester 1, apalagi setelah saya gagal mengikuti program TechGirls. Dari situ saya semakin termotivasi untuk mencoba peluang lain,” kata Aini, dalam keterangannya, Selasa (14/4/2026).
Sebanyak enam universitas di Australia yang memberikan LoA kepada Aini antara lain Bond University, University of Wollongong, Western Sydney University, Curtin University, RMIT University, dan Swinburne University of Technology.
Sementara itu, lima universitas di Selandia Baru adalah University of Otago, Lincoln University, Auckland University of Technology, University of Canterbury, dan Victoria University of Wellington.
Mayoritas program studi yang dipilih Aini adalah bidang Psikologi, meskipun terdapat beberapa pilihan jurusan lain yang juga ia pertimbangkan.
Dalam proses pendaftaran, Aini memilih jalur direct entry dengan mendaftar langsung melalui situs resmi masing-masing universitas. Ia menyebutkan bahwa sejumlah persiapan penting harus dilakukan, mulai dari kemampuan bahasa Inggris hingga kelengkapan dokumen akademik.
“Di kelas XII saya mengikuti tes IELTS di Medan dan mendapat skor 6.5. Selain itu, saya juga menyiapkan paspor, KTP, sertifikat prestasi, serta transkrip nilai,” katanya.
Aini menjelaskan, proses pengumpulan dokumen bukanlah hal yang mudah. Ia harus bekerja keras untuk memperoleh sertifikat prestasi, termasuk mengikuti lomba esai dan program pertukaran pelajar domestik.
“Saya hanya punya tiga sertifikat internasional yang saya dapatkan di tahun 2025. Untuk itu, saya banyak menghabiskan waktu menulis esai, dan itu cukup melelahkan,” ungkapnya.
Meski berhasil meraih 11 LoA, Aini mengaku juga sempat menghadapi penolakan dari salah satu universitas di Singapura, yakni Nanyang Technological University (NTU). Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya.
“Alhamdulillah saya mendapatkan 11 LoA, walaupun sempat ditolak di NTU. Itu menjadi pelajaran berharga bagi saya,” ujarnya.
Saat ini, Aini masih mempertimbangkan pilihan kampus yang akan diambil, mengingat sebagian besar tawaran yang diterima masih berupa beasiswa parsial. Ia pun terus berupaya mencari peluang beasiswa penuh.
“Saya sedang mengumpulkan berkas untuk pendaftaran Beasiswa Garuda dan juga mendaftar ke Hong Kong Polytechnic University karena saya mengincar beasiswa penuh,” jelasnya.
Aini berharap pencapaian yang diraihnya dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lain untuk berani bermimpi besar dan berkompetisi di tingkat global.
“Saya berharap apa yang saya capai bisa menjadi penyemangat bagi teman-teman lain untuk terus berani bermimpi setinggi-tingginya di tengah persaingan global yang semakin ketat,” pungkasnya.[]










