Banda Aceh- Thalasemia Squad Aceh, sebuah komunitas yang dibentuk oleh muda-mudi penyintas talasemia di Aceh. Komunitas ini diresmikan berbarengan dengan kegiatan peringatan Hari Thalasemia yang digelar oleh Yayasan Darah untuk Aceh di Leupon Green Lawn, Lampuuk, Sabtu (28/5/2022).
Desi Arianti, anggota Thalasemia Squad Aceh mengatakan rencana untuk membentuk komunitas ini sudah sejak lama dicanangkan, namun baru dapat terealisasikan pada tahun ini.
“Peresmiannya tahun ini, namun rencananya sudah lama dan baru tahun ini berjalannya,” ucapnya.
Ide membentuk komunitas ini berawal dari rutinitas para Thaller (penyintas talasemia) yang melakukan transfusi darah secara teratur, namun sesama Thaller tidak ada interaksi satu sama lain. Sehingga untuk saling mendekatkan diri maka mereka berinisatif untuk membentuk sebuah komunitas. Saat ini, Thallasemia Squad Aceh terdiri atas sepuluh anggota yang berasal dari berbagai kabupaten di Aceh.
“Karena kami transfusi secara teratur, setiap bulan selalu ketemu dengan orang-orang yang sama. Tetapi saling tidak mengenal masing-masing, makanya kepikiran kenapa enggak dibuat aja sebuah komunitas,” ucapnya.
Mereka berharap penyintas thalasemia dapat saling mendukung satu sama lain dan bisa lebih percaya diri akan kemampuannya.
“Kami sangat berharap bahwa kawan-kawan sesama penyintas jangan insecure, jangan minder karena kita juga sama denga orang lain. Kayak lebih memotivasi anak thalasemia agar tetap semangat,” ujar Desi.
dr. Heru Noviat Herdata, dokter spesialis anak mengatakan saat ini penyandang thalasemia di Aceh terus bertambah, tahun ini jumlahnya sekitar 700 orang.
“Kita sudah registrasi untuk se-provinsi Aceh sekitar 700-an. Di Sentral Thalasemia RSUD Zainoel Abidin, kita merawat pasien thalasemia dari anak-anak hingga usia tua. Mulai dari kecil sampai dewasa. Karena kasus-kasus baru biasanya anak-anak, sebab jarang yang terdeteksi thalasemia pada saat sudah dewasa,” ucapnya.
dr. Heru menyampaikan ia sangat berharap bahwa dengan adanya Thalasemia Squad Aceh dapat memotivasi dan membimbing para penyintas thalasemia lainnya, sehingga mereka dapat memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan mereka.
“Thalasemia Squad Aceh ini adalah inisiatif mereka sendiri, sebenarnya kita punya Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia (POPTI) yang bertujuan memfasilitasi anak-anak thalasemia mendapat fasilitas yang cukup baik. Kemudian karena orang tua sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak bisa terlaksana, maka muncul lah Squad Thalasemia,” ucapnya.










