Rabu, April 22, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home INTERNASIONAL

China Tolak Tekanan Uni Eropa untuk Bersikap Tegas Kepada Rusia

Redaksi Oleh Redaksi
Sabtu (02/04/2022) - 14:29 WIB
in INTERNASIONAL
0
Presiden China Xi Jinping. China menolak tekanan dari Uni Eropa untuk mengambil sikap tegas terhadap Rusia.

China telah menawarkan jaminan perdamaian pada Ukraina dengan cara sendiri.

 BEIJING — China menolak tekanan dari Uni Eropa untuk mengambil sikap tegas terhadap Rusia. China juga telah menawarkan jaminan kepada Uni Eropa untuk mendukung perdamaian di Ukraina, dengan cara mereka sendiri.


Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) China-Uni Eropa, Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan kepada para pemimpin Uni Eropa bahwa, Beijing akan mendorong perdamaian dengan “caranya sendiri”. Sementara Presiden Xi Jinping berharap Uni Eropa akan mengambil pendekatan “independen”, terkait invasi Rusia di Ukraina. 


Xi mengatakan kepada para pemimpin Uni Eropa bahwa, akar penyebab krisis Ukraina adalah ketegangan keamanan regional di Eropa. Menurut Xi, solusinya adalah mengakomodasi masalah keamanan dari semua pihak terkait.


Sementara Li mengatakan, China selalu mengedepankan perdamaian dan mempromosikan negosiasi. China bersedia untuk memainkan peran konstruktif dengan komunitas internasional.


Dalam KTT yang digelar secara virtual, 


Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan, para pemimpin dari kedua belah pihak bertukar pandangan yang berlawanan pada banyak topik. Tetapi von der Leyen menyatakan harapan bahwa, China dapat menggunakan pengaruhnya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk meyakinkan Rusia menghentikan perang di Ukraina.


“Kami meminta China untuk membantu mengakhiri perang di Ukraina. China tidak bisa menutup mata terhadap pelanggaran Rusia terhadap hukum internasional. Setiap upaya untuk menghindari sanksi atau memberikan bantuan kepada Rusia akan memperpanjang perang,” kata Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, dilansir Aljazirah, Sabtu (2/4/2022).


China telah menjalin hubungan keamanan dan ekonomi yang lebih dekat dengan Rusia. China telah menolak untuk mengutuk operasi militer khusus Rusia di Ukraina. Beijing telah berulang kali mengkritik sanksi Barat yang ilegal dan sepihak terhadap Rusia. Beberapa minggu sebelum invasi 24 Februari, China dan Rusia mendeklarasikan kemitraan strategis “tanpa batas”.


Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian memperingatkan bahwa, China tidak menyetujui penyelesaian masalah melalui sanksi. China menentang sanksi sepihak dan yurisdiksi yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional.


“Beijing tidak akan dipaksa untuk memilih pihak atau mengadopsi pendekatan teman-atau-musuh yang sederhana. Kita harus menolak pemikiran Perang Dingin dan memblokir konfrontasi,” kata Zhao.


Zhao menggambarkan AS sebagai agresor. “Sebagai biang keladi dan penghasut utama krisis Ukraina, AS telah memimpin NATO untuk terlibat dalam lima putaran ekspansi ke arah timur dalam dua dekade terakhir setelah 1999,” katanya.


Zhao menambahkan bahwa, keanggotaan NATO meningkat hampir dua kali lipat dari 16 menjadi 30 negara. Hal ini mendorong Rusia ke tepi jurang.


China khawatir Uni Eropa mengambil isyarat dari AS dan mengadopsi garis yang lebih keras pada kebijakan luar negerinya.  Pada  2019, Uni Eropa tiba-tiba beralih dari bahasa diplomatik lunak menjadi menilai China sebagai saingan sistemik. 


Uni Eropa juga telah bergabung dengan AS dan Inggris dalam memberikan sanksi kepada pejabat China atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang dan tindakan keras di Hong Kong. Beijing telah membalas tindakan Uni Eropa dengan membekukan implementasi kesepakatan investasi UE-China yang sudah dinegosiasikan.


 

Sumber: Republika

Tags: chinainvasi rusiaperdamaian ukrainaukrainauni eropa
ShareTweetPin
Previous Post

Tangsel Izinkan Bukber, Larang Sahur di Jalan

Next Post

Yuk! Kenali Karakteristik Inovasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Pemkab Pulau Buru Kirim 2.000 Botol Minyak Kayu Putih untuk Korban Bencana Aceh

Pemkab Pulau Buru Kirim 2.000 Botol Minyak Kayu Putih untuk Korban Bencana Aceh

Selasa (21/04/2026) - 22:10 WIB
Fadhlullah bersama Menko PMK dan Mendagri Serahkan Bantuan Rumah Rusak Korban Bencana di Aceh Tamiang

Fadhlullah bersama Menko PMK dan Mendagri Serahkan Bantuan Rumah Rusak Korban Bencana di Aceh Tamiang

Selasa (21/04/2026) - 22:08 WIB
Kemenag Tegaskan Tidak Ada Kebijakan Uang Kas Masjid Dikelola Pemerintah

Kemenag Tegaskan Tidak Ada Kebijakan Uang Kas Masjid Dikelola Pemerintah

Selasa (21/04/2026) - 22:04 WIB
Polda Aceh Limpahkan Dua Berkas Korupsi Beasiswa BPSDM ke JPU

Polda Aceh Limpahkan Dua Berkas Korupsi Beasiswa BPSDM ke JPU

Selasa (21/04/2026) - 15:54 WIB
BSI Perkuat Transformasi Digital untuk Layanan Keuangan Syariah yang Aman dan Inklusif

BSI Perkuat Transformasi Digital untuk Layanan Keuangan Syariah yang Aman dan Inklusif

Selasa (21/04/2026) - 15:50 WIB
Komunitas Pasar Jadi Garda Terdepan, BBPOM Aceh Tingkatkan Kapasitas Pengawasan

Komunitas Pasar Jadi Garda Terdepan, BBPOM Aceh Tingkatkan Kapasitas Pengawasan

Selasa (21/04/2026) - 15:43 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.