Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat nilai impor Provinsi Aceh pada Juni 2026 sebesar 26,04 juta dolar Amerika Serikat (USD). Nilai tersebut mengalami penurunan signifikan sebesar 75,15 persen dibandingkan Mei 2026.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, nilai impor Aceh justru meningkat 23,01 persen dibandingkan Juni 2025.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengatakan penurunan impor secara bulanan terjadi di tengah masih dominannya impor komoditas energi ke Aceh.
“Nilai impor Provinsi Aceh pada Juni 2026 tercatat sebesar 26,04 juta USD. Angka ini turun 75,15 persen dibandingkan Mei 2026, namun secara tahunan masih meningkat 23,01 persen dibandingkan Juni 2025,” kata Agus, Selasa (4/8/2026).
Berdasarkan negara asal, Amerika Serikat menjadi pemasok impor terbesar ke Aceh pada Juni 2026 dengan nilai mencapai 21,63 juta USD. Komoditas yang didatangkan dari negara tersebut didominasi gas propana/butana.
Sementara itu, impor terbesar kedua berasal dari Jepang dengan nilai 4,02 juta USD, didominasi komoditas bahan kimia anorganik. Adapun posisi ketiga ditempati Thailand dengan nilai impor 0,39 juta USD, yang terdiri atas komoditas garam, belerang, dan kapur.
Agus menjelaskan, secara keseluruhan impor Aceh pada Juni 2026 masih didominasi gas propana/butana.
“Komoditas gas propana/butana memiliki nilai impor sebesar 21,63 juta USD atau sekitar 83,06 persen dari total nilai impor Aceh pada Juni 2026. Komoditas impor berikutnya adalah bahan kimia anorganik serta garam, belerang, dan kapur,” ujarnya.
Di sisi lain, nilai impor yang lebih rendah dibandingkan nilai ekspor membuat neraca perdagangan luar negeri Aceh pada Juni 2026 tetap mencatatkan surplus.
“Karena nilai impor lebih kecil dibandingkan nilai ekspor, neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada Juni 2026 mengalami surplus sebesar 59,27 juta USD,” kata Agus.
BPS Aceh juga mencatat, sepanjang periode Juni 2025 hingga Juni 2026, neraca perdagangan luar negeri Aceh hanya mengalami defisit pada Oktober 2025 dan Mei 2026, sedangkan pada bulan-bulan lainnya masih berada dalam kondisi surplus.[]









