Banda Aceh — Perjalanan Andriy Anta Kacaribu menuju gelar doktor menjadi kisah tentang ketekunan dalam menempuh pendidikan di tengah keterbatasan. Di usia 26 tahun, putra kelahiran 16 Juni 2000 itu berhasil menyelesaikan Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Program Percepatan Doktor (PRUUPD).
Pencapaian tersebut dikukuhkan melalui Sidang Promosi Doktor Sekolah Pascasarjana (SPs) USK yang berlangsung pada Rabu (23/9/2026).
Andriy mempertahankan disertasi berjudul “Biokonversi Anaerobik Limbah Pertanian Menggunakan Kultur Mikroba Campuran untuk Produksi Asam Organik.” Penelitian tersebut mengkaji pemanfaatan limbah pertanian melalui proses biokonversi anaerobik untuk menghasilkan asam organik bernilai tambah sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Dalam sidang tersebut, Andriy dibimbing Prof Darwin, Prof Yuliani Aisyah, dan Prof Febriani.
Sementara itu, tim penguji terdiri atas Prof Murna Muzaifa, Prof Irfan, dan Prof Tyas Utami, dari Universitas Gadjah Mada.
Sidang dipimpin Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan USK, Fairuzzabadi, dengan Direktur SPs USK, Prof Muslim Akmal, sebagai sekretaris.
Perjalanan akademik Andriy berlangsung cepat dan konsisten. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Kimia di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USK dengan IPK 3,67 dalam waktu sekitar 3,5 tahun. Pendidikan tersebut ditempuh dengan dukungan Beasiswa Bidikmisi.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Andriy melanjutkan studi S2 Teknologi Industri Pertanian di USK. Ia menyelesaikan pendidikan tersebut dalam waktu sekitar 1,4 tahun dengan IPK 4,00 serta memperoleh Beasiswa Program Riset Unggulan USK.
Pada 2023, Andriy melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor melalui Program Percepatan Doktor (PRUUPD).
Produktivitas riset juga menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya. Hingga kini, Andriy telah menghasilkan lebih dari 20 artikel ilmiah pada jurnal internasional bereputasi Q1, Q2, dan Q3, dengan H-index Scopus 6.
Selama penyusunan disertasi, ia juga menghasilkan 10 artikel pada jurnal internasional bereputasi tinggi. Penelitiannya mencakup sejumlah tema, antara lain limbah pertanian, palm oil mill effluent (POME), sustainable aviation fuel, serta material karbon berbasis biomassa.
Di balik pencapaian akademiknya, Andriy menjalani masa kecil dan pendidikan dengan berbagai keterbatasan.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, ia tumbuh di Subulussalam setelah orang tuanya berpisah ketika dirinya berusia delapan tahun. Dua tahun kemudian, ayahnya meninggal dunia.
Saat bersekolah di SMP Negeri 3 Sultan Daulat, Andriy terbiasa berjalan kaki lebih dari 10 kilometer setiap hari untuk pergi dan pulang sekolah. Di tengah keterbatasan tersebut, ia juga berjualan makanan ringan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup.
Keterbatasan ekonomi tidak menghalanginya untuk terus berprestasi. Sejak SD hingga SMA, Andriy konsisten meraih peringkat pertama di kelas.
Setelah lulus SMA pada 2018, ia diterima di USK melalui jalur SNMPTN dengan dukungan Beasiswa Bidikmisi. Dari sana, perjalanan akademiknya berkembang dari ruang kelas menuju laboratorium, publikasi ilmiah internasional, hingga akhirnya mencapai ruang sidang doktor.
Perjalanan Andriy memperlihatkan bagaimana kesempatan memperoleh pendidikan, ketekunan, dan kerja keras dapat membuka jalan menuju pencapaian akademik, meskipun harus melewati berbagai keterbatasan.
Gelar doktor yang diraihnya pada usia 26 tahun kini menjadi awal dari perjalanan baru untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, melanjutkan riset, serta memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.[]








