Banda Aceh – Pemerintah Aceh bersama Universitas Syiah Kuala (USK) mengkaji pemanfaatan lumpur dan pasir hasil sedimentasi pascabencana hidrometeorologi sebagai bahan baku bata ringan yang dikembangkan dengan nama Aceh Brick.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menyambut positif inovasi Tim Riset USK tersebut. Menurutnya, pemanfaatan material pascabencana menjadi produk konstruksi dapat memberikan manfaat bagi percepatan pemulihan Aceh.
“Sangat positif. Pemerintah Aceh sangat mendukung,” kata Gubernur Mualem sebagaimana disampaikan Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Kamis (13/8/2026).
“Gubernur Mualem sangat mengharapkan hasil penelitian USK bernilai manfaat bagi Aceh,” lanjut Nurlis.
Menurut Nurlis, Gubernur Mualem menilai inovasi tersebut menjadi peluang untuk mengubah material yang selama ini menjadi persoalan lingkungan menjadi produk konstruksi yang memiliki nilai guna dan ekonomi.
“Pemerintah Aceh melihat inovasi ini sejalan dengan kebutuhan percepatan pemulihan pascabencana di Aceh,” ujarnya.
Perhatian Gubernur tersebut kemudian mendorong Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M Nasir Syamaun menggerakkan jajaran Pemerintah Aceh untuk memfasilitasi Tim USK dalam mengembangkan penelitian tersebut.
Pembahasan khusus mengenai inovasi itu digelar di Ruang Potda II Kantor Gubernur Aceh, Selasa (11/8/2026). Rapat tersebut membahas pemanfaatan lumpur dan pasir hasil sedimentasi bencana hidrometeorologi sebagai bahan baku bata ringan Aceh Brick untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Poinnya adalah pemanfaatan lumpur dan pasir hasil sedimentasi bencana hidrometeorologi sebagai bahan baku bata ringan Aceh Brick untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana,” kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Teuku Robby Izra, yang memimpin rapat.
Dalam rapat tersebut, Tim Riset USK sekaligus ahli beton ringan, Prof Dr Ir Abdullah, menjelaskan bahwa bata ringan memiliki keunggulan dari sisi bobot yang lebih ringan sehingga berpotensi digunakan untuk pembangunan infrastruktur di wilayah yang sulit dijangkau.
Abdullah mengatakan, material yang ringan juga memudahkan proses pengangkutan ke wilayah pelosok. Salah satu potensi pemanfaatannya, kata dia, adalah untuk jaringan irigasi dan infrastruktur pendukung lainnya.
“Pemanfaatan lumpur dan pasir juga berpotensi menjaga ekosistem karena dapat mengurangi kebutuhan pengambilan tanah liat dari alam sebagai bahan baku batu bata,” kata Guru Besar USK tersebut.
Kepala Balai Jasa Konstruksi Wilayah Aceh (Balai Jakon), Indra Suhada, turut menyambut baik usulan pemanfaatan lumpur dan pasir menjadi bata ringan Aceh Brick.
“Produk ini berpotensi dikembangkan sebagai material alternatif untuk mendukung pembangunan infrastruktur rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, dengan tetap memperhatikan persyaratan teknis dan standar yang berlaku,” kata Indra.
Ia menambahkan, Balai Jakon menyiapkan dukungan melalui kegiatan pembinaan, percontohan, dan pelatihan bagi kelompok masyarakat dalam memproduksi bata ringan.
Sementara itu, Pemerintah Aceh menekankan bahwa pemanfaatan material bencana harus didasarkan pada hasil uji teknis dan kelayakan material. Hal tersebut diperlukan karena setiap lokasi memiliki karakteristik sedimen yang dapat berbeda.
“Sebab, setiap lokasi memiliki karakteristik sedimen yang dapat berbeda, sehingga perlu dilakukan penilaian untuk memastikan material yang digunakan memenuhi persyaratan teknis,” ujar Robby.
Robby mengatakan, USK dan Balai Jakon selanjutnya akan melakukan penilaian bersama terhadap peluang kerja sama serta transfer ilmu pengetahuan dan teknologi pengolahan bata ringan.
Tindak lanjut pembahasan tersebut meliputi penilaian teknis dan peluang kerja sama, penyiapan model produksi yang dapat diterapkan kelompok masyarakat, pembinaan dan pelatihan masyarakat terdampak, penyiapan lokasi percontohan, pengkajian pemanfaatan Aceh Brick sebagai material rehabilitasi dan rekonstruksi, serta pengembangan pemanfaatannya dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) 2026–2028.
Pemerintah Aceh menilai pengembangan Aceh Brick memiliki sejumlah manfaat strategis, antara lain mempercepat pembersihan lumpur dan pasir atau sedimen pascabencana, menghasilkan material alternatif untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, serta menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Dengan demikian, pemanfaatan material bencana tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pendekatan pemulihan yang berbasis ekonomi masyarakat dan berkelanjutan.
Meski demikian, Aceh Brick belum dapat langsung digunakan secara luas dalam pekerjaan pemerintah. Produk tersebut perlu melalui tahapan uji mutu, pengujian lapangan, pemenuhan standar teknis, dan pembuktian kinerja agar penggunaannya aman serta dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita ingin mengubah material yang sebelumnya menjadi persoalan bencana menjadi sumber solusi. Lumpur dibersihkan, diolah menjadi material bangunan, masyarakat mendapatkan pekerjaan, dan hasilnya dapat kembali dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan Aceh,” kata Robby.[]








