Banda Aceh – Di tengah kebijakan work from home (WFH) yang diberlakukan Pemerintah Aceh, Ketua Umum Blood For Life Foundation (BFLF) Indonesia, Michael Octaviano, mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) memanfaatkan waktu bekerja dari rumah dengan kegiatan sosial, salah satunya mendonorkan darah.
Ajakan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya kebutuhan darah di rumah sakit, terutama pasca Ramadhan dan Idul Fitri, di tengah menurunnya jumlah pendonor.
“Tetes darah kita adalah penolong bagi nyawa-nyawa yang membutuhkan. Darah tidak bisa dibeli, hanya bisa didapat dari kepedulian sesama,” kata Michael usai mengikuti kegiatan donor darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Banda Aceh, Jumat (10/4/2026).
Menurut Michael, kebutuhan darah saat ini cukup tinggi, khususnya bagi penyintas talasemia serta pasien penyakit kronis yang menjalani perawatan dan operasi di sejumlah rumah sakit di Banda Aceh.
Ia menilai, momentum WFH seharusnya dapat dimanfaatkan ASN untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat. Ajakan tersebut tidak hanya ditujukan bagi ASN di Banda Aceh, tetapi juga di seluruh kabupaten/kota di Aceh untuk mendonorkan darah di unit donor darah PMI terdekat.
“Ayo sambil WFH, sambil mendonorkan darah untuk kesehatan dan keberkahan,” ujarnya.
Sebelumnya, Pemerintah Aceh melalui Gubernur Muzakir Manaf telah menerapkan kebijakan WFH bagi ASN sebagai bagian dari penyesuaian aktivitas kerja dan peningkatan efisiensi. Michael berharap kebijakan tersebut juga membuka ruang bagi ASN untuk terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Donor darah juga bagian dari bakti kita kepada masyarakat, karena setetes darah yang kita berikan bisa menjadi harapan hidup bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit,” kata dia.
Sementara itu, kondisi stok darah di Banda Aceh dilaporkan menipis. Ketua PMI Kota Banda Aceh, Muhammad Haeqal Asri, menyampaikan bahwa permintaan darah terus meningkat, sementara jumlah pendonor mengalami penurunan signifikan, terutama setelah periode Ramadhan dan Idul Fitri.
“Stok darah di PMI Kota Banda Aceh mengalami penurunan pascalebaran seiring belum pulihnya aktivitas masyarakat dan meningkatnya kebutuhan dari rumah sakit. Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan antara jumlah permintaan dan ketersediaan darah,” ujar Haeqal.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat kebutuhan darah di berbagai rumah sakit semakin mendesak, khususnya bagi pasien yang bergantung pada transfusi darah secara berkala.
PMI pun mengimbau masyarakat untuk rutin mendonorkan darah guna menjaga ketersediaan stok. Kolaborasi antara kebijakan WFH dan kepedulian sosial ASN serta masyarakat diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan darah dan menyelamatkan lebih banyak nyawa di Aceh.[]










