Pidie Jaya – Warga terdampak banjir di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, menjalani salat tarawih perdana Ramadan 1447 Hijriah di meunasah (musala) darurat, Rabu (18/2/2026) malam.
Meunasah darurat tersebut dibangun setelah meunasah sebelumnya tidak lagi dapat digunakan akibat terdampak banjir yang melanda kawasan itu akhir November 2025 lalu.
Wakil Imam Meunasah Manyang Cut, Jailani Harun, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas pembangunan fasilitas darurat tersebut sehingga masyarakat tetap dapat melaksanakan ibadah di malam pertama Ramadan.
“Ini malam tarawih pertama, saya terima kasih banyak karena sudah dibangun meunasah darurat ini. Dengan adanya meunasah darurat ini, malam pertama inilah kita bisa salat tarawih,” kata Jailani.
Ia menjelaskan, bangunan meunasah lama mengalami kerusakan cukup parah setelah diterjang banjir sehingga tidak memungkinkan lagi digunakan untuk kegiatan ibadah maupun aktivitas keagamaan lainnya.
“Meunasah sebelumnya tidak bisa dipakai lagi karena ada banjir,” katanya.
Menurut Jailani, suasana Ramadan tahun ini dirasakan berbeda oleh warga setempat. Selain masih dalam suasana duka akibat musibah, masyarakat juga harus beradaptasi dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada.
“Ramadan kali ini tentu sangat berbeda. Ini keadaan sangat duka musibah, tapi terpaksa kami salat di meunasah darurat,” ungkapnya.
Meski dalam kondisi terbatas, antusiasme warga untuk menunaikan ibadah tetap tinggi. Meunasah darurat tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 50 jamaah untuk pelaksanaan salat berjemaah.
Warga berharap, selain proses pemulihan pascabanjir terus berjalan, pembangunan kembali meunasah permanen dapat segera direalisasikan agar aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat dapat kembali normal seperti sediakala.[]










