Jumat, Juni 5, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Suka Duka Petani Padi di Aceh Besar

Redaksi Oleh Redaksi
Rabu (07/02/2024) - 16:19 WIB
in DAERAH, FOTO
0
Petani padi Aceh Besar

Petani menyusuri sawahnya menjelang petang di desa Lambaet, Aceh Besar. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)

Banda Aceh- Mak Nek menggunakan topi jerami tanda bersiap menuju lahan yang digarap, dengan mengenakan sendal jepit yang telah usang, ia menyusuri jalan menuju sawah yang tak jauh dari rumahnya.

Mak Nek sudah tidak muda, umurnya kini menginjak 60 tahun. Idealnya sekarang dia sedang menikmati hasil dari jerih payah masa mudanya, namun apalah daya baginya yang harus mencukupi kebutuhan keluarga.

Mak Nek tinggal di Desa Lambaet, Aceh Besar. Di rumahnya dia hidup seorang diri, suaminya telah lama meninggal dunia dan anak-anaknya bersekolah di luar kota.

“Sistem gotong royong, saya sendiri tidak sanggup menggarap sawah. Jadi bantu-bantu petani lain juga,” ungkapnya seraya menunjuk batas persawahan yang digarapnya. Ia menjelaskan sistem bertani di desanya.

Mak Nek terbilang cukup beruntung menggarap sawah yang berada dekat dengan irigasi, namun ada kalanya dia menjadi risau saat hujan tiba. Saat musim penghujan dan bertepatan dengan masa tanam padi, air yang terlalu banyak dari irigasi itu kerap meluap menjadi banjir, momok yang menakutkan baginya.

“Seperti hujan deras akhir tahun lalu yang berakibat banjir, bertepatan pula dengan masa tanam padi sehingga merusak padi bahkan gagal tanam,”  ujar Mak Nek perihal nasibnya yang untung-untungan dalam bertani akibat beberapa aliran irigasi yang macet dan pengairan yang tidak merata.

petani padi aceh besar
Mak Nek (60) petani padi di Aceh Besar sedang memanen padi di sawah miliknya. (Charil Aqsha/Lensakita.com)

Di musim kemarau permasalahan lain muncul, yakni kekeringan pada lahan persawahan atau pengairannya. Walau sawah Mak Nek hanya berjarak lima meter dari irigasi dia mengaku sering gagal panen akibat hal tersebut.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh tahun 2022 produktivitas padi di Aceh Besar berkisar 56.6 ton. Angka tersebut turun dari tahun sebelumnya yaitu 57,35 ton. Menurut BPS, penurunan terjadi akibat fenomena El-Nino yang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia.

Di Aceh besar, lahan pertanian membentang luas namun acap kali digarap dengan sistem tenaga upah. Pemilik sawah biasa menyewa orang lain untuk mengelola lahan miliknya dengan sistem bagi hasil.

Salah satunya adalah Maria. Maria adalah petani yang berkerja di sawah milik tetangganya, dalam setahun biasanya dia memanen gabah sebanyak dua kali dengan rata-rata pendapatan 0,8 ton.

Padi yang terserang penyakit tidak memiliki bulir beras, salah satu penyebabnya adalah kekurangan nutrisi dan air. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)
Padi yang terserang penyakit tidak memiliki bulir beras, salah satu penyebabnya adalah kekurangan nutrisi dan air. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)

Namun di tiga tahun terakhir dia mengalami gagal panen akibat luapan air dari irigasi, tidak ada drainase yang baik di dekat lahannya.

“Sudah tiga tahun terakhir saya gagal menanam padi, setelah disemai dan baru berukuran enam sentimeter dan dipindah media tanam air menggenangi sawah dan mengakibatkan padi tidak bisa tumbuh dengan baik,” ungkap Maria dengan mata berkaca-kaca.

Retakan tanah di sawah akibat kekeringan dan terhambatnya pasokan air dari irigasi. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)
Retakan tanah di sawah akibat kekeringan dan terhambatnya pasokan air dari irigasi. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)

Maria mencari pendapatan lain dengan menjadi buruh setrika dan mengurus anak tetangga. Pendapatannya menurun dan mengalami kesulitan ekonomi akibat gagal tanam.

“Masyarakat sekitar dapat bantuan dari pemerintah untuk bibit padi, namun jika permasalahan pengairan sawah belum bisa diatasi maka tidak ada gunanya,” ungkap Maria.

Ia mengkritik permasalahan irigasi di desa Lambaet, Aceh Besar. Menurut Maria, bukan hanya dirinya yang merasakan hal tersebut, banyak masyarakat di Desa Lambaet yang sudah beralih profesi. Tidak menutup kemungkinan kaum muda tidak tertarik untuk meneruskan pekerjaan bertani.

Haikal sedang memotong padi yang siap panen. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)
Haikal sedang memotong padi yang siap panen. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)

Seorang pemuda yang berkerja sebagai petani, Haikal (24), telah bekerja selama lima tahun di lahan persawahan milik orang lain. Pendapatan haikal pada masa panen gabah berkisar RP400 ribu hingga RP900 ribu.

“Saat masa panen sehari paling banyak 900 ribu,” ujar Haikal.

Menurut pria kelahiran Kota Sabang itu, bertani merupakan pekerjaan sampingannya dalam menunggu panggilan kerja. Dia tamat dari bangku sekolah pada 2017 lalu dan tak kunjung mendapat pekerjaan di tempat lain.

“Kalau tidak terpaksa saya lebih memilih kerja di tempat lain apabila upahnya bisa memenuhi kebutuhan,” ujar Haikal.

Haikal merasa bertani bukanlah keahliannya. Seperti layaknya pemuda seumurannya, dia mendambakan pekerjaan lain yang menurutnya lebih menjanjikan. Terlebih dia perantau yang harus menghidupi keluarganya di kampung. (Chairil Aqsha/ Lensakita.com)

Salah satu irigasi yang mengairi sawah di desa Lambaet, Aceh Besar. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)
Salah satu irigasi yang mengairi sawah di desa Lambaet, Aceh Besar. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)
Benih padi yang telah berbentuk kecambah. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)
Benih padi yang telah berbentuk kecambah. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)
Sampah plastik di persawahan. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)
Sampah plastik di persawahan. (Chairil Aqsha/Lensakita.com)
Tags: acehbesarpadipetani
ShareTweetPin
Previous Post

KKP Gandeng USK Perkuat Ekonomi Biru

Next Post

Pemko Sabang Mulai Salurkan Beras Bantuan Pangan CBP

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

4 Hari Hilang di Gunung Seulawah, Pendaki Asal Aceh Utara Ditemukan Selamat

4 Hari Hilang di Gunung Seulawah, Pendaki Asal Aceh Utara Ditemukan Selamat

Jumat (05/06/2026) - 21:51 WIB
Lantik 24 Pejabat, Wali Kota Sabang Tekankan Kerja Ikhlas dan Disiplin

Lantik 24 Pejabat, Wali Kota Sabang Tekankan Kerja Ikhlas dan Disiplin

Jumat (05/06/2026) - 21:47 WIB
Bupati Aceh Tamiang Bakal Kerahkan Camat dan Kades Bantu Pemulangan Warga Binaan

Bupati Aceh Tamiang Bakal Kerahkan Camat dan Kades Bantu Pemulangan Warga Binaan

Jumat (05/06/2026) - 16:51 WIB
SEMA FAH UIN Ar-Raniry Gelar Upgrading dan Raker

SEMA FAH UIN Ar-Raniry Gelar Upgrading dan Raker

Jumat (05/06/2026) - 16:18 WIB
Kurir Dijanjikan Upah Puluhan Juta, Penyelundupan 4 Kg Sabu Digagalkan di Bandara SIM

Kurir Dijanjikan Upah Puluhan Juta, Penyelundupan 4 Kg Sabu Digagalkan di Bandara SIM

Jumat (05/06/2026) - 16:15 WIB
Basarnas Kerahkan Drone dan K-9 Cari Pendaki Hilang di Gunung Seulawah

Basarnas Kerahkan Drone dan K-9 Cari Pendaki Hilang di Gunung Seulawah

Kamis (04/06/2026) - 21:29 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.