Jumat, September 4, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home INTERNASIONAL

Rusia Didesak untuk Berhenti Menggunakan Ranjau Darat di Ukraina

Redaksi Oleh Redaksi
Selasa (05/04/2022) - 13:20 WIB
in INTERNASIONAL
0
Mayat seorang pria tergeletak di pinggir jalan di Bucha, di pinggiran Kyiv, Ukraina, Senin, 4 April 2022. Duta Besar Kolombia untuk PBB, Alicia Arango Olmos, pada Senin (4/4/2022) mendesak Rusia untuk menghentikan penggunaan ranjau darat dalam invasi di Ukraina.

Penggunaan ranjau darat dapat membunuh dan melukai warga sipil.

 JENEWA — Duta Besar Kolombia untuk PBB, Alicia Arango Olmos, pada Senin (4/4/2022) mendesak Rusia untuk menghentikan penggunaan ranjau darat dalam invasi di Ukraina. Menurut Arango Olmos penggunaan ranjau darat dapat membunuh dan melukai warga sipil.


Arango Olmos mengungkapkan keprihatinan mendalam atas laporan media bahwa, Rusia menggunakan ranjau darat dalam perangnya di Ukraina. Dia mengutip laporan Human Rights Watch pada 29 Maret yang mengatakan, teknisi penjinak bom Ukraina menemukan ranjau anti-personil terlarang di wilayah Kharkiv. Kelompok hak asasi itu mengatakan, Rusia diketahui memiliki jenis ranjau anti-personil. Sementara Ukraina tidak memiliki jenis ranjau tersebut.


Arango Olmos mengatakan, Ukraina adalah salah satu dari 164 negara yang menyepakati konvensi 1997. Konvesi ini melarang produksi dan penggunaan ranjau darat. Sementara Rusia tidak tergabung dalam konvesi itu.


“Ranjau anti-personil dapat menyebabkan korban, mereka tidak menyelesaikan masalah apa pun. Jadi tolong, Rusia, tolong berhenti menggunakannya, karena banyak orang yang menjadi korban ranjau darat tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi antara Ukraina dan Rusia,” kata Arango Olmos.


Pangeran Mired bin Ra’ad dari Yordania mengatakan, sekitar 80 persen negara di dunia adalah pihak dalam konvensi 1997.  Dia mengatakan, 33 negara belum bergabung dalam konvesi tersebut. Mereka yang belum bergabung di antaranya mungkin secara kolektif menyimpan puluhan juta ranjau anti-personil di gudang militer, dan telah mengubur jutaan lainnya di dalam tanah.


Pangeran Mired mengatakan, beberapa negara memiliki kekuatan untuk secara signifikan mengubah arus dan menghilangkan senjata ranjau darat ini seperti China, India, Pakistan, Rusia dan Amerika Serikat.


“Diperlukan upaya yang terkoordinasi dan terpadu di tingkat tertinggi untuk mencapai aksesi lebih lanjut. Ini tidak akan mudah, tapi itu mungkin terjadi,” kata Pangeran Mired.


Sebelumnya Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan kepada rakyatnya untuk berhati-hati dengan ranjau Rusia. Zelenskyy mengatakan, pasukan Rusia meninggalkan ranjau di seluruh wilayah, termasuk di sekitar rumah ketika menarik diri. 


“Mereka meletakkan ranjau di seluruh wilayah. Mereka menaruh ranjau di rumah, peralatan pertambangan, bahkan jasad orang-orang yang terbunuh. Ada banyak kabel trip, dan banyak bahaya lainnya,” ujar Zelenskyy. 


Zelenskyy mendesak warga untuk menunggu sampai ranjau dibersihkan dan bahaya penembakan telah berlalu. Pasukan Rusia telah menarik diri dari sejumlah wilayah di Ukraina. Pasukan Ukraina memanfaatkan mundurnya pasukan Rusia dengan melakukan serangan balik, serta merebut kembali sejumlah kota dan desa.


Ukraina dan sekutunya memperingatkan bahwa, mundurnya pasukan Rusia bukan tidak mengurangi eskalasi. Namun mereka sedang menyusun strategi dan memindahkan pasukannya ke timur Ukraina. Gerakan-gerakan Rusia itu tampaknya merupakan persiapan untuk serangan intensif di wilayah Donbas. Zelenskyy memperingatkan pertempuran ke depannya akan sulit.


“Kami sedang mempersiapkan pertahanan yang lebih aktif lagi,” ujar Zelenskyy.

sumber : AP

Sumber: Republika

Tags: buchainvasi rusiakota buchapembantaian buchapenggunaan ranjau daratpenjinak bomranjau daratukraina
ShareTweetPin
Previous Post

Anggota DPR: Kebijakan BLT Minyak Goreng tak Bisa Tutupi Kegagalan Manajemen Pangan

Next Post

Kemensos: BLT Minyak Goreng Rp 300 Ribu Disalurkan Pertengahan April

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

BPMA dan TNI AD Perkuat Sinergi untuk Keberlanjutan Hulu Migas Aceh

BPMA dan TNI AD Perkuat Sinergi untuk Keberlanjutan Hulu Migas Aceh

Jumat (04/09/2026) - 12:41 WIB
Polisi Ungkap Kasus Penggelapan Mobil di Banda Aceh, Satu Tersangka Diamankan

Polisi Ungkap Kasus Penggelapan Mobil di Banda Aceh, Satu Tersangka Diamankan

Kamis (03/09/2026) - 15:38 WIB
Guru PAI Aceh Besar Dibekali Keterampilan AI sebagai Tools Pembelajaran

Guru PAI Aceh Besar Dibekali Keterampilan AI sebagai Tools Pembelajaran

Kamis (03/09/2026) - 15:30 WIB
Wakili Aceh, Tangke Tampil di Lake Toba Traditional Music Festival

Wakili Aceh, Tangke Tampil di Lake Toba Traditional Music Festival

Kamis (03/09/2026) - 15:26 WIB
Pendaftaran Kedokteran UIN Ar-Raniry Dibuka, UKT Rp37,5 Juta per Semester

Pendaftaran Kedokteran UIN Ar-Raniry Dibuka, UKT Rp37,5 Juta per Semester

Rabu (02/09/2026) - 21:17 WIB
Bawa 600 Liter Solar Subsidi, Dua Pria Ditangkap Polresta Banda Aceh

Bawa 600 Liter Solar Subsidi, Dua Pria Ditangkap Polresta Banda Aceh

Rabu (02/09/2026) - 21:00 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.