Pidie – Ketika banjir melanda sejumlah wilayah di Aceh, yang hanyut bukan hanya jalan dan permukiman. Di banyak sekolah, ruang belajar yang selama ini menjadi tempat anak-anak menimba ilmu ikut terdampak.
Atap bocor, plafon rusak, lantai retak, hingga fasilitas sanitasi yang tidak lagi layak menjadi pemandangan yang harus dihadapi siswa setiap hari.
Di SD Negeri 3 Teupin Raya, kondisi itu masih membekas dalam ingatan Tazkiya Zahurah. Ia mengingat bagaimana suasana belajar terasa jauh dari nyaman. “Dulu plafonnya rusak, banyak kotoran kelelawar yang berbau, jendela pecah, lantai retak, dan toiletnya terbatas. Kami kurang nyaman belajar,” kenangnya.
Kondisi serupa juga dialami Khayla Syakira, murid SMP Negeri 1 Mila. Saat hujan turun, kebocoran atap dan kerusakan bangunan menjadi tantangan tersendiri dalam mengikuti pelajaran. “Sebelumnya atap bocor, jendela pecah, dinding dan lantai retak, serta kamar mandi kurang memadai,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bergerak bersama Pemerintah Aceh dan TNI melakukan revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi sekolah-sekolah terdampak bencana.
Hingga kini, tercatat 3.120 sekolah terdampak bencana di Aceh. Dari jumlah itu, 2.920 sekolah telah masuk dalam penanganan, sementara 188 sekolah mengalami kerusakan berat dan 63 sekolah harus direlokasi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa percepatan pembangunan dilakukan agar anak-anak Aceh dapat segera kembali belajar di ruang kelas yang layak.
“Kami menargetkan pada tahun ajaran baru 2026/2027 sebagian besar sekolah sudah selesai dibangun. Untuk sekolah yang lokasinya masih dapat digunakan, sebagian besar sudah dibangun dan bahkan ada yang telah selesai dikerjakan,” ujar Abdul Mu’ti.
Selama proses pembangunan berlangsung, pemerintah juga menyediakan ruang kelas darurat agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti. “Proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi harus diselesaikan secepatnya sehingga anak-anak Aceh dapat kembali belajar sebagaimana mestinya di sekolah,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menegaskan bahwa penggunaan kelas darurat bukan berarti sekolah-sekolah tersebut tidak ditangani. “Supaya proses pembelajaran tetap terjadi, kami melakukan langkah-langkah darurat bagi sekolah yang bangunannya tidak dapat digunakan. Jadi, bukan berarti tidak ada intervensi pemerintah,” ujarnya.
Kini, hasil revitalisasi mulai terlihat. Di SMKN 3 Sigli, adanya Ruang Praktik Siswa (RPS) telah mengubah pengalaman belajar siswa. Sekolah tersebut menerima bantuan revitalisasi sebesar Rp2,6 miliar pada 2025 dan kembali memperoleh bantuan Rp1,6 miliar pada 2026.
“Kami sangat bersyukur atas program revitalisasi ini. Sarana dan prasarana yang dibangun sangat mendukung proses pembelajaran sehingga murid lebih nyaman belajar,” kata Kepala SMKN 3 Sigli, Iskandar.
Di Aceh sendiri, jurusan TKPI hanya ada di tiga sekolah yaitu SMKN 3 Sigli, Kabupaten Pidie; SMK Negeri 1 Jeunieb, Kabupaten Bireun; SMKN 4 Langsa, Kota Langsa. Salah satu menu revitalisasi yang diperoleh SMKN 3 Sigli yakni RPS, menurut Iskandar, RPS menjadi fasilitas yang paling dirasakan manfaatnya khususnya bagi Jurusan Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI). Jurusan ini adalah program keahlian yang mempersiapkan siswa untuk menjadi profesional di bidang mesin kapal perikanan dan teknologi perikanan.
Ketua Jurusan TKPI di SMKN 3 Sigli, Safrina mengatakan, “Keberadaan fasilitas praktik sangat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan di bidang permesinan kapal, sehingga mereka memiliki bekal yang lebih baik untuk memasuki dunia kerja.”
“Alhamdulillah, pada tahun 2025 kami mendapatkan bantuan berupa trainer praktik. Nah, itu bisa mempercepat proses belajar mengajar karena kami dapat langsung menunjukkan kepada siswa bagaimana peralatan yang digunakan di industri dan perkapalan,” imbuhnya.
Fairuz, murid SMKN 3 Sigli juga mengatakan, “Dengan adanya gedung baru, kami jadi lebih enak belajar karena tidak banyak debu lagi dan ruangannya lebih luas,” kata murid kelas XI Jurusan TKPI ini.
Perubahan positif juga dirasakan langsung oleh Cut Indah Sari. “Pembangunan gedung ini membuat kami memiliki harapan dan peluang yang lebih besar untuk masa depan. Dengan fasilitas yang lebih baik, kami semakin semangat belajar dan meningkatkan keterampilan,” tuturnya yang juga murid SMKN 3 Sigli.
Sementara itu, Khayla kini dapat belajar di ruang kelas yang lebih aman dan nyaman. Bahkan sekolahnya telah memiliki musala baru. “Setelah direnovasi, ruang belajar kami jauh lebih baik. Kami juga sudah memiliki musala dan dapat melaksanakan salat Zuhur berjamaah setiap hari,” katanya.
Bagi anak-anak Aceh, revitalisasi sekolah menjadi simbol bangkitnya harapan bahwa setelah bencana berlalu, masa depan tetap bisa dibangun dari ruang kelas yang kembali berdiri kokoh.[]










