Selasa, September 8, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home INTERNASIONAL

Mimpi Pemetik Teh Hancur Akibat Krisis Ekonomi Sri Lanka

Redaksi Oleh Redaksi
Jumat (06/05/2022) - 03:04 WIB
in INTERNASIONAL
0
Pemetik teh (ilustrasi). Industri teh yang mendukung ratusan ribu orang menderita akibat keputusan pemerintah Sri Lanka yang melarang pupuk kimia. Produksi teh kuartal pertama turun 15 persen pada tahun ini ke level terendah sejak 2009.

Bayaran yang didapat pemetik teh di tengah krisis tak mencukupi untuk sehari-hari.

 BOGAWANTALAWA — Perkebunan yang rimbun di Sri Lanka, Arulappan Ideijody cekatan memetik ujung setiap semak teh, melemparkannya ke atas bahu masuk dalam keranjang terbuka di punggungnya. Setelah sebulan memetik lebih dari 18 kg daun teh seperti itu setiap hari, dia dan suaminya, sesama pemetik daun teh Michael Colin hanya menerima menerima sekitar 30.000 rupee atau 80 dolar AS.


“Uang itu tidak dekat dengan kata cukup,” kata Arulappan tentang penghasilan pasangan pemetik teh itu yang harus menghidupi tiga anak dan ibu mertuanya yang sudah lanjut usia.


“Dulu kami makan dua jenis sayuran, sekarang kami hanya mampu membeli satu,” ujarnya.


Perempuan berusia 42 tahun ini adalah satu dari jutaan warga Sri Lanka yang terhuyung-huyung dari krisis ekonomi terburuk di pulau itu dalam beberapa dasawarsa. Pandemi Covid-19 memutuskan jalur kehidupan pariwisata negara Samudra Hindia yang sudah kekurangan pendapatan setelah pemotongan pajak yang tajam oleh pemerintah.


Pekerja perkebunan seperti Arulappan, yang sebagian besar berasal dari minoritas Tamil di pulau itu, terkena dampak lebih dari kebanyakan warga Sri Lanka lainnya. Mereka tidak memiliki tanah untuk menahan kenaikan harga pangan.

Sri Lanka pernah mencapai PDB dua kali lipat hampir dua kali lipat dari negara tetangga India pada 2020. Hasil tersebut didukung oleh industri pariwisata yang berkembang pesat dan ekspor barang-barang seperti garmen dan produk perkebunan seperti teh, karet, dan kayu manis.


Arulappan meninggalkan sekolah pada usia 14 tahun dan bekerja di pabrik garmen sebelum menikah dan pindah ke perkebunan di Bogawantalawa, sebuah lembah di dataran tinggi tengah yang terkenal dengan tehnya yang enak. Dia harus berkendara sekitar empat jam ke timur Kolombo, ibu kota komersial.


Jam kerja yang fleksibel memungkinkan Arulappan untuk merawat anak-anaknya dan memulai usaha kecil menjual sayuran kepada pekerja lain secara kredit. Namun, pandemi adalah kemunduran bagi keluarganya dan negara, menutup ekonomi selama berbulan-bulan dan memotong sektor pariwisata yang menjadi penghasil utama devisa.


“Ada hari-hari di mana kami hanya makan nasi,” kata Arulappan.


Industri teh yang mendukung ratusan ribu orang juga menderita akibat keputusan pemerintah yang kontroversial tahun lalu. Sri Lanka melarang pupuk kimia sebagai tindakan kesehatan. Meskipun kemudian dibatalkan, larangan tersebut membuat pasokan pupuk menjadi terbatas.


Produksi teh kuartal pertama turun 15 persen pada tahun ini ke level terendah sejak 2009. Dewan Teh Sri Lanka mengatakan cuaca kering telah memakan korban semak-semak yang menerima pupuk yang tidak mencukupi setelah larangan tersebut.


 

sumber : Reuters

Sumber: Republika

Tags: buruh tanikrisis ekonomikrisis ekonomi sri lankakrisis sri lankapemetik tehpetanisri lankateh
ShareTweetPin
Previous Post

Sowan Prabowo ke Kiai Jatim, Pengamat: Bisa Buka Tingkat Keterpilihan

Next Post

Kapolri: 435 Ribu Orang Masuk ke Bali Sejak Libur Lebaran 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Pemprov Aceh Pacu Aturan Payung Hukum Rute Kapal Krueng Geukueh–Penang  ‎

Pemprov Aceh Pacu Aturan Payung Hukum Rute Kapal Krueng Geukueh–Penang ‎

Senin (07/09/2026) - 22:08 WIB
BPMA Percepat Legalisasi Sumur Minyak Masyarakat di Bireuen dan Aceh Timur

BPMA Percepat Legalisasi Sumur Minyak Masyarakat di Bireuen dan Aceh Timur

Senin (07/09/2026) - 22:05 WIB
Medco Susah Payah Kalahkan Editor FC di Laga Final Migas Cup 2026

Medco Susah Payah Kalahkan Editor FC di Laga Final Migas Cup 2026

Sabtu (05/09/2026) - 20:32 WIB
Pidie Jadi Pilot Project, 95 Hektare Sawah Rusak Berat Ditargetkan Rampung 30 Hari

Pidie Jadi Pilot Project, 95 Hektare Sawah Rusak Berat Ditargetkan Rampung 30 Hari

Sabtu (05/09/2026) - 10:45 WIB
BPMA Gelar Migas Cup 2026, Bangun Kebersamaan Lintas Industri dan Media

BPMA Gelar Migas Cup 2026, Bangun Kebersamaan Lintas Industri dan Media

Jumat (04/09/2026) - 21:47 WIB
BPMA dan TNI AD Perkuat Sinergi untuk Keberlanjutan Hulu Migas Aceh

BPMA dan TNI AD Perkuat Sinergi untuk Keberlanjutan Hulu Migas Aceh

Jumat (04/09/2026) - 12:41 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.