Selasa, Juni 2, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Mengapa Ikan Baronang Dijuluki Ikan Kelinci?

Redaksi Oleh Redaksi
Jumat (27/12/2024) - 13:20 WIB
in DAERAH
0
Mengapa Ikan Baronang Dijuluki Ikan Kelinci?

#image_title

 

  • Bagi kalangan dunia internasional, ikan baronang yang terkenal di wilayah perairan Indonesia disebut juga rabbitfish atau ikan kelinci.
  • Nama ini merujuk pada mulutnya yang kecil menyerupai paruh kelinci, memakan tumbuhan laut seperti alga, serta memiliki ciri khas tubuh pipih dan warna-warni yang menarik, menjadikannya mudah dikenali di antara terumbu karang.
  • Ikan baronang memegang peranan penting dalam ekosistem perairan, khususnya di ekosistem terumbu karang dan padang lamun. Sebagai herbivora, ia memakan alga dan juga menjadi indikator kesehatan padang lamun dan terumbu karang.
  • Selain eksploitasi berlebihan, populasi liar baronang berada di bawah tekanan akibat habitatnya terdampak perubahan iklim, yakni terumbu karang, mangrove, dan padang lamun.

 

Di kawasan Indonesia Timur, ikan baronang sangatlah umum dan banyak diketahui masyarakat pesisir. Meski di beberapa wilayah seperti di Maluku, ikan ini juga punya nama lokal yang disebut Samadar atau Madar.

Ikan dari famili Siganidae ini keberadaannya melimpah sehingga dijadikan sumber protein masyarakat.

Di kalangan internasional, ikan ini memiliki nama unik yaitu “rabbitfish” atau ikan kelinci (Siganus spp). Nama ini merujuk pada mulutnya yang kecil menyerupai paruh kelinci serta memiliki ciri khas tubuh pipih dan warna-warni menarik, menjadikannya mudah dikenali di antara terumbu karang. Selain itu, ikan ini memiliki sirip punggung dan sirip dubur memanjang.

Habitatnya di perairan dangkal, terutama sekitar terumbu karang. Keunikan lainnya, seperti halnya kelinci, baronang termasuk herbivora dengan cara memakan alga dan tumbuhan lainnya.

Selain itu, baronang memiliki warna menarik dan beragam, mulai kuning, biru, hijau, dan juga merah. Beberapa spesiesnya, memiliki duri beracun pada siripnya, yang dapat menyebabkan rasa sakit parah jika terkena.

Baca: Jenis ini Dijuluki Ikan Pemalas, Mengapa?

 

Baronang lingkis (Siganus canaliculatus) merupakan salah satu jenis ikan baronang. Foto: Wikimedia Commons/Sahat Ratmuangkhwang/CC BY 3.0

 

Peran Ekologis

Dalam penelitian yang dilakukan Zolkaply, dkk, (2021), disebutkan bahwa terdapat 29 spesies dalam satu genus ikan baronang. Ikan ini tersebar di berbagai habitat, termasuk muara, mangrove, terumbu karang, dan hamparan padang lamun.

Baronang memegang peranan penting dalam ekosistem perairan, khususnya di ekosistem terumbu karang dan padang lamun.

“Ikan herbivora, termasuk baronang, sangat penting bagi kesehatan ekosistem terumbu karang karena mereka memakan alga yang tumbuh di karang,” tulis para peneliti.

Dengan memakan alga, baronang membantu mengendalikan pertumbuhan alga yang berlebihan. Pertumbuhan alga yang tidak terkendali dapat menyebabkan ledakan, yang dapat menutupi permukaan terumbu karang dan menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan karang untuk berfotosintesis.

Baronang juga dapat menjadi indikator kesehatan padang lamun. Seperti yang dijelaskan dalam penelitian berjudul “Asosiasi Ikan Baronang (Siganus canaliculatus Park, 1797) Pada Ekosistem Padang Lamun Perairan Teluk Ambon Dalam”.  

Publikasi ini membahas hubungan antara kepadatan lamun dan keanekaragaman spesies serta kelimpahan ikan baronang (Siganus canaliculatus) di Teluk Ambon Dalam. Studi ini menemukan bahwa hamparan lamun dengan keanekaragaman dan kepadatan vegetasi yang tinggi mendukung kelimpahan individu baronang yang tinggi.

Baca: Hari Ikan Nasional: Pernah Dengar Nama Ikan Kakatua?

 

Ikan baronang angin (Siganus javus). Foto: Wikimedia Commons/jon hanson/CC BY-SA 2.0

 

Ancaman

Baronang adalah spesies ikan yang unik dan menarik. Selain berperan peran penting dalam ekosistem laut, juga memiliki nilai ekonomi penting bagi masyarakat pesisir di Indonesia.

Bagi nelayan di wilayah timur Indonesia, baronang merupakan komoditas perikanan tangkap yang penting. Mereka menangkap dengan berbagai cara, seperti menggunakan jaring, pancing, bubu, dan alat tangkap tradisional lain. Hasil tangkapan tersebut selain dikonsumsi, juga dijual di pasar lokal atau kepada pedagang pengumpul untuk didistribusikan ke wilayah lain.

Berdasarkan laporan FAO (Food and Agriculture Organization), sebuah badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengatakan bahwa baronang adalah ikan konsumsi populer di wilayah Indo-Pasifik, tetapi penangkapan berlebihan mengancam populasi liarnya.

“Sebagian besar baronang yang dikonsumsi saat ini, berasal dari perikanan tangkap. Sementara Indonesia dan Filipina adalah pemasok utama tahunan, masing-masing sekitar 76.000 ton dan 25.000 ton,” tulis laporan FAO.

Selain eksploitasi berlebihan, populasi liar baronang berada di bawah tekanan akibat habitatnya terdampak perubahan iklim, yakni terumbu karang, mangrove, dan padang lamun.

Menurut FAO, karena alasan-alasan inilah maka perlu mengembangkan baronang dengan cara budidaya. Sebuah tim peneliti di Biro Sumber Daya Perikanan dan Perairan (BFAR) di Filipina, yang dipimpin Dr. Westly Rosario, berhasil membudidayakan dua kandidat yang paling menarik secara komersial, yaitu baronang garis emas (Siganus guttatus) dan baronang labirin (Siganus vermiculatus).

Kedua spesies tersebut merupakan ikan konsumsi populer, tumbuh hingga sekitar 50 cm, dengan berat maksimum 1 kg untuk baronang garis emas dan 2 kg untuk baronang labirin.

“Filipina berada di garis depan budidaya ikan baronang, dengan produksi 246 ton tahun 2019. Budidaya ikan baronang dapat memberikan pilihan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat pesisir dan berkontribusi pada keamanan pangan di negara berkembang,” tulis FAO.

 

Ikan Kaca, Ikan Aneh yang Hanya Ditemukan di Papua dan Australia

 

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

Dasar Laut: Ladang Sengketa Baru Geopolitik dan Ekologi

Next Post

Pamah View Jadi Pilihan Liburan Akhir Tahun yang Cocok Bersama Keluarga

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

391 Jemaah Haji Kloter JKG-01 Mendarat di Tanah Air, Awali Operasional Debarkasi Jakarta 2026

391 Jemaah Haji Kloter JKG-01 Mendarat di Tanah Air, Awali Operasional Debarkasi Jakarta 2026

Selasa (02/06/2026) - 16:08 WIB
Pendaki Asal Aceh Utara Hilang di Gunung Seulawah, Basarnas Kerahkan Tim SAR

Pendaki Asal Aceh Utara Hilang di Gunung Seulawah, Basarnas Kerahkan Tim SAR

Selasa (02/06/2026) - 15:59 WIB
BBPOM Aceh Gelar Tausiah dan Minum Jamu Bersama, Perkuat Budaya Kerja BerAKHLAK

BBPOM Aceh Gelar Tausiah dan Minum Jamu Bersama, Perkuat Budaya Kerja BerAKHLAK

Selasa (02/06/2026) - 15:44 WIB
Korban Terseret Arus Saat Memancing di Perairan Pulau Nasi Ditemukan Meninggal Dunia

Korban Terseret Arus Saat Memancing di Perairan Pulau Nasi Ditemukan Meninggal Dunia

Selasa (02/06/2026) - 14:44 WIB
Basarnas Banda Aceh: Korban Terseret Arus di Lhoknga Ditemukan Meninggal Dunia

Basarnas Banda Aceh: Korban Terseret Arus di Lhoknga Ditemukan Meninggal Dunia

Selasa (02/06/2026) - 14:40 WIB
Jemaah Haji Gelombang II Mulai Diberangkatkan ke Madinah 8 Juni

Jemaah Haji Gelombang II Mulai Diberangkatkan ke Madinah 8 Juni

Senin (01/06/2026) - 15:52 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.