Banda Aceh – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh meminta PT PLN (Persero) meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan langkah antisipatif dalam menghadapi potensi lonjakan beban listrik menjelang dan selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Permintaan tersebut disampaikan sebagai upaya menjamin kelancaran aktivitas ibadah masyarakat Aceh yang berlangsung hampir sepanjang hari, mulai dari sahur hingga tarawih, serta menjaga stabilitas pasokan listrik bagi sektor ekonomi, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ketua Fraksi Partai NasDem DPR Aceh, Nurchalis, menegaskan bahwa Ramadan memiliki nilai sakral bagi masyarakat Aceh sehingga ketersediaan listrik yang andal menjadi kebutuhan utama.
“Ramadan adalah bulan sakral bagi rakyat Aceh. Kami meminta PLN melakukan langkah antisipatif agar masyarakat dapat beribadah dengan nyaman tanpa keluhan,” kata Nurchalis, yang juga Anggota Komisi III DPRA itu, Sabtu (7/2/2026).
Menurutnya, listrik yang stabil bukan hanya mendukung kelancaran ibadah, tetapi juga berperan penting dalam menjaga aktivitas ekonomi masyarakat yang biasanya meningkat selama bulan Ramadan, terutama di sektor kuliner dan usaha berbasis rumah tangga.
Komisi III DPR Aceh juga menekankan pentingnya mitigasi sejak dini dengan memastikan seluruh unit pembangkit dan jaringan distribusi listrik di kabupaten/kota berada dalam kondisi siap operasi. Langkah ini dinilai krusial untuk meminimalkan risiko gangguan listrik akibat peningkatan konsumsi.
Selain itu, DPR Aceh mendorong penerapan kebijakan zero pemadaman selama Ramadan, kecuali dalam kondisi darurat atau force majeure. Kebijakan tersebut diharapkan mampu memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah.
Komisi III menyatakan akan terus melakukan pengawasan terhadap kesiapan PLN guna memastikan pelayanan kelistrikan berjalan optimal selama bulan suci Ramadan 1447 H.[]










