BANDA ACEH | LENSA KITA – Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh menemukan dugaan praktik nepotisme “kakek-cucu” di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy, Banda Aceh.
Hal itu terungkap saat Ketua DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar menerima kunjungan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Ombudsman Perwakilan Aceh, Abyadi Siregar beberapa waktu lalu.
Dalam pertemuan itu, Ketua DPRK melaporkan bahwa pihakanya menemukan adanya dugaan praktik nepotisme dari kakek turun ke cucu di perusahan daerah tersebut kepada tim Ombudsman.
Menanggapi dugaan itu, Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Daroy, T. Novizal Aiyub tak membantah soal dugaan temuan DPRK tersebut. Namun, dia menyebutkan tidak semua karyawan PDAM Tirta Daroy punya hubungan keluarga.
“Enggak begitu juga lah dari kakek sampai cucu. Kalau dari ayah turun ke anak ada, tapi enggak banyak. Apakah ada larangan kalau bapaknya PNS lalu anaknya tidak boleh PNS lagi,” kata Novizal, Selasa (19/4/2022).
Novizal menyampaikan, pihaknya tidak mungkin membuka rekrutment pegawai secara terbuka karenakan pihaknya membuka lowongan yang sedikit. Sehingga akan menimbulkan masalah baru dikemudian hari.
“Untuk penerimaan karyawan yang hanya beberapa orang juga tidak mungkin kita adakan secara terbuka, karena pelamarnya pasti akan banyak sekali dan itu akan menimbulkan masalah baru,” ujarnya.
Masalah baru itu, kata dia, seperti adanya agen-agen tenaga kerja yang menjanjikan kelulusan. Namun demikian, pihaknya bakal melakukan evaluasi terhadap penerimaan karyawan ini.
“Bayangkan jika kita hanya menerima lima orang karyawan lalu akan ada ratusan bahkan ribuan pelamar dan ujung-ujungnya juga akan banyak masalah. Bisa lahirnya agen-agen tenaga kerja,” jelasnya.
Novizal menyampaikan kedepan PDAM Tirta Daroy bakal terus melakukan perbaikan terhadap perekrutan para pegawai perusahaan yang mengurus air bersih di Banda Aceh ini.
“Sekarang sudah kita coba minimalisir. Nah mungkin kedepan yang perlu kita perbaiki adalah pola rekruitmennya,” katanya.
Noval menyebutkan, bahwa Kota Banda Aceh merupakan satu dari sedikit kota di Indonesia yang cakupan pelayanannya sudah diatas 90 persen. “Kita sudah melayani sembilan kecamatan dan 90 desa yang ada di Banda Aceh,” pungkasnya.










