Banda Aceh – Jurnalisme data dianggap menjadi solusi untuk menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas di era hoaks saat ini. Data-data yang disampaikan menjadi referensi banyak orang untuk memahami konteks dengan lebih mudah.
Hal tersebut disampaikan oleh Afifuddin, fasilitator sekaligus jurnalis digdata.id dalam pelatihan yang dilaksanakan oleh Forum Jurnalis Lingkungan Aceh bertajuk “Training of Trainer Pengantar Jurnalisme Data”, Jumat (10/6/22).
“Di era jurnalisme data saat ini, jurnalis sangat berpotensi untuk mengambil dari sumber data terbuka baik yang berasal dari milik pemerintah maupun swasta,” ucapnya.
Namun, Afifuddin juga menyayangkan data terbuka yang ada di Aceh masih belum tersedia secara maksimal dan belum ter-update, terlebih jika dibandikan dengan data terbuka yang tersedia di beberapa daerah di luar Aceh, seperti Jakarta dan Yogyakarta.
“Indonesia secara umum di kementerian data terbuka lumayan bagus untuk kita menganilisis. Namun, di Aceh ini sangat baru, belum banyak orang yang mengerjakan jurnalisme data. Tetapi bukan berarti tidak kita mulai, maka latihan hari ini adalah salah satu upaya meningkatkan kapasitas wartawan dalam melakukan peliputan jurnalisme data,” ucap Afifuddin.
Afifuddin menjelaskan, tekun dan kemauan belajar yang tinggi menjadi kunci para jurnalis untuk mendalami ilmu jurnalisme data. Dengan adanya keterbukaan informasi dan teknologi di era digital memudahkan semua orang mengakses berbagai informasi untuk belajar.
“Tidak ada tantangan sebenarnya, karena ada data terbuka. Tetapi harus tekun dan betul-betul mau belajar bagaimana menganalisis data melalui spreadsheet. Karena kalau kita sudah mempunyai dasarnya kita bisa mengembangakannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Afifuddin mengatakan bahwa pelatihan ini adalah untuk mempelajari dasarnya, yang kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut oleh masing-masing peserta.
Pelatihan jurnalisme data ini dilaksanakan selama 4 hari, diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) Literasi data yang dilaksanakan di Lantai dua Coffe 26 Premium, Lampineung pada 10 Juni 2022, dan akan dilanjutkan di Hotel Oasis, Leungbata, Banda Aceh selama 3 hari (11-13 Juni 2022).
Ketua Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh, Zulkarnaini Masry mengatakan bahwa model jurnalisme data ini sudah menjadi tren baru dan menjadi kebutuhan di media.
“Karena dengan menggunakan data, karya jurnalistik akan lebih berisi dan berbobot. Akan banyak informasi-informasi yang bisa disampaikan melalui pemaknaan data. Berangkat dari sebuah data yang sebenarnya teman-teman sudah menggunakan data untuk menulis. Namun belum menggunakan data itu sebagai landasan awal untuk melahirkan karya jurnalistik,” ucapnya.
Hasil dari kegiatan ini, Zulkarnaini berharap agar peserta dapat mengetahui cara mengolah data, sehingga nantinya akan melahirkan rencana liputan secara komprehensif.
“Kita berharap dari pelatihan ini kawan-kawan peserta memahami cara menggunakan data untuk membuat karya jurnalistik yang lebih berkualitas,” ujarnya.










