Senin, April 20, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Data Satelit Tunjukkan Deforestasi di TN Tesso Nilo Masih Berlanjut

Redaksi Oleh Redaksi
Kamis (19/12/2024) - 13:38 WIB
in DAERAH
0
Data Satelit Tunjukkan Deforestasi di TN Tesso Nilo Masih Berlanjut

#image_title

  • Taman Nasional Tesso Nilo diperuntukkan untuk melindungi salah satu hamparan hutan dataran rendah terbesar yang tersisa di Provinsi Riau, sekaligus tempat perlindungan satwa liar kritis seperti harimau dan gajah sumatera yang terancam punah.
  • Meskipun telah dinyatakan sebagai Taman Nasional pada tahun 2004 dan diperluas pada tahun 2009, Tesso Nilo terus-menerus mengalami deforestasi dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar disebabkan maraknya perkebunan sawit.
  • Data satelit menunjukkan Tesso Nilo kehilangan 78% hutan hujan primer antara tahun 2009 dan 2023. Data awal tahun 2024, ditambah dengan citra satelit, menunjukkan hilangnya hutan terus berlanjut pada tahun ini.
  • Pembukaan jalan membuat maraknya perburuan liar. Jika berlanjut, hanya ada 1 dekade tersisa hingga gajah sumatera punah di Riau.

 

Ketika pemerintah Indonesia mendirikan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) pada tahun 2004 di bekas konsesi HPH, ternyata warisan penebangan hutan dan deforestasi ini terus berlanjut selama bertahun-tahun bahkan setelah mendapatkan status resmi.

Setelah diperluas pada tahun 2009, TNTN sekarang mencakup lebih dari 80.000 hektar lahan di provinsi Riau, Sumatera, dan merupakan salah satu blok hutan dataran rendah terakhir yang tersisa di pulau tersebut.

Menurut World Wildlife Fund (WWF) TNTN merupakan rumah bagi hampir 3% mamalia dunia, termasuk harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), yang terancam punah.

Kawasan konservasi ini juga memiliki lebih dari 4.000 spesies tumbuhan yang merupakan  salah satu tingkat keanekaragaman tumbuhan dataran rendah tertinggi yang ada di dunia.

 

 

Selama beberapa dekade sejak ditetapkan, TNTN telah mengalami deforestasi yang tak henti-henti, yang dipicu penebangan liar, pembangunan perkebunan sawit di dalam taman nasional, dan perambahan. Investigasi tahun 2018 dari World Wildlife Fund (WWF) menemukan bahwa hampir tiga perempat dari Tesso Nilo diubah menjadi perkebunan sawit, dan deforestasi yang terus menghancurkan hutan primer di kawasan itu.

Data satelit dari platform pemantauan Global Forest Watch (GFW) menunjukkan TNTN kehilangan 78% tutupan hutan primernya diantara tahun 2009 hingga 2023. Data di awal 2024 menunjukkan aktivitas pembukaan lahan pun terus berlanjut di hutan yang tersisa.

 



Google Timelapse menunjukkan bagaimana hutan di dalam dan sekitar Taman Nasional Tesso Nilo kian menghilang seiring berjalannya waktu.

 

Perkebunan Sawit Ilegal di Area TNTN

Analisis data menunjukkan bahwa pendorong utama deforestasi di TNTN adalah konversi untuk perkebunan sawit. Sebuah laporan tahun 2013 menemukan bahwa dua perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia membeli buah kelapa sawit yang ditanam di dalam kawasan taman nasional. Pada tahun 2018, ada lebih dari 150 perkebunan sawit di dalam taman nasional, menurut data pemerintah, dan hampir 100 perkebunan di konsesi penebangan hutan yang berdekatan.

“Saat yang sama, harga minyak sawit yang meningkat menjadi daya tarik untuk pembukaan lahan bagi penanaman sawit. Khususnya saat kondisi lapangan kerja semakin sulit” kata Yuliantony Direktur Eksekutif Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo kepada Mongabay pada tahun 2022.

Meskipun harga komoditas internasional minyak sawit telah mencapai puncaknya pada 2022, harga itu telah meningkat secara stabil pada tahun 2024 dan berada pada titik tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir saat berita ini diterbitkan.

Pembukaan jalan yang menyertai pembangunan perkebunan juga membuka hutan bagi pemburu satwa liar. Citra satelit dari Planet Labs yang divisualisasikan di GFW menunjukkan jalan yang berkelok-kelok di antara area yang telah dibuka dan melalui hutan yang tersisa di Tesso Nilo.

 

Data satelit dari Global Forest Watch menunjukkan hutan Tesso Nilo yang tersisa sedikit terus berkurang pada tahun 2024.
Citra satelit yang diambil oleh Planet Labs menunjukkan bahwa sebagian besar sisa hutan primer besar terakhir di Taman Nasional Tesso Nilo telah ditebangi selama empat tahun terakhir.
Citra satelit yang diambil pada bulan Oktober 2024 oleh Planet Labs menunjukkan hilangnya hutan menyebar di sepanjang jalan baru di Taman Nasional Tesso Nilo.

 

Populasi Gajah Sumatera Sedang Menuju Kepunahan

Dampaknya terhadap satwa liar Tesso Nilo terlihat jelas. Riau memiliki populasi gajah sumatera terbesar kedua di seluruh provinsi yang ada di Sumatera. Namun antara tahun 2015 hingga 2020, 24 gajah ditemukan mati di area TNTN dan kawasan lindung lainnya Riau. Faktor kematiannya adalah karena tembakan, jerat, racun, dan penyebab lainnya yang disebabkan oleh manusia.

Badan pemerintah dan organisasi konservasi mengatakan mungkin ada kurang dari 1.000 gajah sumatera yang hidup di alam liar saat ini. Para ahli menyebut mungkin hanya ada waktu kurang dari satu dekade untuk menstabilkan populasi sebelum kepunahan mereka terjadi.

 

Artikel ini dilaporkan oleh tim Mongabay Global dan dipublikasikan perdana di sini pada tanggal 30 November 2024. Tulisan ini diterjemahkan oleh Akita Verselita.

 

***

Foto utama: Gajah sumatera di wilayah Desa Suka Mulya, Air Sugihan, Kabupaten OKI, Sumsel. Foto: Yudi Semai/Mongabay Indonesia

 

 

Catatan Akhir Tahun: Gajah Sumatera yang Terusir dari Habitatnya

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

DD Waspada Antarkan Mesin Jahit dari BI untuk Program Menjahit Harapan Dhuafa

Next Post

Mewaspadai Perburuan Satwa Liar Dilindungi di Hutan Leuser

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Pemkab Abdya Gelar Meuseraya Toet Lemang, Targetkan Rekor MURI dengan 17 Ribu Batang Lemang

Pemkab Abdya Gelar Meuseraya Toet Lemang, Targetkan Rekor MURI dengan 17 Ribu Batang Lemang

Senin (20/04/2026) - 16:49 WIB
Jaksa Agung ST Burhanuddin Minta Kajari Tak Kriminalisasi Kepala Desa

Jaksa Agung ST Burhanuddin Minta Kajari Tak Kriminalisasi Kepala Desa

Senin (20/04/2026) - 16:38 WIB
Lima Pejabat Eselon II Pemko Banda Aceh Dilantik, Ini Pesan Illiza Sa’aduddin Djamal

Lima Pejabat Eselon II Pemko Banda Aceh Dilantik, Ini Pesan Illiza Sa’aduddin Djamal

Senin (20/04/2026) - 16:30 WIB
Menhaj Supervisi Dapur Haji di Madinah, Tekankan Penggunaan Bumbu Asal Indonesia

Jelang Kedatangan Jemaah, Kualitas Makanan Haji Diawasi Tiga Tahap di Madinah

Senin (20/04/2026) - 16:10 WIB
BBPOM Aceh Edukasi Orang Tua Siswa SLB tentang Keamanan Pangan dan Gizi Seimbang

BBPOM Aceh Edukasi Orang Tua Siswa SLB tentang Keamanan Pangan dan Gizi Seimbang

Senin (20/04/2026) - 15:45 WIB
Kanwil Ditjenpas Aceh Lantik 33 Pejabat Manajerial, Perkuat Kinerja dan Integritas Pemasyarakatan

Kanwil Ditjenpas Aceh Lantik 33 Pejabat Manajerial, Perkuat Kinerja dan Integritas Pemasyarakatan

Senin (20/04/2026) - 15:40 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.