Jumat, November 6, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Berapa Dana yang Diperlukan untuk Merestorasi Lahan Terdegradasi di Seluruh Dunia?

Redaksi Oleh Redaksi
Kamis (13/03/2025) - 15:41 WIB
in DAERAH
0
Berapa Dana yang Diperlukan untuk Merestorasi Lahan Terdegradasi di Seluruh Dunia?

#image_title

  • Komitmen restorasi lahan di seluruh dunia, yang mencakup 115 negara akan membutuhkan biaya antara USD 311 miliar hingga USD 2,1 triliun.
  • Biaya ini sangat bervariasi tergantung pada metode yang digunakan: mulai dari USD 185 per hektar untuk manajemen hutan, hingga lebih dari USD 3.000 per hektar untuk sistem silvopastoral.
  • Negara-negara di Afrika sub-Sahara, perlu mengalokasikan 3,7% dari PDB tahunannya untuk memenuhi komitmen tersebut, yang menunjukkan perlunya dukungan global.
  • Perkiraan biaya dalam studi ini tidak mencakup variabel biaya pemantauan dan biaya peluang (opportunity cost), yang menunjukkan bahwa biaya restorasi sebenarnya mungkin lebih tinggi dari yang diproyeksikan.

 

Berapa banyak lahan terdegradasi di dunia dan berapa banyak dana yang diperlukan untuk memulihkannya?

Sebuah studi baru menunjukkan hasil analisis komprehensif pertama tentang biaya komitmen restorasi global ini. Biaya pemulihan lahan terdegradasi di seluruh dunia akan menelan biaya antara USD311 miliar hingga USD 2,1 triliun.

Menurut Konvensi PBB untuk Memerangi Desertifikasi (United Nations Convention to Combat Desertification), setiap dolar yang dihabiskan untuk memulihkan lahan terdegradasi bakal menghasilkan imbalan ekonomi antara USD 7 hingga USD 30 di kemudian hari.

Dengan perkiraan 40% lahan global terdegradasi, 115 negara telah berkomitmen untuk memulihkan hampir 1 miliar hektar lahan, area yang kira-kira seukuran luas Kanada.

Meskipun jumlahnya besar, nominal itu setara dengan 0,04-0,27% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) global tahunan setelah dibagi dalam rentang 10 tahun. Namun, permasalahannya adalah distribusi kebutuhan restorasi yang tidak merata. Negara-negara yang lebih miskin akan menanggung bagian biaya yang lebih besar.

Komitmen ini, yang dibuat melalui perjanjian lingkungan internasional seperti Konvensi Keanekaragaman Hayati dan Bonn Challenge, yang mencakup pemulihan ekosistem alami serta peningkatan pengelolaan lahan pertanian.

Sebagian besar komitmen restorasi terkonsentrasi di negara-negara berkembang, khususnya di Afrika sub-Sahara, yang menyumbang hampir setengah dari semua komitmen global. Namun, wilayah ini perlu mengalokasikan 3,7% PDB tahunannya untuk memenuhi komitmen tersebut. Ini menjadi beban finansial yang besar.

Tim peneliti menganalisis data dari 243 proyek restorasi di seluruh dunia, yang mengungkap variasi biaya yang besar — mulai dari USD 185 per hektar untuk pengelolaan hutan, hingga lebih dari USD 3.000 per hektar untuk sistem silvopastori yaitu menggabungkan restorasi penanaman pohon dengan lokasi penggembalaan ternak.

“Dari perspektif global, sangat efisien untuk melakukan banyak restorasi di negara-negara berpenghasilan rendah, karena di sana biayanya relatif murah. Tetapi mereka membutuhkan bantuan,” kata penulis utama studi, Dewy Verhoeven, seorang kandidat Ph.D. di Wageningen University & Research di Belanda, kepada Mongabay.

“Negara-negara miskin menanggung kebutuhan restorasi terbesar, tetapi paling tidak mampu membiayai tindakan restorasi yang diperlukan,” kata Robin Chazdon, seorang ahli restorasi lahan yang tidak terlibat dalam penelitian ini kepada Mongabay.

“Fakta ini menegaskan perlunya mekanisme berbagi biaya antar negara dan implementasi pendekatan restorasi berbasis lanskap dengan biaya rendah ketika kondisinya sesuai.”

Studi ini, salah satunya menyarankan berbagai variasi Pembayaran untuk Jasa Ekosistem (PES) dan pemberian subsidi lahan.

 

Anggota masyarakat lokal berpartisipasi dalam proyek restorasi lanskap hutan di Ethiopia. Foto: Mokhamad Edliadi/CIFOR via Flickr (CC BY-NC-ND 2.0).

 

Upaya Restorasi Lahan Terdegradasi

Studi ini mendefinisikan restorasi secara luas: mulai dari memulihkan ekosistem sepenuhnya ke keadaan alaminya, merehabilitasi lahan untuk pertanian, hingga sekadar meningkatkan cara lahan dikelola saat ini.

Ini mencakup tindakan seperti agroforestri, praktik penggembalaan yang lebih baik, dan regenerasi alami dengan bantuan. Lahan tidak perlu sepenuhnya terdegradasi untuk dipulihkan.

Para peneliti melihat tiga sumber data pembiayaan: Bank Dunia, basis data World Overview of Conservation Approaches and Technologies (WOCAT), dan literatur akademik. Dengan menggunakan data ini, mereka mengembangkan model ekonomi yang memperkirakan biaya implementasi untuk hampir 1 miliar hektar lahan untuk dipulihkan.

Menariknya, studi ini menemukan bahwa organisasi yang berbeda melaporkan biaya yang berbeda untuk proyek serupa. Misalnya, WOCAT menyebut biaya pemulihan lahan adalah sekitar tiga kali lebih mahal dibandingkan ketika Bank Dunia melacaknya. Hal ini menunjukkan perlunya cara standar untuk mengukur dan melaporkan biaya tersebut.

“PDB tingkat negara adalah faktor utama yang memengaruhi biaya restorasi, khususnya biaya tenaga kerja dan persediaan untuk kegiatan restorasi sangat terkait dengan tingkat PDB nasional,” kata Chazdon.

 

Kisaran total komitmen restorasi berdasarkan wilayah dunia, berdasarkan (Sewell et al., 2020). Figur data: Verhoeven et al., 2024.

 

Studi ini berfokus terutama pada biaya implementasi langsung, tidak termasuk biaya peluang (opportunity cost), atau kesempatan berusaha pemilik tanah yang hilang saat lahan pertanian atau kegiatan ekonomi tidak bisa lagi digunakan.

Hal ini yang kemudian digarisbawahi oleh Chazdon. Dia menyebut faktor ini yang menentukan apakah restorasi lahan adalah pilihan rasional bagi pemilik tanah.

“Kita perlu mencari perencanaan praktik hemat biaya dan menemukan sumber pendanaan yang tidak terlalu menjadi beban bagi pemilik tanah atau anggota masyarakat,” katanya.

 

Boxplot biaya restorasi total per hektar berdasarkan jenis restorasi (dengan masa pemeliharaan selama 5 tahun). Figur data: Verhoeven et al., 2024.

 

Selain mengukur biaya secara akurat, negara-negara mungkin membutuhkan bantuan dalam memutuskan area mana yang akan dipulihkan dan metode apa yang akan digunakan.

“Ada banyak pendekatan dan alat untuk memprioritaskan pendekatan dan peluang restorasi yang dapat digunakan oleh negara-negara,” kata Chazdon.

Dia menyebutkan tools seperti WePlan Forests untuk restorasi hutan tropis, dan tools Plangea untuk berbagai jenis ekosistem.

“Alat-alat ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi area-area kunci untuk penilaian lebih lanjut berdasarkan kebutuhan dan prioritas lokal,” pungkasnya.

 

Artikel ini dipublikasikan perdana di sini pada tanggal 7 Februari 2025 oleh Mongabay Global. Tulisan ini diterjemahkan oleh Akita Verselita.

 

Referensi:

Verhoeven, D., Berkhout, E., Sewell, A., & Van der Esch, S. (2024). The global cost of international commitments on land restoration. Land Degradation & Development, 35(16), 4864-4874. doi:10.1002/ldr.5263

 

***

Foto utama: Mangrove salah satu ekosistem penting di dunia yang juga perlu direstorasi. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Studi: Jadi Ekosistem Penting Penyimpan Karbon, Baru 17% Lahan Gambut Dilindungi di Dunia

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

Nasib Warga Rantau Bakula Terdampak Tambang Batubara

Next Post

Menghitung Populasi Macan Tutul Jawa di Habitat Tersisa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Pemuda Muhammadiyah Aceh: Hentikan Tindakan Represif terhadap Rakyat, Usut Penembakan di Pidie, Tuntaskan MoU Helsinki

Pemuda Muhammadiyah Aceh: Hentikan Tindakan Represif terhadap Rakyat, Usut Penembakan di Pidie, Tuntaskan MoU Helsinki

Kamis (05/11/2026) - 22:23 WIB
Mualem-Dek Fadh Berduka atas Meninggalnya Warga Pidie dalam Insiden Pengibaran Bendera

Mualem-Dek Fadh Berduka atas Meninggalnya Warga Pidie dalam Insiden Pengibaran Bendera

Kamis (05/11/2026) - 22:17 WIB
Menko Yusril Tegaskan Penyadapan Ilegal Bisa Dijerat Pidana

Menko Yusril Prihatin atas Peristiwa di Pidie, Pemerintah Sepakat Lakukan Penyelidikan

Kamis (05/11/2026) - 16:04 WIB
LBH Banda Aceh Desak Penembakan Warga di Pidie Diusut Tuntas

LBH Banda Aceh Desak Penembakan Warga di Pidie Diusut Tuntas

Rabu (04/11/2026) - 22:52 WIB
Kak Na: PAUD Holistrik Integratif untuk Penuhi Kebutuhan Dasar Anak Usia Dini

Kak Na: PAUD Holistrik Integratif untuk Penuhi Kebutuhan Dasar Anak Usia Dini

Rabu (04/11/2026) - 22:13 WIB
Kopertais V Aceh Siapkan Auditor untuk Perkuat Mutu 39 PTKIS

Kopertais V Aceh Siapkan Auditor untuk Perkuat Mutu 39 PTKIS

Rabu (04/11/2026) - 22:03 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.