Minggu, April 19, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Ajak Anak Muda Peduli Konservasi Orangutan Sumatera

Redaksi Oleh Redaksi
Senin (30/09/2024) - 06:12 WIB
in DAERAH
0
Ajak Anak Muda Peduli Konservasi Orangutan Sumatera

#image_title

 

 

 

  • Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (YOSL), di Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, mengagas kemah bersama anak-anak muda untuk mengajak mereka punya kesadaran dan peduli penyelamatan orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli sejak dini.
  • Nandri Deni Cantika,  Pelajar kelas 12 Sekolah Menengah Atas (SMA) asal Tapsel, awalnya, tidak tahu sama sekali tentang orangutan merupakan satwa liar dilindungi, dan ternyata populasinya terancam. Setelah mengikuti Orangutan Festival, dia mendapatkan berbagai informasi mengenai orangutan, terutama orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli.  
  • Peningkatan kebutuhan lahan, seperti konversi menjadi perkebunan sawit yang merupakan ancaman besar bagi konservasi, terutama di Sumatera Utara. Kondisi ini, jelas akan memberi tekanan pada lingkungan dan mempengaruhi satwa liar.
  • Syafrizaldi Jpang,  Executive Director YOSL-OIC, menekankan peranan penting generasi milenial dan Gen Z dalam upaya konservasi lingkungan. Harapannya, mereka bisa melanjutkan estafet konservasi.

 

 

 

Kerumunan remaja memenuhi kemah alam terbuka Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (YOSL), di Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, Agustus lalu. Antusias terpancar dari kelompok muda mudi usia 15-20 tahun yang datang dari berbagai latar belakang ini.

Kala itu, YOSL menghelat Orangutan Festival, acara tahunan yang menyasar penyadartahuan pada generasi muda akan pentingnya orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli.

Beberapa di antara remaja itu mengabadikan momen dengan berfoto bersama sosok yang mengenakan kostum orangutan.

Nandri Deni Cantika,  Pelajar kelas 12 Sekolah Menengah Atas (SMA) asal Tapsel, baru sekali ikut Orangutan Festival. Awalnya, dia tidak tahu sama sekali tentang orangutan merupakan satwa liar dilindungi, dan ternyata populasinya terancam.

“Di sekolah pernah diajarin tentang orangutan dan di Tapsel juga ada hidup satwa itu yang katanya jumlahnya nggak banyak,” kata Nandri kepada Mongabay.

Dia menyebut, akan aktif di kegiatan berbagai alam ketika dewasa. Rencananya, dia akan mempelajari lebih banyak tentang deforestasi, satwa dan lain-lain.

Nandri berniat menularkan ilmu yang dia dapat selama workshop Orangutan Festival ke orang lain.

“Orangutan adalah satwa khas daerah sini. Saya tertarik untuk jadi warrior,” katanya.

 

Anak-anak muda mengenal orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli. Foto: Sri Wahyuni/Mongabay Indonesia

 

Wahyu Pane, mahasiswa dari Padangsidimpuan, rasa penasarannya terjawab saat mengikuti Orangutan Festival. Dia jadi tahu jika satwa liar dilindungi ini baru melahirkan kembali setelah delapan tahun.

““Banyak manusia beranggapan orangutan adalah ancaman, justru manusia itu sendirilah yang menjadi ancaman terbesar bagi mereka,” katanya.

Wahyu berencana aktif memberikan edukasi ke orang lain dan melakukan kampanye lewat media sosial.

Zahra, siswi di Medan mengatakan,  pelajar salah satu agen perubahan. “Kami punya peranan penting dalam membawa misi-misi positif untuk kelestarian hutan, melindungi satwa dan kegiatan positif lainnya,” ucapnya.

Syafrizaldi Jpang,  Executive Director YOSL-OIC, menekankan peranan penting generasi milenial dan Gen Z dalam upaya konservasi lingkungan. Harapannya, mereka bisa melanjutkan estafet konservasi.

“Karena (mereka) akan menjadi pemimpin di berbagai bidang di masa depan. Jika konservasi sudah tertanam dalam diri mereka, diharapkan mereka akan terus membawanya sepanjang hidup mereka,” katanya, seraya bilang fokus pada generasi muda adalah target penting.

 

Mengajak anak muda peduli konservasi orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli. Foto: Sri Wahyuni/Mongabay Indonesia

 

Meskipun demikian, lonjakan pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan sumber daya menjadi masalah tersendiri. Pasalnya, populasi akan berkembang pesat sementara sumber daya tidak.

“Ada perubahan pola konsumsi, mengakibatkan orang berlomba-lomba mencari uang untuk memenuhi kebutuhan yang tidak selalu mendasar, yang pada gilirannya mengancam upaya konservasi.”

Dia juga menggarisbawahi konsekuensi dari peningkatan kebutuhan lahan, seperti konversi lahan menjadi perkebunan sawit yang merupakan ancaman besar bagi konservasi, terutama di Sumatera Utara. Kondisi ini, jelas akan memberi tekanan pada lingkungan dan mempengaruhi satwa liar.

Jpang mengingatkan,  pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi tantangan ini. Salah satunya adalah bagaimana mengatasi perburuan.

“Perubahan regulasi dan penegakan hukum harus serius memberikan efek jera. Peran masyarakat sipil, termasuk mereka yang terdampak langsung oleh kegiatan konservasi sangat diperlukan,” katanya.

Bupati Tapanuli Selatan, Dolly Pasaribu yang hadir di sana menyatakan, kekhawatiran konflik antara primata dan masyarakat, terutama ketika musim buah.

Pemerintah daerah, katanya,  terus penyadartahuan dan mengedukasi masyarakat untuk memberikan ruang bagi primata mencari makan tanpa mengganggu mereka.

Bayi kembar orangutan tapanuli dengan induknya ini terpantau di ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara. Foto: YEL-SOCP/Andayani Ginting

******

 

Anak Orangutan Tapanuli Ditemukan Mati di Batang Toru, Penyebabnya?

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

Kasus Korupsi Timah, Pegiat Lingkungan: Pemerintahan Jokowi Gagal Wujudkan Tata Kelola Pertambangan

Next Post

Legina Istiana, Melawan Demi Pertahankan Tanah Mandarsah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Tak Lagi Sekadar Mayam, The Palace Jeweler Bongkar Cara Lama Jual Beli Emas di Aceh

Tak Lagi Sekadar Mayam, The Palace Jeweler Bongkar Cara Lama Jual Beli Emas di Aceh

Minggu (19/04/2026) - 14:08 WIB
Dek Gam Persilahkan Pihak Lain Kelola Persiraja Banda Aceh

Dek Gam Tegaskan Laga Persiraja vs Garudayaksa Bukan Sekadar Tiga Poin

Sabtu (18/04/2026) - 22:49 WIB
Garudayaksa FC Fokus Redam Pergerakan Fitra Ridwan di Laga Tandang

Garudayaksa FC Fokus Redam Pergerakan Fitra Ridwan di Laga Tandang

Sabtu (18/04/2026) - 21:48 WIB
Persiraja Pincang Jelang Hadapi Garudayaksa FC, Jaya Hartono Tetap Targetkan Tiga Poin

Persiraja Pincang Jelang Hadapi Garudayaksa FC, Jaya Hartono Tetap Targetkan Tiga Poin

Sabtu (18/04/2026) - 21:42 WIB
5.426 Jemaah Haji Aceh Berangkat dalam 14 Kloter, Ini Jadwalnya

5.426 Jemaah Haji Aceh Berangkat dalam 14 Kloter, Ini Jadwalnya

Sabtu (18/04/2026) - 03:21 WIB
Besaran Otsus Aceh Masih Dibahas, Golkar Siap Dukung Hasil Kesepakatan

Besaran Otsus Aceh Masih Dibahas, Golkar Siap Dukung Hasil Kesepakatan

Jumat (17/04/2026) - 22:07 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.