Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Provinsi Aceh pada Mei 2026 mencapai 104,80 juta USD. Nilai tersebut meningkat 112,78 persen dibandingkan April 2026.
“Nilai impor Provinsi Aceh pada bulan Mei 2026 sebesar 104,80 juta USD. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 112,78 persen dibandingkan impor bulan April 2026,” kata Pelaksana Harian (Plh.) Kepala BPS Aceh, Abdul Hakim, Rabu (1/7/2026).
Selain meningkat secara bulanan, nilai impor Aceh juga mengalami kenaikan 75,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau Mei 2025.
Berdasarkan negara asal, impor terbesar pada Mei 2026 berasal dari Amerika Serikat dengan nilai 84,30 juta USD. Komoditas utama yang diimpor dari negara tersebut adalah gas propana/butana.
Sementara itu, posisi kedua ditempati Tiongkok dengan nilai impor 14,43 juta USD, yang didominasi komoditas bahan kimia anorganik dan pupuk.
Adapun urutan ketiga berasal dari India dengan nilai impor 3,04 juta USD, dengan komoditas utama berupa bahan kimia anorganik.
Abdul Hakim menjelaskan, secara keseluruhan komoditas impor terbesar Aceh pada Mei 2026 adalah gas propana/butana dengan nilai 84,30 juta USD, atau setara 80,44 persen dari total nilai impor. Setelah itu, komoditas impor terbesar berikutnya adalah bahan kimia anorganik dan pupuk.
Ia menambahkan, besarnya nilai impor dibandingkan ekspor menyebabkan neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada Mei 2026 mengalami defisit.
“Dengan nilai impor yang lebih besar dibandingkan nilai ekspor, neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada bulan Mei 2026 mengalami defisit sebesar 51,92 juta USD,” ujarnya.
BPS juga mencatat, berdasarkan perkembangan selama periode Mei 2025 hingga Mei 2026, neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh mengalami defisit pada Mei 2025, Oktober 2025, dan kembali terjadi pada Mei 2026.[]









