Banda Aceh – Pemerintah Aceh menyiapkan langkah strategis untuk menjamin ketersediaan pasokan daging bagi masyarakat, khususnya menjelang tradisi Meugang dan sepanjang tahun 2026. Upaya ini dilakukan menyusul terganggunya pasokan daging lokal akibat dampak bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menyampaikan bahwa Gubernur Aceh telah melakukan serangkaian pertemuan dengan kementerian terkait di Jakarta guna membahas pemenuhan kebutuhan daging tersebut.
“Pada minggu ini, Gubernur Aceh melakukan pertemuan dengan beberapa kementerian. Secara khusus, pada Senin, 19 Januari 2026, Gubernur bertemu langsung dengan Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, didampingi oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, T. Adi Darma,” ujar Muhammad MTA dalam keterangannya, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, pertemuan tersebut menitikberatkan pada upaya pemenuhan pasokan daging bagi Aceh, mengingat bencana banjir dan longsor telah berdampak signifikan terhadap ketersediaan daging lokal.
“Akibat bencana tersebut, pasokan daging lokal dipastikan terganggu, sehingga diperlukan langkah antisipatif untuk menjamin kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” katanya.
Dalam pertemuan itu, Gubernur Aceh juga meminta Perusahaan Umum Daerah Pembangunan Aceh (PEMA) untuk menindaklanjuti pembahasan terkait kuota dan izin impor daging dengan kementerian dan lembaga terkait.
“Gubernur telah meminta PEMA untuk menindaklanjuti dengan kementerian terkait terkait kuota izin impor. Saat ini PEMA sedang melakukan tindak lanjut dan telah menggelar beberapa pertemuan dengan kementerian dan lembaga guna mempercepat proses tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan, khusus untuk pemenuhan kebutuhan daging tahun 2026, terutama dalam menghadapi tradisi Meugang, PEMA akan menggunakan mekanisme business to business (B to B) dengan BUMN atau perusahaan yang saat ini memegang kuota impor daging.
Berdasarkan data Pemerintah Aceh, kebutuhan daging di Aceh pada tahun 2026 diperkirakan mencapai sekitar 9.618 ton. Dari jumlah tersebut, kebutuhan pada setiap momen Meugang tercatat cukup tinggi.
“Berkaca pada data tahun 2025, kebutuhan daging saat momen Meugang saja rata-rata mencapai sekitar 1.000 hingga 1.500 ton. Selebihnya digunakan untuk kebutuhan harian masyarakat dan dunia usaha sepanjang tahun,” ungkapnya.
MTA menegaskan bahwa Pemerintah Aceh terus melakukan berbagai langkah dan kebijakan pemulihan pascabencana dengan supervisi ekstra dari Pemerintah Pusat.
“Dalam berbagai kesempatan, Gubernur Aceh selalu berharap agar seluruh pihak tetap bersatu dan bersama-sama dengan masyarakat untuk Aceh yang lebih baik, serta bangkit dari dampak bencana,” ujar dia.[]










