Minggu, Mei 17, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Mengapa Tekukur Dekat dengan Kehidupan Manusia?

Redaksi Oleh Redaksi
Selasa (07/01/2025) - 17:25 WIB
in DAERAH
0
Mengapa Tekukur Dekat dengan Kehidupan Manusia?

#image_title

 

  • Tekukur merupakan jenis burung yang dekat dengan kehidupan manusia. Nama ilmiahnya Spilopelia Bulu tubuhnya didominasi cokelat keabuan, dihiasi garis-garis hitam putih di leher seperti kalung alami.
  • Tekukur sering terlihat di kawasan urban maupun hutan. Namun, kondisinya di area urban cenderung memprihatinkan yaitu banyak ditemukan di sangkar peliharaan warga.
  • Dikarenakan mudah ditemukan, tekukur dapat dijadikan bahan penelitian yang menarik, terutama aspek molekuler, fisiologi, dan patologi. Meski begitu, riset mengenai ekologi dan perilakunya masih jarang.
  • Tekukur memiliki sebaran luas meliputi Asia Timur, Asia Tenggara, hingga sebagian Australia. Secara alami, ia menyukai area terbuka seperti padang rumput, taman, persawahan, dan kawasan pertanian.

 

Tekukur merupakan jenis burung yang dekat dengan kehidupan manusia. Ia sering disebut drekuku yang ukuran tubuhnya seperti merpati.

Nama ilmiahnya Spilopelia chinensis. Bulu tubuhnya didominasi cokelat keabuan, dihiasi garis-garis hitam putih di leher seperti kalung alami.

Andini Maya Sari (23), mahasiswi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang merupakan citizen science, mengatakan bahwa tekukur tidak hanya menarik dari sisi visual, tetapi juga perilaku.

“Sifat menonjolnya adalah tidak penakut, sehingga relatif mudah difoto dan diamati,” terangnya, akhir Desember 2024.

Andini kerap melihat tekukur di kawasan urban maupun hutan. Namun, kondisi di area urban cenderung memprihatinkan yaitu banyak ditemukan di sangkar peliharaan warga.

“Di alam liar, tekukur bergerak bebas sehingga ukuran dan bentuk tubuhnya relatif lebih besar dibandingkan yang di sangkar.”

Kondisi ini, mencerminkan dampak negatif penangkapan tekukur di alam liar untuk dijadikan peliharaan.

“Saya khawatir terhadap maraknya jual-beli tekukur. Permintaan pasar menjadi pendorong utamanya. Selain memperbesar risiko perburuan liar, aktivitas itu juga mengancam kelestariannya.”

Baca: Perkutut Jawa, Burung dengan Keunikan Katurangga

 

Burung tekukur relatif mudah diamati karena sifatnya yang tidak takut manusia. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Pohon di Pekarangan

Baso Rangga (47), phonescoping yang sering memotret tekukur di sekitar rumah, mengungkapkan jenis ini bersama spesies lain, seperti perkutut jawa (Geopelia striata) dan punai (Treron), terlihat di perkotaan. Termasuk di lingkungan tempat tinggalnya, yang tidak jauh dari Tugu Jogja.

Perpindahan ini, kemungkinan besar karena tekanan perburuan di desa-desa pinggiran hutan.

“Akibatnya, burung-burung ini pindah ke kota yang dianggap lebih aman.”

Untuk menjaga hubungan harmonis, Rangga menyediakan biji-bijian di depan rumahnya sebagai makanan tekukur maupun perenjak jawa (Prinia familiaris).

“Asalkan di pekarangan rumah ada pohon, burung-burung ini pasti datang. Mereka tidak takut dengan kehadiran manusia,” katanya.

Interaksi ini, tidak hanya membawa kebahagiaan tetapi juga mengurangi rasa jenuh.

“Bagi saya, kicau burung memiliki efek terapeutik yaitu mengurangi stres setelah beraktivitas seharian.”

Baca: Minat Memelihara Burung Tinggi Membuat Eksistensinya di Alam Terancam

 

Burung tekukur merupakan jenis yang mudah berinteraksi dengan lingkungan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Spesies Adaptif

Jihad, Senior Biodiversity Officer Burung Indonesia, menjelaskan, tekukur merupakan spesies yang sangat adaptif dan mudah ditemukan di pedesaan maupun perkotaan.

Dikarenakan mudah ditemukan, tekukur dapat dijadikan bahan penelitian yang menarik, terutama  aspek molekuler, fisiologi, dan patologi. Meski begitu, riset mengenai ekologi dan perilakunya masih jarang.

“Sifat adaptif dan interaksi sosialnya, yaitu caranya merayu pasangan, menarik untuk diteliti. Sebagai langkah awal, tekukur bisa dijadikan pilihan para pemula yang tertarik mempelajari dunia perburungan,” terangnya, Sabtu (4/1/2025).

Tekukur, memiliki sebaran luas meliputi Asia Timur, Asia Tenggara, hingga sebagian Australia. Secara alami, ia menyukai area terbuka seperti padang rumput, taman, persawahan, dan kawasan pertanian.

“Di perkotaan seperti Jakarta, ia masih bisa ditemukan di taman atau area terbuka. Sifatnya yang tidak terlalu sensitif terhadap manusia, menjadikannya mudah diamati.”

 

Di Indonesia populasi burung tekukur masih cukup stabil. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

 

Dituturkan Jihad, adaptasi luar biasa juga terjadi di beberapa tempat seperti di Hawaii. Tekukur yang dilepaskan dari penangkaran berhasil berkembang biak dan menciptakan populasi baru.

Di Indonesia, populasinya cukup stabil.

“Sebagian besar tekukur yang dipelihara merupakan hasil penangkaran, bukan tangkapan liar. Ini penting untuk menjaga keseimbangan populasinya di alam.”

Meski begitu, praktik perburuan tekukur masih terjadi di beberapa daerah, seperti untuk dikonsumsi meski kasus semacam ini tidak terlalu masif.

“Dengan populasi yang stabil dan sifatnya yang mudah interaksi, tekukur menjadi bagian penting ekosistem lingkungan dan budaya masyarakat Indonesia,” paparnya.

 

Foto: Perkutut yang Dekat dengan Kehidupan Manusia

 

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

Terobosan! Ilmuwan Identifikasi Macan Tutul Lewat Auman dengan Akurasi 93%

Next Post

Sulitnya Masyarakat Adat Dapatkan Pengakuan dan Perlindungan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Perkasa! Kontingen Taekwondo Aceh Besar Kokoh Puncaki Klasemen Pra PORA 2026

Perkasa! Kontingen Taekwondo Aceh Besar Kokoh Puncaki Klasemen Pra PORA 2026

Minggu (17/05/2026) - 21:57 WIB
1 Zulhijjah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026, Iduladha 27 Mei

1 Zulhijjah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026, Iduladha 27 Mei

Minggu (17/05/2026) - 21:49 WIB
Sekda Aceh Dorong KORMI Perkuat Budaya Olahraga Masyarakat

Sekda Aceh Dorong KORMI Perkuat Budaya Olahraga Masyarakat

Minggu (17/05/2026) - 21:46 WIB
Kru Kapal Pesiar Asal Filipina Dievakuasi Basarnas di Perairan Aceh Besar

Kru Kapal Pesiar Asal Filipina Dievakuasi Basarnas di Perairan Aceh Besar

Sabtu (16/05/2026) - 23:28 WIB
Kisah Hartati, Korban Banjir Aceh Tamiang yang Tetap Penuhi Panggilan Haji

Kisah Hartati, Korban Banjir Aceh Tamiang yang Tetap Penuhi Panggilan Haji

Sabtu (16/05/2026) - 22:18 WIB
Muhammad Amin dan Istri Wujudkan Impian Haji dari Hasil Jualan Ikan dan Kacang Asin

Muhammad Amin dan Istri Wujudkan Impian Haji dari Hasil Jualan Ikan dan Kacang Asin

Kamis (14/05/2026) - 17:18 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.