Banda Aceh- Dinas Kesehatan Provinsi Aceh melaksanakan sosialisasi kusta kepada masyarakat pada peringatan hari kusta sedunia di Blang Padang, Minggu (04/02/2024).
Kasus Kusta di Aceh pada lima tahun terakhir mengalami kenaikan pada tahun 2023 yaitu sebanyak 248 kasus dalam satu tahun. Dalam kasus baru tersebut 20 kasus terbaru berasal dari Kota Banda Aceh dan 21 kasus di Aceh Besar.
”Dari tingkat tersebut ada sekitar 340 pasien yang masih terdaftar sisa dari pasien sebelumnya yang pengobatannya belum selesai. Untuk daerah yang dekat dengan kita, itu sudah 20% dari kasus yang ada di Aceh,” ungkap Imam Murahman, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Aceh.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Aceh bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh dan Persatuan Dokter Spesialis Kulit Indonesia Wilayah Aceh untuk memperingati hari kusta sedunia yang jatuh pada tanggal 29 Januari 2024.
”Tujuan dilaksanakan sosialisasi kepada masyarakat agar masyarakat tau apa itu kusta, gejala-gejala kusta dan cara pencegahan dari kusta tersebut,” ujar Imam.
Imam mengatakan sosialisasi kusta tersebut merupakan yang pertama dilakukan di luar gedung rumah sakit untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat.
“Biasanya kegiatan ini dilakukan dengan media-media cetak dan radio,” ujarnya.
Kegiatan sosialisasi akan terdiri dari edukasi masyarakat, konsultasi kulit bersama dokter spesialis kulit dan edukasi kulit dan pembagian sunblock gratis yang ditargetkan pada 30-40 masyarakat.
Imam menjelaskan bahwa penyakit kusta memiliki bakteri yang sama dengan Tubercolosis (TBC). TBC lebih cepat menular melalui droplet (lendir yang dihasilkan oleh saluran pernafasan) sementara penyakit kusta ditularkan dengan kontaminasi 3-4 tahun secara terus-menerus.
”Di antara 100 orang yang terpapar, hanya ada 5 yang kemudian sakit dan kemudian 3 di antaranya sembuh sendiri. Hanya 1 atau 2 yang tertular. Sebenarnya penyakit ini sulit menular, namun kita belum selesai-selesai dengan penyakit ini,” ungkap Imam.
Ia menjelaskan bahwa gejala awal dari penyakit kusta tersebut bermula bewarna putih seperti panu, kemudian tidak ditumbuhi bulu, tidak ada rasa dan kemudian menyerang syaraf terutama syaraf-syaraf tepi seperti di siku, dan tangan.
Jika dibiarkan tahunan, maka akan membuat syaraf-syaraf di tangan menjadi kaku dan akan cacat seperti dicakar harimau dan kemudian di hidung akan patah, serta dapat menyerang kaki sehingga menjadi cacat permanen.
Imam menjelaskan pengobatan kusta dilakukan dengan rawat jalan bisa sekitar 6-12 bulan. Dia juga menyebutkan untuk yang mengalami kecacatan maka akan dilakukan rehabilisasi medik di rumah sakit.
Ia berharap dengan dilaksanakannya sosial edukasi tersebut maka akan lebih dapat mengedukasi masyarakat untuk mencegah penularan kusta dan kasus kusta di Aceh akan semakin menurun.










