Selasa, Juni 16, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home NASIONAL

Toleransi Beragama di Tanjungpinang Bersemi Sejak Era Kolonial

Redaksi Oleh Redaksi
Minggu (01/05/2022) - 19:30 WIB
in NASIONAL
0
Objek wisata kampung pelangi, di Kampung Bugis, Tanjungpinang, Kepri.

Kedatangan orang China ke Pulau Bintan terjadi sejak dibukanya perkebunan gambir.

JAKARTA  — Ketua Rumah Moderasi Beragama STAIN Sultan Abdulrahman Kepulauan Riau, Zulfa Hudhiyani, mengatakan sejak era kolonial toleransi antarumat beragama sudah bersemi di Tanjungpinang. Hal itu dibuktikan dengan beragamnya etnis serta rumah ibadah di wilayah tersebut.


“Tanjung Pinang termasuk dalam kategori kota kolonial dan kota dagang. Banyaknya etnis yang mendiami wilayah tersebut dan hidup secara berdampingan menjadi salah satu bukti sejarah penerapan moderasi beragama,” ujar Zulfa dalam FGD Keberagaman di Tanah Melayu yang diikuti dari Jakarta, beberapa waktu lalu.


Zulfa menjelaskan penduduk di Tanjungpinang awalnya didominasi oleh etnik Melayu yang beragama Islam. Dalam perkembangannya muncul etnik-etnik lain dan berbaur dengan masyarakat setempat seperti Bugis, Minangkabau, Jawa, dan Tionghoa.


Kedatangan orang China ke Pulau Bintan terjadi secara besar-besaran sejak dibukanya perkebunan gambir dan lada pada 1740-an pada era Daeng Celak. Setiap etnik itu kemudian membentuk paguyuban/koloni yang menyebar ke setiap penjuru wilayah Tanjungpinang.


“Ada 10.000-an orang Tionghoa yang bekerja di perkebunan gambir dan lada di Pulau Bintan pada abad ke-18,” kata dia.


Saat itu pemilik kebun merupakan masyarakat Melayu dan Bugis. Mereka menerima kedatangan orang Tionghoa yang eksodus dari pulau Jawa. Etnis Tionghoa ini kemudian menjadi etnik utama selain etnik Melayu di Tanjungpinang.


Menurutnya, berseminya toleransi yang merupakan perwujudan moderasi beragama ditunjukkan dengan adanya pembangunan gereja di Tanjung Pinang pada 1835-an.Menariknya, Kesultanan Riau Lingga lewat Raja Abdul Rahman dan Kapitan Tan Hoo ikut memberikan bantuan berupa uang dan tenaga dalam pembangunan gereja tersebut.


Gereja ini awalnya dimanfaatkan untuk ibadah orang Belanda yang kini dikenal dengan sebutan Gereja Ayam.Dalam menciptakan harmonisasi antarumat beragama, Pemerintah Kolonial Belanda membangun rumah ibadah berdekatan. Gereja Protestan dibangun berdekatan dengan Masjid Keling yang kini dikenal sebagai Masjid Agung Al Hikmah, serta Klenteng Tien Hou Kong atau Vihara Bahtra Sasana.


“Saat misionaris dari Jerman datang ke Tanjungpinang pada 1834 belum ada gereja di Tanjung Pinang. Rumah ibadah yang ditemui hanya Masjid Keling dan Kelenteng di Kampung China. Masjid Keling ini dibangun para perantau dari India atau orang Keling,” kata dia.


Pihak Kesultanan Riau, kata dia, memberikan hak yang sama kepada semua etnik yang ada untuk menjalankan aktivitas ekonomi termasuk urusan keagamaan. Kesultanan saat itu mengeluarkan plakat yang isinya memperbolehkan membuka ladang gambir bagi masyarakat Tionghoa.”Pihak Kerajaan Riau Lingga ini akan menghukum siapa saja yang mengganggu usaha gambir orang Tionghoa,. Termasuk memberikan izin kepada siapa saja untuk pemakaian tanah untuk kebun dan sebagainya, tak ada keistimewaan bagi siapapun,” kata dia.


Plakat tersebut juga menjadi penanda dalam menciptakan berbagai ketertiban di masyarakat. Plakat ini sebagai pedoman agar terciptanya hubungan harmonis di tengah masyarakat yang multietnis.

sumber : Antara

Sumber: Republika

Tags: bintankerukunan beragamakerukunan beragama tanjungpinangtanjungpinang
ShareTweetPin
Previous Post

Rusia Culik Dua Warga Inggris di Ukraina

Next Post

TransJakarta Antar Warga yang Ingin Sholat Idul Fitri di JIS, Ini Jadwalnya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Zulkifli H. Adam Resmi Pimpin DPD PAN Sabang

Zulkifli H. Adam Resmi Pimpin DPD PAN Sabang

Senin (15/06/2026) - 16:10 WIB
Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, BPS Aceh Terjunkan Petugas ke Seluruh Pelosok Serambi Mekkah

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, BPS Aceh Terjunkan Petugas ke Seluruh Pelosok Serambi Mekkah

Senin (15/06/2026) - 15:51 WIB
Satu Tahun Kepemimpinan Zulkifli–Suradji, Melanjutkan dan Menguatkan Pembangunan Sabang

Satu Tahun Kepemimpinan Zulkifli–Suradji, Melanjutkan dan Menguatkan Pembangunan Sabang

Senin (15/06/2026) - 15:48 WIB
PPIH Aceh Matangkan Persiapan Debarkasi, Kloter Pertama Tiba Malam Ini

PPIH Aceh Matangkan Persiapan Debarkasi, Kloter Pertama Tiba Malam Ini

Senin (15/06/2026) - 15:44 WIB
Buka Perjusa MIN 27 Aceh Besar, Yahwa Tekankan Kemandirian, Ukhuwah, dan Jaga Ibadah

Buka Perjusa MIN 27 Aceh Besar, Yahwa Tekankan Kemandirian, Ukhuwah, dan Jaga Ibadah

Sabtu (13/06/2026) - 21:45 WIB
Dua Kloter Jemaah Haji Aceh Tiba di Madinah, Berikut Aktivitasnya

Jelang Kepulangan Jamaah Haji, PPIH Aceh Optimalkan Layanan Debarkasi

Sabtu (13/06/2026) - 21:42 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.