Banda Aceh – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Aceh dinilai perlu ditinjau ulang selama bulan suci Ramadan. Pengamat kebijakan publik, Nasrul Zaman, menilai kebijakan tersebut berpotensi tidak efektif jika tetap dijalankan tanpa penyesuaian dengan kondisi sosial dan kalender pendidikan di daerah tersebut.
Menurut Nasrul, karakteristik pendidikan di Aceh yang umumnya memberlakukan libur sekolah atau pengurangan jam belajar secara signifikan selama Ramadan menjadi faktor utama yang perlu dipertimbangkan.
“Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Aceh memerlukan peninjauan ulang yang serius di bulan suci Ramadan guna menghindari ketidakefektifan anggaran,” kata Nasrul Zaman, Selasa (24/2/2026).
Ia menjelaskan, dengan tidak maksimalnya kehadiran siswa di sekolah, distribusi makanan bergizi menjadi tidak relevan karena kehilangan subjek utama penerima manfaat.
“Tanpa adanya kehadiran siswa secara penuh di kelas, penyaluran makanan bergizi kehilangan subjek utamanya, sehingga anggaran yang dialokasikan berisiko besar menjadi sia-sia dan tidak mencapai target sasaran yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Selain persoalan administratif sekolah, Nasrul juga menyoroti faktor sosiokultural masyarakat Aceh yang dikenal kuat dalam menjalankan ibadah puasa. Ia menilai kondisi tersebut turut memengaruhi efektivitas program jika tetap dipaksakan berjalan.
“Siswa-siswi yang sedang menjalankan ibadah puasa cenderung enggan mengambil jatah makanan untuk dibawa pulang karena risiko kerusakan atau basi sebelum waktu berbuka tiba,” jelasnya.
Ia menambahkan, skema distribusi dengan sistem dibawa pulang justru berpotensi menimbulkan pemborosan pangan dalam skala besar.
“Memaksakan distribusi dalam format ‘bawa pulang’ hanya akan memicu pemborosan pangan yang masif, yang secara langsung mencederai prinsip efisiensi anggaran negara,” tegas Nasrul.
Atas dasar itu, ia menilai langkah paling bijak adalah menghentikan sementara penyaluran MBG selama Ramadan di Aceh dan mengoptimalkan penggunaan anggaran pada periode setelahnya.
“Oleh karena itu, langkah paling bijak adalah menghentikan sementara penyaluran MBG selama bulan Ramadan di Aceh dan mengalihkan sisa anggaran tersebut untuk penguatan kualitas gizi pada bulan-bulan berikutnya agar manfaatnya jauh lebih optimal dan tepat guna bagi pertumbuhan generasi muda Aceh,” tandasnya.[]








