Selasa, Agustus 25, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Mikroba Berusia 2 Miliar Tahun di dalam Bebatuan Afrika Selatan dan Masih Hidup

Redaksi Oleh Redaksi
Selasa (08/10/2024) - 09:31 WIB
in DAERAH
0
Mikroba Berusia 2 Miliar Tahun di dalam Bebatuan Afrika Selatan dan Masih Hidup

#image_title

  •  Para ilmuwan menemukan mikroba hidup di dalam batuan berusia 2 miliar tahun di Afrika Selatan, memecahkan rekor ekosistem mikroba tertua yang pernah ditemukan.
  • Mikroba ini bertahan hidup dalam kondisi terisolasi, miskin energi, dan tanpa sinar matahari di dalam rekahan batuan yang tertutup lapisan tanah liat.
  • Penemuan ini membuka kemungkinan adanya kehidupan di lingkungan serupa di planet lain, seperti Mars, dan memberikan wawasan baru tentang evolusi kehidupan di Bumi.

Para peneliti telah menemukan komunitas mikroba hidup di dalam batuan berusia 2 miliar tahun yang diambil dari Kompleks Batuan Beku Bushveld (BIC/Bushveld Igneous Complex ) di Afrika Selatan. BIC, formasi geologi yang luasnya kira-kira seluas Propinsi Riau, terbentuk dari pendinginan magma di bawah permukaan Bumi dan kaya akan deposit mineral berharga, termasuk platinum. Di dalam rekahan batuan vulkanik felsik yang mengandung mineral seperti kuarsa dan feldspar, mikroba-mikroba ini ditemukan terisolasi dan bertahan hidup dalam kondisi ekstrem selama miliaran tahun.

Sampel batuan yang mengandung mikroba ini digali dari kedalaman hampir sekitar 15 meter di bawah permukaan tanah. Penemuan ini menandakan ekosistem mikroba tertua yang pernah diidentifikasi di dalam batuan dan memberikan kesempatan unik untuk mempelajari kehidupan purba di Bumi, sekaligus membuka kemungkinan menemukan kehidupan di lingkungan serupa di planet lain.

Memecahkan Rekor Mikroba Tertua

Penemuan ini secara signifikan memperbarui pemahaman kita tentang batas usia kehidupan mikroba di dalam batuan. Rekor sebelumnya dipegang oleh mikroba yang ditemukan dalam sedimen laut berusia sekitar 100 juta tahun. Namun, mikroba yang ditemukan di BIC ini berusia jauh lebih tua, yaitu sekitar 2 miliar tahun. Tim peneliti yang dipimpin oleh Yohey Suzuki dari Universitas Tokyo menggunakan kombinasi teknik canggih untuk memverifikasi penemuan ini. Mereka menggabungkan tiga jenis pendekatan pencitraan: spektroskopi inframerah dan mikroskop elektron digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis mikroba, sementara mikroskop fluoresen memvisualisasikan sel-sel mikroba di dalam batuan.

Green dye highlighting the DNA of microbes in a sample. Oleh Suzuki et al., Microbial Ecology, 2024

Untuk menghilangkan kemungkinan kontaminasi dari proses pengeboran atau penanganan sampel, tim peneliti mengembangkan protokol sterilisasi yang ketat dan melakukan analisis isotop karbon untuk memastikan bahwa mikroba tersebut memang berasal dari batuan purba.

Baca juga: Sinyal Kehidupan Purba di Planet Mars: Temuan Terbaru dari NASA

Bertahan Hidup di Kondisi Ekstrem

Mikroba-mikroba ini, yang kemungkinan termasuk dalam domain Archaea, menghuni rekahan-rekahan di dalam batuan yang terisolasi oleh lapisan tanah liat. Lapisan tanah liat yang kaya akan mineral seperti smectite ini berfungsi sebagai penghalang yang melindungi mikroba dari fluktuasi lingkungan dan radiasi. Selain itu, tanah liat juga menyediakan sumber nutrisi dan air yang esensial bagi kelangsungan hidup mikroba. Endapan tanah liat ini menutup celah-celah di batuan, mengisolasi mikroba dari lingkungan luar, dan menciptakan kondisi yang memungkinkan mereka bertahan hidup selama miliaran tahun.

Sampel batuan tempat ditemukannya mikroba. | Foto oleh Y. Suzuki

Lingkungan yang terisolasi dan miskin energi ini menyebabkan mikroba berada dalam keadaan dorman atau memiliki laju metabolisme yang sangat lambat. Yang menarik, mikroba ini memperoleh energi melalui kemosintesis, yaitu dengan memanfaatkan energi kimia yang dihasilkan dari reaksi antara air dengan mineral di sekitarnya, seperti hidrogen dan metana yang diproduksi melalui interaksi air dengan batuan felsik.

Baca juga: Di Bebatuan Perut Bumi, Makhluk Luar Biasa Ini Hidup

Implikasi bagi Pencarian Kehidupan di Luar Bumi

Implikasi dari penemuan ini sangat luas, terutama dalam pencarian kehidupan di luar Bumi. Kondisi di dalam batuan BIC, dengan keterbatasan nutrisi dan energi, dapat menjadi analogi untuk lingkungan bawah permukaan di Mars atau bulan-bulan es seperti Europa. Jika mikroba dapat bertahan hidup dalam kondisi ekstrem di Bumi selama miliaran tahun, mungkinkah ada kehidupan serupa di planet lain?

Sel mikroba dalam sampel batuan ditandai dengan pewarna hijau. Foto oleh Suzuki dkk., Microbial Ecology, 2024

“Penemuan mikroba di batuan berusia 2 miliar tahun ini membuat saya bersemangat untuk melihat apa yang mungkin kita temukan di sampel dari Mars,” kata Suzuki. “Misi rover Perseverance NASA yang akan membawa kembali sampel batuan dari Mars akan memberikan kesempatan yang menarik untuk menguji hipotesis ini.”

Dengan mempelajari DNA dan genom mikroba purba ini, yang mungkin mengandung informasi genetik unik yang telah berevolusi secara independen selama miliaran tahun, para ilmuwan berharap dapat mengungkap lebih banyak tentang evolusi awal kehidupan di Bumi. Studi lebih lanjut tentang komunitas mikroba ini dapat memberikan wawasan tentang keanekaragaman hayati, strategi adaptasi, dan sejarah evolusi kehidupan di Bumi pada masa awal. Penemuan ini membuka babak baru dalam pemahaman kita tentang kehidupan di Bumi dan potensi kehidupan di alam semesta.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal ilmiah Microbial Ecology.

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

Bagaimana Nasib Kementerian Lingkungan di Pemerintahan Baru?

Next Post

Mendorong Perkembangan Hukum Lingkungan di Era Antroposen

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Mengenal Aipda Jonni Rahmad, Polisi di Aceh yang Bangun Empat Rumah untuk Fakir Miskin

Mengenal Aipda Jonni Rahmad, Polisi di Aceh yang Bangun Empat Rumah untuk Fakir Miskin

Selasa (25/08/2026) - 15:42 WIB
Wagub Dek Fadh Hadiri Maulid Bersama Ratusan Anak Yatim di Teupin Raya

Wagub Dek Fadh Hadiri Maulid Bersama Ratusan Anak Yatim di Teupin Raya

Selasa (25/08/2026) - 15:38 WIB
Direktur RSUDZA: Reformasi Birokrasi Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat

Direktur RSUDZA: Reformasi Birokrasi Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat

Selasa (25/08/2026) - 15:35 WIB
Seleksi 285 Calon Bintara TNI AD Digelar, Pangdam IM Tekankan Prinsip Tanpa Intervensi

Seleksi 285 Calon Bintara TNI AD Digelar, Pangdam IM Tekankan Prinsip Tanpa Intervensi

Selasa (25/08/2026) - 14:58 WIB
Persiraja Fokus Seleksi Pemain dan Pembenahan Fisik Jelang Pegadaian Championship 2026/27

Persiraja vs Semen Padang Jadi Laga Pembuka, Ini Jadwal Lengkap Musim 2026/27

Selasa (25/08/2026) - 14:15 WIB
Kaposwil Satgas PRR Aceh Dorong Percepatan Rehab-Rekon di Wilayah Terisolir

Kaposwil Satgas PRR Aceh Dorong Percepatan Rehab-Rekon di Wilayah Terisolir

Selasa (25/08/2026) - 12:49 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.