Banda Aceh – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menyelesaikan pembangunan lima Sekolah Rakyat permanen Tahap II di Aceh. Kelima sekolah yang tersebar berlokasi di Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Nagan Raya, Kota Lhokseumawe, dan Kota Subulussalam, kini telah beroperasi untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Pembangunan tersebut dilaksanakan melalui Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Aceh. Kehadiran Sekolah Rakyat diharapkan dapat memperluas kesempatan anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak, sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Aceh, Syarifah Rahimah, mengatakan seluruh Sekolah Rakyat yang dibangun pada tahap kedua tersebut telah dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Kelima lokasi yang dibangun pada tahap kedua ini sudah beroperasi dan telah dimanfaatkan oleh siswa,” kata Syarifah Rahimah, Senin (2/11/2026).
Dia menjelaskan Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, khususnya kelompok desil 1 dan 2. Dalam pelaksanaannya, Kementerian PU bertanggung jawab membangun sarana dan prasarana melalui Direktorat Jenderal Prasarana Strategis, sedangkan pengelolaan serta operasional pendidikan berada di bawah Kementerian Sosial.
Setiap kompleks Sekolah Rakyat dirancang dengan sistem berasrama yang mengintegrasikan jenjang pendidikan sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Masing-masing kompleks memiliki kapasitas hingga 1.080 siswa. Dengan demikian, lima sekolah yang telah dibangun di Aceh diproyeksikan mampu menampung hingga 5.400 siswa.
Saat ini, Syarifah mengatakan bahwa total siswa yang telah memanfaatkan fasilitas Sekolah Rakyat di lima kabupaten dan kota tersebut mencapai 1.932 orang. Rinciannya, sebanyak 434 siswa di Kabupaten Bireuen, 426 siswa di Kabupaten Aceh Besar, 341 siswa di Kota Lhokseumawe, 330 siswa di Kabupaten Nagan Raya, dan 401 siswa di Kota Subulussalam.
Fasilitas yang dibangun tidak hanya mendukung kegiatan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga memenuhi kebutuhan siswa selama tinggal di lingkungan sekolah. Setiap kompleks dilengkapi gedung pendidikan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, asrama putra dan putri, serta rumah susun guru.
Selain itu, tersedia gedung serbaguna, masjid, kantin, dapur dan gudang, rumah tamu atau guest house, rumah pompa, rumah genset, tempat penampungan sementara (TPS), area parkir, lapangan sepak bola, dan lapangan basket.
Membuka Akses Pendidikan bagi Anak Kurang Mampu
Salah satu sekolah yang telah beroperasi adalah Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Nagan Raya di Kecamatan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya. Kehadiran sekolah tersebut menjadi salah satu upaya membuka kembali kesempatan pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya memiliki keterbatasan dalam mengakses layanan pendidikan.
Wakil Humas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Nagan Raya, M Rizki Asyifa, mengatakan sekolah tersebut memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh pendidikan sekaligus mendapatkan pendampingan dalam proses tumbuh kembang mereka.
“Dengan adanya sekolah ini, mereka bisa kembali merasakan bangku pendidikan. Ada siswa yang sebelumnya belum bisa membaca dan berhitung, tetapi sekarang sudah mulai kami ajarkan,” kata Rizki.
Menurutnya, layanan yang diberikan tidak terbatas pada pendidikan formal. Para siswa juga memperoleh fasilitas asrama, pakaian sekolah, pakaian sehari-hari, serta berbagai kebutuhan pribadi yang diperlukan selama mengikuti pendidikan.
Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, sekolah menyediakan makanan tiga kali sehari dan makanan ringan dua kali sehari. Fasilitas tersebut diberikan agar kebutuhan dasar siswa tetap terpenuhi selama menjalani kegiatan belajar dan tinggal di asrama.
Pada awal masa pendidikan, sejumlah siswa mengalami kesulitan beradaptasi karena harus menjalani kehidupan sehari-hari jauh dari keluarga. Untuk menjaga hubungan antara siswa dan orang tua, pihak sekolah memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mengunjungi anak-anak mereka setiap Sabtu dan Ahad.
Seiring berjalannya waktu, para siswa mulai terbiasa mengikuti pola kehidupan di asrama. Setelah sekitar tiga bulan, mereka semakin mengenal rutinitas harian yang telah ditetapkan sekolah, mulai dari bangun pagi, melaksanakan salat Subuh, mengikuti kegiatan pembelajaran, makan bersama, hingga menjalani kegiatan keagamaan.
Pembinaan karakter juga menjadi bagian dari kegiatan pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Nagan Raya. Para siswa mengikuti pengajian rutin setelah salat subuh dan magrib, kegiatan keagamaan pada malam Jumat, serta pembinaan karakter Islami melalui pendampingan wali asuh dan wali asrama.
Pendampingan tersebut dilakukan untuk membantu siswa membangun kedisiplinan, kemandirian, dan kebiasaan hidup teratur. Dengan sistem berasrama, proses pendidikan diharapkan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan pengembangan kepribadian siswa.
“Alhamdulillah, beberapa di antaranya sudah bisa membaca. Jadi, kehadiran Sekolah Rakyat ini sangat membantu anak-anak yang sebelumnya tidak mendapatkan akses pendidikan,” kata Rizki.[]








