Banda Aceh – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria mendorong perguruan tinggi mengambil peran strategis dalam pengembangan ekosistem kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia.
Perguruan tinggi dinilai memiliki posisi penting dalam menyiapkan talenta digital, mengembangkan riset, serta mendorong pemanfaatan teknologi AI untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Nezar saat menjadi pembicara kunci dalam seminar terbuka bertajuk Aceh dalam Peta AI Nasional: Infrastruktur, Talenta, dan Ekosistem di Auditorium Prof Ali Hasymi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Senin (2/11/2026).
Menurut Nezar, Indonesia memiliki peluang untuk bersaing dalam perkembangan AI global. Peluang tersebut tidak harus ditempuh dengan menciptakan model AI terbesar, tetapi dapat dibangun melalui kemampuan mengadopsi dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan publik dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dia menjelaskan, peta persaingan AI dunia mulai mengalami pergeseran. Jika sebelumnya kompetisi didominasi negara-negara besar yang berlomba mengembangkan model AI generasi terdepan (frontier AI), kini peluang juga terbuka melalui penerapan teknologi tersebut dalam berbagai sektor kehidupan.
Pengembangan model AI mutakhir membutuhkan investasi besar, dukungan cip pemroses grafis (graphics processing unit/GPU) dalam jumlah masif, serta konsumsi energi yang tinggi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi negara berkembang untuk terlibat langsung dalam kompetisi pengembangan teknologi paling mutakhir.
Namun, Nezar menilai Indonesia tidak harus memulai dari jalur yang sama. Keunggulan dapat dibangun melalui kecepatan mengadopsi AI untuk meningkatkan pelayanan publik, mendorong aktivitas ekonomi, dan menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
“Di perlombaan adaptasi, kita tidak start dari belakang. Kemenangan ditentukan oleh siapa yang paling berani memakai AI untuk pelayanan publik yang lebih manusiawi dan ekonomi yang lebih personal,” kata Nezar.
Dia menyebut empat aspek yang perlu diperhatikan Indonesia dalam membangun ekosistem AI, yakni akses terhadap teknologi dan kedaulatan digital, transformasi tata kelola pemerintahan, penguatan posisi dalam rantai nilai industri, serta kesiapan sumber daya manusia menghadapi perubahan dunia kerja akibat otomatisasi.
Nezar juga menekankan pentingnya memastikan masyarakat memiliki akses terhadap teknologi AI berkualitas tanpa ketergantungan pada satu penyedia teknologi. Selain itu, peningkatan keterampilan melalui program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan kompetensi (upskilling) diperlukan agar masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.
UIN Ar-Raniry dan Indosat Perkuat Ekosistem Digital
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan PT Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) tentang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
MoU tersebut ditandatangani Rektor UIN Ar-Raniry Prof Dr Mujiburrahman MAg dan Head of Circle Sumatra PT Indosat Ooredoo Hutchison Agus Sulistio.
Mujiburrahman mengatakan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri menjadi bagian penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi transformasi digital.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, berpikir kritis, serta memahami aspek etika dan tanggung jawab dalam pemanfaatan AI.
Dia berharap kerja sama dengan Indosat dapat membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan kompetensi digital, mengembangkan penelitian, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Mujiburrahman juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut mengambil peran sebagai pencipta gagasan, pengembang inovasi, dan bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Menurutnya, perkembangan teknologi yang berlangsung cepat harus dihadapi dengan kesiapan, kreativitas, dan kemauan untuk terus belajar. Mahasiswa juga diharapkan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas wawasan dan membangun jejaring dengan praktisi maupun pemangku kebijakan.
Dia menambahkan, UIN Ar-Raniry ingin mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai kebutuhan daerah, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, penguatan UMKM, pengembangan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Dengan kolaborasi tersebut, Aceh diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari transformasi digital nasional, tetapi juga mampu memberikan kontribusi melalui pengembangan riset dan inovasi yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Sementara itu, Head of Circle Sumatra PT Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio, mengatakan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence(AI) tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur jaringan, tetapi juga membutuhkan kesiapan talenta dan ekosistem kolaborasi.
“AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, tetapi telah mengubah cara masyarakat belajar, bekerja, berbisnis, dan berinovasi. Kemajuan digital akan semakin bermakna ketika konektivitas didukung oleh talenta yang kompeten dan ekosistem kolaborasi yang kuat,” ujar Agus.
Dia menilai Aceh memiliki potensi besar dalam pengembangan ekosistem digital, didukung bonus demografi dan tingginya proporsi penduduk usia produktif.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang melek digital, mampu berinovasi, serta memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.
“Indosat berkomitmen memperkuat infrastruktur dan ekosistem digital serta memberdayakan masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa,” katanya.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry Prof Muji Mulia mengatakan Aceh perlu mengambil bagian dalam perkembangan AI nasional melalui penguatan infrastruktur, pengembangan talenta, dan pembentukan ekosistem digital.
Menurutnya, pemanfaatan AI dapat diarahkan untuk mendukung berbagai sektor di Aceh, mulai dari promosi usaha kopi dan produk lokal, pengembangan pariwisata, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pelayanan publik.
Namun, dia mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi tersebut perlu memperhatikan prinsip keadilan, keterbukaan, perlindungan data pribadi, serta tanggung jawab dalam penggunaannya.
Seminar tersebut turut menghadirkan SVP Regulatory and Government Affairs PT Indosat Tbk Ajar Edi, Capability Building Lead PT Indosat Tbk Aris Budiyanto, serta Executive Director Catalyst Policy Works Wahyudi Djafar sebagai panelis.[]








