Rabu, April 22, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Konflik Manusia dengan Buaya Muara Masih Terjadi di NTT, Mengapa?

Redaksi Oleh Redaksi
Rabu (05/03/2025) - 11:00 WIB
in DAERAH
0
Konflik Manusia dengan Buaya Muara Masih Terjadi di NTT, Mengapa?

#image_title

 

  • Konflik manusia dengan buaya muara masih terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
  • Data BBKSDA NTT menunjukkan, sejak 2019 hingga Februari 2025, telah terjadi 60 konflik. Sebanyak 31 orang meninggal dan 29 orang terluka hingga cacat.
  • Masyarakat diminta menghindari wilayah yang sudah dipasang papan peringatan bahaya buaya, serta tidak menurunkan anggota tubuh saat berperahu. Jika terpaksa melakukan aktivitas mandi dan mencuci di sungai, usahakan membangun pagar
  • Buaya muara [Crocodylusporosus] tersebar luas di perairan Indonesia, mulai Sumatera hingga Papua. Buaya muara biasa ditemukan di air keruh yang dalam dan gelap. Ia memangsa amfibi, krustasea, reptil kecil, hinga ikan. Semakin besar tubuhnya, semakin besar mangsanya.

 

Telepon kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) berdering, Senin (24/2/2025), sekitar pukul 13:54 WITA. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kupang melaporkan warga Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, resah dengan kemunculan buaya di sekitar permukiman. Merespons laporan tersebut, tiga anggota Unit Penanganan Satwa (UPS) Balai diturunkan.

Di lokasi, tim menemukan seekor buaya muara dan memutuskan untuk menangkapnya menggunakan snar bite dan harpoon. Snar bite merupakan alat terbuat dari kawat sling yang berfungsi sebagai perangkap sedangkan harpoon terbuat dari gagang dan mata tombak yang tersambung pada sebuah tali kecil.

“Buaya jantan yang ditangkap itu panjangnya 2,4 meter dan diamankan di kandang penampungan sementara,” jelas Arief Mahmud, Kepala BBKSDA NTT, melalui keterangan tertulisnya, Rabu (26/2/2025).

Menurut Arief, sejak 2019 hingga Februari 2025, sudah terjadi 59 konflik. Sebanyak 31 orang meninggal dan 28 orang terluka hingga cacat.

Kejadian terbanyak di Kabupaten Kupang (18 kasus), Malaka (9 kasus), Sumba Timur dan Sumba Barat Daya (7 kasus), Lembata (6 kasus), Timor Tengah Selatan (5 kasus), Belu dan Rote Ndao (2 kasus), serta Ende, Sikka dan Kota Kupang (1 kasus).

“Serangan buaya biasanya terjadi saat warga mancing, atau ketika mandi dan mencuci,” jelasnya.

Terbaru, mengutip situs BBKSDA NTT, konflik kembali terjadi pada 28 Februari 2025. Yafet Maak, warga Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, diserang buaya saat memanah ikan di Danau Tuadale. Korban selamat dan dirawat di Rumah Sakit Ben Boi Kupang.

Baca: Konflik Manusia dan Buaya Muara Kembali Terjadi di NTT. Bagaimana Pencegahannya?

 

Buaya muara tersebar luas di perairan Indonesia, mulai Sumatera hingga Papua. Foto: Wikimedia Commons/Richard Fisher/CC BY 2.0

 

Laporan kemunculan buaya muara

Sejak awal 2025, pihak balai telah menerima lima laporan kemunculan buaya muara.

“Pada musim hujan, ketika air sungai meluap, biasanya buaya bergerak ke daratan atau hulu. Situasi ini harus diwaspadai, terutama masyarakat yang beraktivitas di sungai maupun dekat muara,” terang Arief.

Masyarakat diminta menghindari wilayah yang sudah dipasang papan peringatan bahaya buaya, serta tidak menurunkan anggota tubuh saat berperahu. Jika terpaksa melakukan aktivitas mandi dan mencuci di sungai, usahakan membangun pagar pembatas.

“Segera lapor ke pemerintah atau kepolisian setempat saat melihat kemunculan buaya,” paparnya.

Baca juga: Kebiasaan Unik Buaya Muara, Mempelajari Pola dan Gerakan Mangsanya

 

Buaya muara [Crocodylus porosus] yang memiliki pola mempelajari kebiasaan mangsanya sebelum menerkam. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

 

Pendidikan lingkungan

Yuvensius Stefanus Nonga, Deputi Walhi NTT, mengatakan pemerintah perlu mengambil langkah-langkah pencegahan agar konflik tidak terus berulang.

“Pemetaan wilayah antara habitat buaya dan tempat tinggal manusia serta titik-titik akses masyarakat ke pesisir harus ada,” jelasnya, beberapa waktu lalu.

Menurut Yuven, secara teknis harus ada kebijakan daerah yang melindungi habitat buaya. Peraturan ini bertujuan memastikan perlindungan ruang hidup satwa, selain menjauhkannya dari konflik dengan manusia.

“Pastikan juga tidak ada aktivitas yang mengancam habitat buaya, serta ada pendidikan lingkungan bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan satwa liar,” jelasnya.

 

Buaya muara ini ditangkap petugas BBKSDA NTT di Kali Manusak, Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, pada Senin, 24 Februari 2025. Foto: Dok. BBKSDA NTT

 

Buaya muara mudah beradaptasi

Mengapa buaya menyerang manusia? Berdasarkan keterangan IUCN Crocodile Specialist Group, insiden serangan buaya terhadap manusia dapat terjadi karena :

  1. Buaya mencari makan: Semua jenis buaya bersifat oportunis. Bertambah besar tubuhnya maka bertambah besar pula mangsanya dan ukuran tubuh manusia sesuai kriteria tersebut.
  2. Mempertahan wilayah teritorial: Berbagai jenis buaya, termasuk buaya muara, memiliki wilayah jelajah dan akan mempertahankan area tersebut terhadap para pengganggu, termasuk kehadiran manusia.
  3. Mempertahankan sarang  atau  anak: Sifat protektif ini dilakukan untuk melindungi telurnya dari serangan predator.
  4. Salah target: Kejadian ini bisa terjadi saat buaya bermaksud menyerang anjing atau binatang lain yang berada dekat manusia. Atau, nelayan yang hendak memeriksa jaring diserang dikarenakan buaya tertarik dengan ikan di jaring tersebut.
  5. Bentuk pertahanan diri: Sebagaimana umumnya satwa liar, buaya juga akan mempertahankan diri dalam kondisi terancam.

 

Buaya muara [Crocodylus porosus] tersebar luas di perairan Indonesia, mulai Sumatera hingga Papua. Jenis ini merupakan predator puncak yang mudah beradaptasi. Pada individu dewasa warna tubuhnya lebih gelap ketimbang remaja. Bagian ventral tubuhnya berwarna kuning gading kecuali bagian ekor yaitu abu-abu.

Ukuran individu jantan mencapai 5-6 meter, sedangkan betina kisaran 2,5-3 meter. Kematangan seksual biasanya pada umur 10 tahun. Buaya muara biasa ditemukan di air keruh yang dalam dan gelap. Ia memangsa amfibi, krustasea, reptil kecil, hinga ikan.

Mengutip Australia Zoo, saat musim kawin, yang biasanya terjadi pada musim hujan, buaya jantan besar akan keliling untuk melindungi wilayah teritorinya dari ancaman jantan lain. Antara 4-6 minggu setelah masa kawin, betina akan bertelur 40-60 butir di sarangnya.

 

DAS Rusak, Biang Konflik Manusia dengan Buaya Muara di Bangka Belitung

 

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

Ubi Cilembu, Favorit di Kota, Bukan Pilihan di Daerah Sentra

Next Post

Berikut Lokasi Penukaran Uang Baru untuk Lebaran Idulfitri di Aceh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Pemkab Pulau Buru Kirim 2.000 Botol Minyak Kayu Putih untuk Korban Bencana Aceh

Pemkab Pulau Buru Kirim 2.000 Botol Minyak Kayu Putih untuk Korban Bencana Aceh

Selasa (21/04/2026) - 22:10 WIB
Fadhlullah bersama Menko PMK dan Mendagri Serahkan Bantuan Rumah Rusak Korban Bencana di Aceh Tamiang

Fadhlullah bersama Menko PMK dan Mendagri Serahkan Bantuan Rumah Rusak Korban Bencana di Aceh Tamiang

Selasa (21/04/2026) - 22:08 WIB
Kemenag Tegaskan Tidak Ada Kebijakan Uang Kas Masjid Dikelola Pemerintah

Kemenag Tegaskan Tidak Ada Kebijakan Uang Kas Masjid Dikelola Pemerintah

Selasa (21/04/2026) - 22:04 WIB
Polda Aceh Limpahkan Dua Berkas Korupsi Beasiswa BPSDM ke JPU

Polda Aceh Limpahkan Dua Berkas Korupsi Beasiswa BPSDM ke JPU

Selasa (21/04/2026) - 15:54 WIB
BSI Perkuat Transformasi Digital untuk Layanan Keuangan Syariah yang Aman dan Inklusif

BSI Perkuat Transformasi Digital untuk Layanan Keuangan Syariah yang Aman dan Inklusif

Selasa (21/04/2026) - 15:50 WIB
Komunitas Pasar Jadi Garda Terdepan, BBPOM Aceh Tingkatkan Kapasitas Pengawasan

Komunitas Pasar Jadi Garda Terdepan, BBPOM Aceh Tingkatkan Kapasitas Pengawasan

Selasa (21/04/2026) - 15:43 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.