Sabtu, Juni 27, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Konflik Manusia dan Satwa Terus Terjadi di Leuser

Redaksi Oleh Redaksi
Sabtu (29/03/2025) - 11:06 WIB
in DAERAH
0
Konflik Manusia dan Satwa Terus Terjadi di Leuser

#image_title

 

 

  • Konflik manusia dan dan satwa seoperti gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) masih terus terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Semakin dekatnya aktivitas manusia ke habitat dan lintasan hewan liar ini jadi penyebab utama. 
  • Edy Simel Sembiring, petani Desa Mekar Makmur, Langkat, Sumatera Utara, jadi korban terbaru konflik gajah dan manusia, Sabtu (22/3/2025). Kejadian tersebut membuat sebagian tubuhnya luka-luka, dan harus menerima perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit di Kota Stabat.
  • Henda Ginting, warga lokal yang tinggal di sekitar tempat kejadian, mengatakan, setidaknya ada 6-12 ekor gajar liar muncul selama 12 hari terakhir di sekitar desa. Satwa dilindungi itu banyak beraktivitas di sekitar kebun sawit PT Rapala.
  • Boby Novandri, Kepala Seksi KSDA Wilayah II Stabat, mengatakan, petugas BBTNGL, warga, dan sejumlah lembaga konservasi terus melakukan penjagaan di sekitar lokasi pasca kejadian. Mengantisipasi kejadian serupa terulang.

 

 

 

Konflik manusia dengan satwa seperti gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) kembali terjadi di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Semakin dekatnya aktivitas manusia ke habitat dan lintasan hewan liar ini jadi penyebab utama. 

Edy Simel Sembiring, petani Desa Mekar Makmur, Langkat, Sumatera Utara, kena serang gajah liar, Sabtu (22/3/25). Sebagian, tubuhnya luka-luka, dan harus menerima perawatan di Rumah Sakit di Kota Stabat.

Henda Ginting, warga lokal yang tinggal di sekitar tempat kejadian, mengatakan, setidaknya ada 6-12  gajar liar muncul selama 12 hari terakhir di sekitar desa. Satwa langka dilindungi itu ada sekitar kebun sawit PT Rapala.

Petugas Balai Besar TNGL bidang Wilayah III Stabat, petugas Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, bersama masyarakat, terus memantau pergerakan gajah dari dalam kawasan TNGL itu. 

Lokasi kejadian merupakan lintasan gajah. “Kalau aku boleh bilang, yang salah itu warganya, semakin dekat mereka berkebun ke sekitar kawasan Leuser, padahal itu wilayah jelajah gajah dan harimau Sumatera.” 

Subhan, Kepala BBTNGL, ketika Mongabay hubungi lewat telepon seluler dan pesan singkat tidak merespons.

Boby Novandri, Kepala Seksi KSDA Wilayah II Stabat, mengatakan, petugas BBTNGL, warga, dan sejumlah lembaga konservasi terus melakukan penjagaan di sekitar lokasi pasca kejadian guna mengantisipasi kejadian serupa terulang.

Warga sempat melapor ihwal keberadaan gajah di perkebunan mereka, 11 Maret. Petugas TNGL, masyarakat, dan sejumlah lembaga konservasi merespons dan mendirikan posko pengamanan, meronda hingga 21 Maret.

Petugas kembali ke pos masing-masing karena gajah tidak terlihat lagi. Nahas, ketika Edy dan rekannya hendak melihat kebun mereka, bertemu gajah dan panik. Apalagi, satu anak gajah bersuara keras, membuat gajah dewasa menyerangnya.

“Benar terjadi interaksi negatif antara gajah sumatera dengan manusia, seorang warga jadi korban. Tim BBTNGL dibantu warga masih ronda di sekitar tempat kejadian perkara,” kata Bobby kepada Mongabay.

 

Gajah Sumatera liar yang mati diduga diracun di perkebunan sawit PT.PISS tak sampai berjarak 1 Km dari kawasan TNGL di Langkat. Foto: Ayat S Karokaro / Mongabay Indonesia

 

Tersiksa di lintasan sendiri

Bio Wildlife menyebutkan, kebutuhan habitat yang luas dan kecukupan pakan buat satwa langka ini tidak berbanding lurus dengan kondisi di lapangan.

Jalur perlintasan dan pakan alami makin hilang, beralih jadi kebun sawit. Tanaman-tanaman lain masyarakat pun terus mendekat ke wilayah jelajah mereka hingga memicu terjadinya konflik.

“Rasanya tidak adil orang menyalahkan gajah yang masuk ke kebun dan ladang warga yang selama bertahun-tahun merupakan wilayah jelajah mereka. Seolah kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita yang merebut ruang hidup satwa yang baik ini, tanpa introspeksi diri,”  kata Reny Manaf, Laboran Bio Wildlife.

Kasus interaksi negatif antara gajah dengan manusia yang menyebabkan cedera orang selalu heboh tetapi tidak begitu ketika korbannya satwa.

“Apakah perlakuan yang sama tentang kekhawatiran dan ketakutan juga ditunjukkan?”

Dia contohkan, kasus serupa tahun 2022. Kala itu, dua gajah  betina tewas dalam kondisi mengenaskan. Bangkai pertama satwa liar itu di sekitar perkebunan di Dusun Aras Napal Kanan, Desa Bukit Mas, Langkat. Warga yang hendak memancing menyampaikan soal bangkai gajah pada petugas TNGL di Stabat. 

Resort KSDA Aras Napal melakukan pengamatan dan menemukan lagi bangkai gajah mulai membusuk. Banyak bekas tusukan dengan usus terburai, dan gading hilang.

Dari hasil pemetaan koordinat petugas, posisi bangkai gajah berada di hutan produksi terbatas yang berbatasan dengan TNGL. Jaraknya hanya 150 meter.

Dari pengamatan, petugas mendapat informasi keberadaan kerangka gajah di lokasi itu. Petugas pun memeriksa lokasi dan mendapatkan kerangka gajah membusuk. Tinggal tulang belulang berceceran. Ada  juga sisa tubuh sudah mencair. Perkiraan gajah mati lebih enam bulan.

Dari floating koordinat, posisi kerangka  berada di area 242 Aras Napal. 140 meter dari hutan taman nasional. Sekitar 1,4 kilometer dari posisi bangkai gajah pertama.

“Dua gajah Sumatera korban konflik tewas dan ini menyedihkan, karena ancaman kepunahan itu semakin dekat. Kita harus berbagi ruang dengan mereka, proses hukum bagi orang yang melakukan pembunuhan terhadap gajah gajah Sumatera ini.” 

 

Konflik dengan harimau

Jerry Ginting, warga Kabupaten Langkat, menjadi korban terbaru konflik manusia dengan harimau di lanskap TNGL. Harimau menerkam pemuda 25 tahun itu ketika masuk TNGL tanpa izin. Dia selamat, tetapi harus jalani perawatan serius di rumah sakit dan dapat 82 jahitan di kepala dan pundak belakang.

Empat hari berselang, M Ikhwan Sembiring, buruh sawit yang sedang memanen tandan buah segar (TBS), jadi korban di Barak Hitam. Warga Desa Mekar Makmur ini luka di bagian paha, kena cakaran harimau.

Sepanjang 2020-2022, harimau Sumatera beberapa kali terlihat di luar kawasan hutan. Ada yang dalam kondisi sakit, ada juga  luka di bagian kaki, kena jerat. 

Data BBTNGL, mereka berhasil menyelamatkan 10 harimau Sumatera yang keluar dari kawasan dan muncul di pemukiman serta kebun warga. Sebagian besar harus menjalani rehabilitasi dan habituasi di sejumlah suaka, sebelum lepas liar kembali di TNGL.

 

Daftar harimau sumatera yang diselamatkan dan dilepasliarkan di TNGL. Sumber: Mamat Rahmat, Mantan Kepala BBTNGL.

 

*****

 

Konflik Satwa dan Manusia: Siapa yang Sebenarnya Mengganggu?

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

Jelang Idulfitri, Warga Karo Terima Alat Shalat dan Al-Quran Baru

Next Post

Nelayan Balikpapan Menang Gugatan Lawan Menteri Perhubungan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Perluasan Basis Pajak Harus Dimulai dari Memulihkan Keadilan

Perluasan Basis Pajak Harus Dimulai dari Memulihkan Keadilan

Jumat (26/06/2026) - 22:33 WIB
Membongkar Ilusi Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Perluasan Basis Pajak

Membongkar Ilusi Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Perluasan Basis Pajak

Jumat (26/06/2026) - 17:29 WIB
Arsitektur Perluasan Basis Pajak di Altar Ketidakpastian Global

Arsitektur Perluasan Basis Pajak di Altar Ketidakpastian Global

Jumat (26/06/2026) - 17:25 WIB
Perluasan Basis Pajak sebagai Proyek Keadilan, Bukan Sekadar Proyek Fiskal

Perluasan Basis Pajak sebagai Proyek Keadilan, Bukan Sekadar Proyek Fiskal

Jumat (26/06/2026) - 17:22 WIB
Lebaran Yatim, Kemenag Aceh Besar Santuni 578 Yatim dan Difabel

Lebaran Yatim, Kemenag Aceh Besar Santuni 578 Yatim dan Difabel

Kamis (25/06/2026) - 13:52 WIB
ISNU Aceh Terima 10 Pojok Baca dari BSI Maslahat untuk Sekolah Terdampak Bencana

ISNU Aceh Terima 10 Pojok Baca dari BSI Maslahat untuk Sekolah Terdampak Bencana

Selasa (23/06/2026) - 23:08 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.