Banda Aceh — Nilai impor Aceh pada Maret 2026 tercatat sebesar 43,17 juta dolar Amerika Serikat (USD). Angka ini mengalami penurunan sebesar 1,58 persen dibandingkan periode Februari 2026.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Agus Andria, mengatakan bahwa meski secara bulanan mengalami penurunan, nilai impor tersebut justru menunjukkan peningkatan signifikan secara tahunan.
“Nilai impor Maret 2026 mengalami kenaikan sebesar 40,57 persen dibandingkan kondisi Maret 2025,” ujar Agus Andria, Selasa (5/5/2026).
Berdasarkan negara asal, impor terbesar pada Maret 2026 berasal dari Amerika Serikat dengan nilai mencapai 22,15 juta USD. Komoditas utama yang diimpor dari negara tersebut adalah gas propana/butana.
Sementara itu, Tiongkok menempati posisi kedua dengan nilai impor sebesar 12,27 juta USD, didominasi komoditas bahan kimia anorganik. Disusul Rusia di peringkat ketiga dengan nilai impor 8,43 juta USD yang mayoritas berupa pupuk.
Secara komoditas, gas propana/butana menjadi penyumbang terbesar impor Aceh dengan nilai 22,15 juta USD atau setara 51,31 persen dari total impor. Kemudian diikuti pupuk senilai 13,11 juta USD (30,38 persen), serta bahan kimia anorganik sebesar 7,58 juta USD (17,56 persen).
Meski impor tercatat cukup besar, neraca perdagangan luar negeri Aceh pada Maret 2026 masih mengalami surplus. Hal ini terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan impor.
“Dengan nilai impor yang lebih kecil dari ekspor, neraca perdagangan Aceh pada Maret 2026 mencatat surplus sebesar 16,16 juta USD,” kata Agus.
Lebih lanjut, berdasarkan data grafik periode Maret 2025 hingga Maret 2026, neraca perdagangan luar negeri Aceh hanya mengalami defisit pada dua bulan, yakni Mei 2025 dan Oktober 2025. Selebihnya, neraca perdagangan berada dalam kondisi surplus.
Data ini menunjukkan bahwa kinerja perdagangan luar negeri Aceh secara umum masih relatif positif dalam satu tahun terakhir.[]









