Banda Aceh – Nilai ekspor asal Aceh pada Maret 2026 tercatat sebesar 59,33 juta dolar AS. Angka ini mengalami penurunan 8,21 persen dibandingkan Februari 2026.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Agus Andria, mengatakan bahwa meski terjadi penurunan secara bulanan, kinerja ekspor secara tahunan justru menunjukkan peningkatan.
“Nilai ekspor Maret 2026 mengalami kenaikan sebesar 4,03 persen jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2025,” kata Agus Andria, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar komoditas ekspor Aceh masih dikirim melalui pelabuhan di dalam provinsi. Nilainya mencapai 52,93 juta dolar AS atau setara 89,22 persen dari total ekspor.
“Sisanya diekspor melalui pelabuhan di provinsi lain, yang didominasi melalui pelabuhan di Sumatera Utara sebesar 6,29 juta dolar AS,” ujarnya.
Dari sisi negara tujuan, India menjadi pasar terbesar ekspor Aceh pada periode tersebut dengan nilai mencapai 51,44 juta dolar AS. Komoditas utama yang dikirim ke negara tersebut adalah batu bara.
“Urutan kedua adalah Amerika Serikat senilai 3,11 juta dolar AS dengan komoditas utama kopi dan rempah-rempah. Ketiga adalah Thailand sebesar 2,04 juta dolar AS, yang juga didominasi batu bara,” jelas Agus.
Secara keseluruhan, batu bara masih menjadi komoditas unggulan ekspor Aceh. Nilainya mencapai 46,85 juta dolar AS atau berkontribusi sebesar 78,96 persen terhadap total ekspor.
Sementara itu, komoditas lainnya meliputi lemak dan minyak nabati (CPO) sebesar 6,07 juta dolar AS (10,24 persen), kopi dan rempah-rempah sebesar 4,99 juta dolar AS (8,40 persen), serta berbagai produk kimia sebesar 1,00 juta dolar AS atau 1,68 persen.
Agus menegaskan bahwa struktur ekspor Aceh masih didominasi oleh komoditas primer, terutama batu bara, yang menjadi penopang utama kinerja ekspor daerah.[]









