Banda Aceh – Nilai impor Provinsi Aceh pada Januari 2026 tercatat sebesar 29,73 juta dolar Amerika Serikat (USD). Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar 44,08 persen dibandingkan Desember 2025 dan turun 60,80 persen dibandingkan Januari 2025.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Agus Andria, mengatakan penurunan impor secara bulanan (month-to-month) maupun tahunan (year-on-year) menunjukkan adanya perlambatan aktivitas impor, terutama pada komoditas energi dan bahan penunjang industri.
“Nilai impor Aceh pada Januari 2026 sebesar 29,73 juta USD. Angka ini turun 44,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan turun 60,80 persen dibandingkan Januari tahun lalu,” kata Agus di Banda Aceh, Senin (2/3/2026).
Berdasarkan negara asal, impor terbesar pada Januari 2026 berasal dari Amerika Serikat dengan nilai 24,19 juta USD. Komoditas utama yang diimpor dari negara tersebut adalah gas propana dan butana.
Posisi kedua negara asal impor terbesar adalah Tiongkok dengan nilai 2,78 juta USD, didominasi komoditas pupuk. Sementara itu, Italia menempati urutan ketiga dengan nilai 2,76 juta USD, terutama berupa mesin dan pesawat mekanik.
Secara komoditas, gas propana dan butana menjadi penyumbang terbesar impor Aceh dengan nilai 24,19 juta USD atau setara 81,39 persen dari total impor Januari 2026.
“Komoditas impor terbesar berikutnya adalah pupuk serta mesin atau pesawat mekanik yang digunakan untuk mendukung kegiatan produksi dan industri,” jelas Agus.
Dengan nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan impor pada periode yang sama, neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada Januari 2026 tercatat mengalami surplus sebesar 17,86 juta USD.
Meski demikian, berdasarkan data Januari 2025 hingga Januari 2026, neraca perdagangan Aceh sempat mengalami defisit pada beberapa bulan, yakni Januari 2025, Februari 2025, Mei 2025, dan terakhir Oktober 2025.
“Kondisi surplus pada Januari 2026 ini menunjukkan perbaikan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya yang sempat mengalami defisit,” kata Agus.
BPS Aceh menegaskan akan terus memantau dinamika ekspor dan impor daerah sebagai indikator kinerja perdagangan luar negeri serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh.[]










