Blangpidie – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menyatakan dukungan terhadap upaya pelestarian warisan budaya daerah melalui pementasan seni tutur Hikayat Dangderia yang digelar Lembaga Aceh Resource and Development (ARD).
Kegiatan ini dinilai menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kembali sastra lisan Aceh kepada generasi muda sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat.
Pementasan yang merupakan bagian kedua dari program “Melestarikan Warisan Budaya Aceh Barat Daya Melalui Ruang Publik Inklusif melalui Seni Tutur (Hikayat Dangderia)” itu berlangsung di Gampong Padang Geulumpang, Kemukiman Iku Lhung, Kecamatan Jeumpa, Selasa malam (14/7/2026), bertepatan dengan pesta walimatul ursyi Hamdani dan Dina Ruspida.
Program tersebut digagas oleh Lembaga Aceh Resource and Development (ARD) dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia Raya, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Setelah sukses menggelar kegiatan serupa pada tahun sebelumnya, ARD kembali menghadirkan pementasan Hikayat Dangderia sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan sastra lisan Aceh yang mengandung nilai sejarah, kepahlawanan, cinta tanah air, dan nilai-nilai keislaman.
Pementasan menghadirkan seniman Barat Selatan Muda Balia dan disaksikan Wakil Bupati Aceh Barat Daya Zaman Akli, Direktur RSUD-TP Ismail Muhammad, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Abdya Safrizal, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Abdya Syekh Sabirin, tokoh masyarakat, serta ratusan warga yang antusias mengikuti jalannya pertunjukan.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Abdya Safrizal mengapresiasi konsistensi ARD dalam menghidupkan kembali seni tutur Aceh melalui pertunjukan yang dikemas menarik.
“Kami sangat berterima kasih kepada Lembaga Aceh Resource Development beserta sponsor yang terus konsisten mendukung pelestarian budaya Aceh. Hikayat Dang Deria bukan hanya hiburan, tapi juga sarana pendidikan karakter bagi generasi muda Abdya,” ujar Safrizal yang akrab disapa Jhon Rolexs.
Dalam pementasan tersebut, Hikayat Dangderia disajikan melalui perpaduan teaterikal dan musik tradisional sehingga lebih mudah dipahami oleh kalangan milenial dan Generasi Z tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Direktur ARD, Misdarul Ihsan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program LPDP yang bertujuan mendorong tumbuhnya ekosistem budaya di daerah.
“ARD ingin memastikan budaya daerah seperti Hikayat Dang Deria tetap hidup dan dikenal luas. Abdya dipilih karena memiliki komunitas seni yang kuat dan masyarakat yang cinta budaya seni tutur,” kata Ihsan.
Sementara itu, Wakil Bupati Abdya Zaman Akli berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas budaya daerah sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian warisan budaya.
“Ini momentum bagus untuk memperkenalkan Abdya tidak hanya dari sisi potensi daerah, tapi juga kekayaan budayanya. Semoga anak-anak muda kita terinspirasi untuk terus melestarikan hikayat,” ujar Zaman Akli.
Melalui kolaborasi antara komunitas budaya, pemerintah daerah, dan dukungan berbagai lembaga, pementasan Hikayat Dangderia diharapkan mampu menjaga keberlangsungan sastra lisan Aceh agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.[]










