Rabu, September 30, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Batam Ekspor Jutaan Kepiting Bakau, Mangrove Harus Terjaga

Redaksi Oleh Redaksi
Sabtu (15/03/2025) - 13:55 WIB
in DAERAH
0
Batam Ekspor Jutaan Kepiting Bakau, Mangrove Harus Terjaga

#image_title

  • Badan Karantina Kepulauan Riau (Kepri) kembali memfasilitasi ekspor komoditas unggulan, kepiting bakau (live crab/Scylla serrata). Ekspor ini mereka kirim melalui Pos Pelayanan Sagulung dan Pos Pelayanan Belakang Padang, Satuan Pelayanan Pelabuhan Telaga Punggur, Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Kepri dengan tujuan Tiongkok.
  • Kepala Karantina Kepri mengatakan ekspor sudah sesuai aturan yang ada, serta potensialnya cukup besar dalam komoditi perikanan.
  • Dalam buku Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berjudul “Profil Pasang Kepiting”, disebutkan, kepiting termasuk salah satu komoditas perikanan yang tinggi peminat dan diperdagangkan secara global.
  • Suhana, ahli ekonomi kelautan Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta ingatkan pemerintah untuk menjaga ekosistem mangrove. Karena jika tidak, kepiting dan rajungan akan hilang karena habitatnya yang terus dibabat.

 

 

 

 

Badan Karantina Kepulauan Riau (Kepri) kembali memfasilitasi ekspor komoditas unggulan, kepiting bakau (live crab/Scylla serrata). Ekspor ini mereka kirim melalui Pos Pelayanan Sagulung dan Pos Pelayanan Belakang Padang, Satuan Pelayanan Pelabuhan Telaga Punggur, Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Kepri dengan tujuan Tiongkok.

Total ada 2.800 kepiting bakau akan ekspor dalam dua kali pengiriman dengan nilai Rp131 juta. Ribuan kepiting itu  tidak hanya berasal dari Batam, namun nelayan di Natuna, Lingga, dan pulau-pulau sekitar Kepri lain.

Herwintarti, Kepala Karantina Kepri bilang, ekspor kepiting bakau di Batam  sesuai dan mengacu pada regulasi yaitu Permen. KP No. 7/2024 tentang Pengelolaan Lobster ( Panulirus spp.), Kepiting ( Scylla spp.) dan Rajungan ( Portunus spp.)

“Kepiting bakau menjadi komoditas ekspor perikanan yang dominan dari Kepri. Tentu ini memerlukan jaminan bahwa media pembawa kepiting yang akan ekspor sesuai  ketentuan dan tidak berpotensi menyebarkan HPIK (hama penyakit Ikan Karantina),” katanya, Februari lalu.

Berdasarkan data Sisterkarolin dan Best Trust,  sepanjang 2024, ekspor kepiting bakau melalui Batam capai  1, 100 juga  dengan nilai  Rp27,3 miliar.

Sahat M Panggabean, Kepala Barantin Indonesia mengatakan,  terus mendorong ekspor komoditas unggulan daerah guna mempercepat pertumbuhan ekonomi  dengan tetap memperhatikan biodiversity dan biosecurity.

“Kami terus melakukan pendampingan mitra karantina, proaktif melakukan monitoring rutin, supervisi sehingga dapat meningkatkan produktivitas komoditas kepiting bakau tersebut dan memastikan kualitas komoditas terjamin ke penerimanya di negara tujuan,” katanya.

Herwintarti bilang, petugas karantina di Satuan Pelayanan Kijang melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap media pembawa HPIK sebelum menerbitkan sertifikat kesehatan. Pemeriksaan secara fisik dan uji laboratorium. “Karantina memastikan setiap ikan yang akan ekspor memenuhi persyaratan kesehatan dan tidak membawa HPIK.”

Menurut dia, selain kepiting bakau, sebelumnya juga memfasilitasi ekspor kerapu hidup  1.600 ekor, dengan nilai Rp70 juta tujuan Singapura. Seluruh media pembawa HPIK itu mereka muat dalam palka kapal yang terancang khusus hingga aman sampai tujuan.

Berdasarkan data Sisterkarolin dan Best Trust tahun 2024 mencatat,  ekspor kerapu hidup ke berbagai negara tujuan, seperti Singapura dan China dengan volume 12.190 ekor dan frekuensi delapan kali. Sedangkan tahun ini, sampai  Februari ekspor  6.130 kepiting sebanyak empat kali.

 

 

Nelayan di Batam menunjukkan kepiting bakau yang siap jual. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia.

 

 

Potensi besar

Buku Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berjudul “Profil Pasar Kepiting,” menyebut,  kepiting sebagai  satu komoditas perikanan  tinggi peminat dan diperdagangkan secara global. Beberapa jenis kepiting  antara lain, dungeness crab (Metacarcinus magister), Alaska snow crab (Chionoecetes opilio), Chinese mitten crab (Eriocheir sinensis), blue king crab (Paralithodes spр.), blue swimming crab (Portunus pelagicus) serta mud crab (Scylla spp.).

Spesies Scylla spp. seperti kepiting bakau, merupakan salah satu komoditas perikanan penting dan banyak ditangkap serta budidaya di Indonesia. Kepiting ini hidup di ekosistem mangrove, estuaria dan laut,  tinggi protein, rendah lemak dan tinggi asam lemak tak jenuh. Dia menyukai,  dasar perairan berlumpur dan ada di hampir kawasan pesisir Indonesia.

Pada 2021, produksi kepiting (mud crab) secara global mencapai 313.807 ton. Sekitar 93,5% berasal dari budidaya dan 6,5% dari tangkapan di alam. Tiongkok menjadi negara dengan produksi mud crab terbanyak dengan produksi 152.065 ton.

Indonesia produksi kepiting bakau jenis Scylla serrata dan Scylla olivacea. Pada 2021, produksi Scylla serrata capai 18.232 ton atau 14,0% dari produksi dunia. Angka itu masih jauh dari Vietnam dan Filipina yang memproduksi masing-masing 81.144 ton (62,3%) dan 27.507 ton (21,1%).

Lima sentra budidaya kepiting terbesar Indonesia adalah Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan produksi  4.763 ton, Kalimantan Timur (Kaltim) 4.628 ton, Sulawesi Selatan (Sulsel) 1.571 ton, Aceh 1.339 ton, serta Jawa Barat (Jabar) 496 ton.

Demi menjaga keberlanjutan komoditas ini, pemerintah menyusun sejumlah rencana jangka panjang dan intervensi. Antara lain,  silvofishery dan revitalisasi kawasan mangrove guna memperkuat sistem produksi. Termasuk,  penataan kawasan budidaya di tambak, mengembangkan budidaya kepiting sistem apartemen atau modelling, hingga penyediaan kualitas genetik untuk menghasilkan induk unggul.

 

 

Kepiting menjadi komoditas unggulan di pasar global dengan nilai ekonomi tinggi. Sangat penting menjaga kelestarian mangrove untuk menjaga eksistensinya. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia.

 

Terancam, pentingnya jaga mangrove

Suhana, ahli ekonomi kelautan Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta bilang, kepiting salah satu komoditas unggulan produk kelautan Indonesia di pasar global.  Makin menjaga hutan mangrove, makin baik  bagi kepiting bakau. Masalahnya, masa depan komoditas itu terancam karena hutan mangrove banyak rusak.

Menurut Suhana, mengganti habitat kepiting bakau dari alami menjadi budidaya adalah konsep keliru. Apalagi,  jika komoditas itu untuk tujuan ekspor. Di pasar ekspor, harga kepiting budidaya jauh lebih murah ketimbang dari habitat aslinya.

“Itu yang keliru, pasar ekspor memilih kepiting hasil tangkapan alam, bukan budidaya, meskipun bibit kepitingnya berasal dari ekosistem mangrove, hasil tangkapan kepiting alami lebih mahal, mungkin saja karena kualitasnya,” ujar Suhana.

Bisa lakukan budidaya, tetapi tetap di dalam hutan mangrove. Tidak lagi di darat, dimana kepiting bakau hidup dalam ruangan sempit. Karena itu, kata  Suhana,  penting bagi pemerintah  memastikan ekosistem mangrove terjaga agar tingkatkan nilai ekonomi kepiting dan keberlanjutan.

“Harusnya pemerintah sadar memelihara hutan mangrove, bukan sebaliknya melakukan deforestasi. Karena kalau mangrovenya tidak ada, kepiting juga tidak ada. Jadi, agar potensi ekonomi kepiting bisa bisa dimanfaatkan, yang terpenting adalah melestarikan mangrovenya dulu.”

Menurut Suhana, banyak wilayah pesisir Indonesia kehilangan hutan mangrove terbabat  untuk berbagai keperluan. Mulai dari proyek infrastruktur, bisnis dan perdagangan, hingga tambak udang, seperti terjadi di Batam, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur.

Di Riau, alih fungsi hutan mangrove juga  massif yang   berdampak terhadap masa depan kepiting. “Kepiting itu hidupnya di dasar, mereka bertelur di pasir, jadi kalau habitatnya sudah diganggu, kepiting dan rajungan akan hilang.”

 

***

 

Pemulihan Mangrove Kuala Selat, Kepiting Bakau Mulai Datang

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

Polri Jaga Kawasan Hutan, Akankah Efektif Jerat Korporasi? [2]

Next Post

Wawancara: Virginia Foster dan Kesejahteraan Masyarakat Sekitar Hutan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Plt Sekda Aceh Minta Rehab-Rekon Pascabencana Terus Dipacu

Plt Sekda Aceh Minta Rehab-Rekon Pascabencana Terus Dipacu

Rabu (30/09/2026) - 16:38 WIB
Penyebab Meninggalnya Calon Taruna Poltekpel Malahayati Masih Menunggu Hasil Pemeriksaan

Penyebab Meninggalnya Calon Taruna Poltekpel Malahayati Masih Menunggu Hasil Pemeriksaan

Rabu (30/09/2026) - 16:31 WIB
Plt Sekda Aceh Terima Audiensi Terkait Pengembangan KEK Arun

Plt Sekda Aceh Terima Audiensi Terkait Pengembangan KEK Arun

Selasa (29/09/2026) - 16:27 WIB
150 Pengelola Perpustakaan Aceh Timur Dibekali Bimtek Pendataan hingga NPP

150 Pengelola Perpustakaan Aceh Timur Dibekali Bimtek Pendataan hingga NPP

Selasa (29/09/2026) - 16:25 WIB
Plt Sekda Aceh Perkuat Sinergi dengan BMKG Hadapi Ancaman Bencana

Plt Sekda Aceh Perkuat Sinergi dengan BMKG Hadapi Ancaman Bencana

Senin (28/09/2026) - 22:14 WIB
Haji Uma Dorong Pemerintah Aceh Segera Realisasikan Dana Rehabilitasi Rp1,6 Triliun

Taruna Poltekpel Malahayati Meninggal, Haji Uma Soroti Dugaan Kelalaian

Senin (28/09/2026) - 21:33 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.