Banda Aceh- Masyarakat anti fitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Aceh melaksanakan kegiatan Sekolah Kebangsaan (SK) Bersama 107 mahasiswa Fisip USK, Rabu (28/8/2024). Kegiatan SK dilaksanakan untuk mengedukasi mahasiswa agar mampu menghindari berita bohong jelang Pilkada 2024.
Dalam sambutannya Koordinator Wilayah Mafindo Aceh, Destika Gilang Lestari mengatakan penyebaran berita hoaks melalui media sosial di Aceh sangat tinggi.
“Belajar dari pemilu yang lalu dimana masih banyak penyebaran hoaks di Aceh, baik hoaks lama yang bersemi kembali, juga hoaks baru seperti adanya mobilisasi rohingnya dalam pemilu 2024 untuk memilih calon legeslatif,” ujarnya.
Ia mengatakan lansia dan orang muda menjadi salah satu unsur paling banyak terdampak berita bohong di sosial media. Karena itu ujarnya Mafindo menyasar kelompok orang muda untuk memberikan edukasi tentang anti hoaks melalui literasi digital.
Tular Nalar, program pelatihan literasi digital yang diinisiasi oleh MAFINDO dan didukung oleh Google.org, serta Love Frankie sebagai mitra pelaksana, berfokus pada penguatan individu untuk menghadapi hoaks.
“Literasi digital ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, termasuk para pemilih pemula, pemuda dan mahasiswa dalam mengidentifikasi dan menyikapi hoaks sehingga melalui literasi digital dan pemikiran kritis, terlebih menjelang pemilihan kepala daerah,” ujarnya.
Dalam pembukaan acara Sekolah kebangsaan Wakil Dekan I FISIP, Effendi Hasan mengucapkan terima kasih kepada Tim Mafindo Aceh yang telah memberikan kesempatan mahasiswa untuk belajar tentang pengindraan hoaks dan juga bagaimana cara melakukan pencegahan penyebaran informasi bohong atau hoaks.
Selain itu Effendi juga menyampaikan bahwa menjelang pilkada banyak sekali penyebaran hoaks di masyarakat dan juga terjadi black campaign antar tim pendukung, sehingga penting sekali Masyarakat mempunyai pemahaman tentang pengindraan hoaks agar idak terjadi polarisasi di masyarakat.
“Seharusnya mahasiswa menjadi garda terdepan memberikan pengetahuan kepada Masyarakat penting sekali kita mengenali mana informasi hoaks dan mana yang bukan informasi hoaks sehingga tidak terjadi perpecahan dimasyarakat. Dalam pilkada kedepan diharapkan prosesnya berjalan dengan baik, tanpa black campaign, tanpa hoaks dan berjalan dengan damai,” ujarnya.
Salah satu peserta, Maulana mengatakan kegiatan Sekolah Kebangsaan memberi pengetahuan baru kepada mahasiswa tentang pengindraan informasi hoaks serta demokrasi dan pikiran kritis.
“harapannya kedepannya kami mahasiswa dapat memberikan pengetahuan yang kami dapat ke orang lain agar orang lain tidak menjadi korban dari berita hoaks,” ujar Maulana.










