Senin, Juni 15, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

AJI Banda Aceh dan AJI Yogyakarta Gelar Diskusi Bedah Buku Terkait Minoritas

Redaksi Oleh Redaksi
Senin (25/03/2024) - 02:21 WIB
in DAERAH
0
AJI Banda Aceh dan AJI Yogyakarta Gelar Diskusi Bedah Buku Terkait Minoritas

AJI Banda Aceh dan AJI Yogyakarta Gelar Diskusi Bedah Buku Terkait Minoritas. Foto: Ist

BANDA ACEH – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh dan AJI Yogyakarta menggelar diskusi bedah buku “Derita Penghayat Kepercayaan, Transgender, dan Minoritas Agama” pada Sabtu (23/3/2024) sore di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh.

Diskusi ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Pito Agustin Rudiana, salah seorang penulis buku, dan Adi Warsidi, CEO acehkini.id. Kegiatan dipandu Januardi Husin, Ketua AJI Yogyakarta, serta dihadiri para jurnalis, aktivis, dan masyarakat sipil di Banda Aceh.

Ketua AJI Banda Aceh Juli Amin mengatakan, diskusi ini bertujuan untuk mempertemukan jurnalis hingga aktivis masyarakat sipil untuk membahas isu-isu yang dihadapi kelompok minoritas di Aceh.

“Diskusi ini tentang kepercayaan, transgender, dan minoritas. Ketika nanti ada kata atau kalimat yang mungkin bertentangan dengan Aceh, itu bukan kalimat yang menyudutkan Aceh, tetapi itulah AJI yang menulis independen apa adanya,” kata Juli Amin.

Topik mengenai minoritas menurutnya perlu dibahas secara bersama sehingga menemukan titik menjalin toleransi dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama.

Ketua AJI Yogyakarta Januardi Husin menjelaskan, buku “Derita Penghayat Kepercayaan, Transgender, dan Minoritas Agama” merupakan kumpulan liputan jurnalis dari berbagai media. Liputan itu mengangkat isu minoritas di Yogyakarta, Jawa Tengah, Aceh, dan NTT.

Kelompok minoritas agama seperti Kristen, Muhammadiyah, dan Salafi di Aceh masih mengalami tekanan dari kelompok mayoritas. Warga Muhammadiyah tidak bisa membangun masjid, Salafi tidak bisa mengelola masjidnya sendiri, dan umat Kristen di Singkil tidak dapat membangun gereja.

“Kami ingin mendiskusikan kembali buku ini di Banda Aceh karena ada beberapa liputan dan tulisan di buku ini yang berasal dari Aceh, yaitu Meulaboh, Bireuen, dan Aceh Singkil,” kata Januardi. “Kami ingin memiliki perspektif yang sama dan benar ketika harus berhadapan dengan isu-isu minoritas.”

Adi Warsidi mengatakan gesekan terkait agama di Aceh dominan bukan antaragama, tapi antarumat. Ia mencontohkan ada masjid yang diminta tutup karena berbeda pemahaman dengan warga sekitar. Gesekan yang terjadi, menurutnya, bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antarkelompok Islam sendiri.

Warsidi juga menyoroti isu pembangunan masjid di Aceh sehingga muncul penolakan dari warga sekitar. Ia menemukan politik ekonomi dalam pembangunan masjid. “Bayangkan dalam satu kampung terdapat beberapa masjid,” kata Adi. “Uang yang seharusnya digunakan untuk keperluan tertentu, terbagi ke banyak masjid.”

Pito Agustin Rudiana, jurnalis asal Yogyakarta, menceritakan pengalamannya meliput isu keberagaman di Aceh. Ia mengamati bahwa banyak media dan informasi yang diterima masyarakat tentang agama memiliki sudut pandang yang berbeda.

Pito menemukan perbedaan antara Aceh dan Yogyakarta dalam hal keberagaman. “Identitas gender pun lebih sensitif dibicarakan di Aceh dibandingkan di Yogyakarta,” katanya.

Pito melihat bahwa masih banyak tantangan dalam mewujudkan toleransi di Aceh. Diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang toleransi dan keberagaman.

Salah seorang peserta Efriani dari Forum of Aceh dalam diskusi itu mempertanyakan sejauh mana peran anak muda berpengaruh terhadap keberagamaan menjadi lebih baik. Dia bercerita bahwa punya pengalaman kurang baik terkait toleransi saat kuliah di satu universitas di Banda Aceh.

“Ini saya rasakan sendiri saat di kampus, bahwa ketika saya tidak memakai jilbab, saya di-bully (rundung),” katanya.

Dia juga mengkritisi jurnalis di Aceh sambil mempertanyakan apakah isu keberagaman kurang menarik diliput. Sebab, dia pernah mengundang beberapa jurnalis untuk meliput isu Kantor Urusan Agama (KUA) yang menjadi tempat pernikahan semua agama. “Namun tidak tayang. Apakah ini kurang menarik?” katanya.

Adi Warsidi menjelaskan bahwa isu KUA menjadi tempat pernikahan semua agama cukup menarik dilihat dari sudut pandang jurnalistik. Selain itu, ia menuturkan isu keberagaman sangat bermanfaat bagi publik.

“Tidak mungkin suatu media yang paham jurnalistik tidak memberitakan,” pungkasnya.[]

Tags: acehaji banda acehaji yogyakartadiskusi bukuheadlineNews
ShareTweetPin
Previous Post

Satpol PP dan WH Banda Aceh Intensifkan Pengawasan Selama Ramadan

Next Post

Pj Gubernur Ajak PWI Bersinergi Sukseskan PON XXI dan Pilkada 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Zulkifli H. Adam Resmi Pimpin DPD PAN Sabang

Zulkifli H. Adam Resmi Pimpin DPD PAN Sabang

Senin (15/06/2026) - 16:10 WIB
Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, BPS Aceh Terjunkan Petugas ke Seluruh Pelosok Serambi Mekkah

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, BPS Aceh Terjunkan Petugas ke Seluruh Pelosok Serambi Mekkah

Senin (15/06/2026) - 15:51 WIB
Satu Tahun Kepemimpinan Zulkifli–Suradji, Melanjutkan dan Menguatkan Pembangunan Sabang

Satu Tahun Kepemimpinan Zulkifli–Suradji, Melanjutkan dan Menguatkan Pembangunan Sabang

Senin (15/06/2026) - 15:48 WIB
PPIH Aceh Matangkan Persiapan Debarkasi, Kloter Pertama Tiba Malam Ini

PPIH Aceh Matangkan Persiapan Debarkasi, Kloter Pertama Tiba Malam Ini

Senin (15/06/2026) - 15:44 WIB
Buka Perjusa MIN 27 Aceh Besar, Yahwa Tekankan Kemandirian, Ukhuwah, dan Jaga Ibadah

Buka Perjusa MIN 27 Aceh Besar, Yahwa Tekankan Kemandirian, Ukhuwah, dan Jaga Ibadah

Sabtu (13/06/2026) - 21:45 WIB
Dua Kloter Jemaah Haji Aceh Tiba di Madinah, Berikut Aktivitasnya

Jelang Kepulangan Jamaah Haji, PPIH Aceh Optimalkan Layanan Debarkasi

Sabtu (13/06/2026) - 21:42 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.