BENER MERIAH – Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempercepat pembangunan 914 unit hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir dan longsor (bansor) di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Seluruh unit ditargetkan rampung pertengahan Februari 2026 atau sebelum memasuki bulan Ramadan.
Kepala BNPB, Suharyanto, meninjau langsung progres pembangunan huntara di Kampung Wonosobo, Kecamatan Wih Pesam, Jumat (13/2). Ia menegaskan percepatan pembangunan dilakukan agar warga yang rumahnya rusak berat dapat segera tinggal di hunian yang lebih layak.
“Untuk di Bener Meriah terdapat 914 kepala keluarga dengan kategori rumah rusak berat, dan seluruhnya memilih untuk dibangunkan hunian sementara,” ujar Suharyanto di lokasi.
Dua Skema Penanganan Rumah Rusak Berat
BNPB menerapkan dua skema penanganan bagi warga terdampak dengan kategori rumah rusak berat. Pertama, pembangunan huntara bagi warga yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Kedua, pemberian Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga yang memilih tinggal sementara di rumah kerabat atau masyarakat sekitar.
Namun, berdasarkan permohonan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah serta pertimbangan aspek sosial dan kenyamanan, seluruh 914 kepala keluarga memilih difasilitasi huntara.
Menurut Suharyanto, tinggal menumpang dalam jangka waktu lama berpotensi menimbulkan persoalan sosial. Karena itu, pemerintah memutuskan membangun huntara sambil menunggu proses pembangunan hunian tetap (huntap).
Khusus huntara di Kampung Wonosobo, pembangunan ditargetkan selesai paling lambat 17 Februari 2026. Beberapa unit di titik lain bahkan sudah rampung dan mulai dihuni warga.
“Vendor sudah berjanji paling lambat tanggal 17 Februari selesai. Artinya lima hari lagi harus sudah jadi,” tegas Suharyanto.
BNPB menargetkan seluruh huntara di Bener Meriah bisa digunakan sebelum awal Ramadan, sehingga warga dapat menjalani ibadah dengan lebih tenang dan nyaman.
Berbeda dengan tenda darurat, setiap unit huntara dibangun lebih kokoh dan dilengkapi kamar mandi pribadi. Selain itu, tersedia fasilitas kamar mandi komunal tambahan untuk mendukung kebutuhan sanitasi warga.
Dari sisi dukungan logistik, bantuan juga disiapkan oleh Kementerian Sosial berupa dana perabotan sebesar Rp3 juta per unit. Saat ini, proses verifikasi dan sinkronisasi data antara Kemensos dan BNPB tengah dilakukan agar bantuan dapat segera disalurkan.
BNPB turut memberikan dukungan terbatas berupa kipas angin, lemari kecil, kasur, dan kompor bagi penghuni huntara.
Hunian sementara ini akan digunakan hingga pembangunan hunian tetap (huntap) selesai. Pemerintah menyiapkan dua skema pembangunan huntap:
Skema Terpusat, dibangun dalam satu kawasan terpadu yang dapat menampung sekitar 100–200 kepala keluarga. Pembangunan dilakukan oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Skema Mandiri, difasilitasi BNPB sesuai pilihan lokasi yang diinginkan masyarakat.
BNPB memastikan seluruh proses pembangunan, baik huntara maupun huntap, dilakukan secara terkoordinasi bersama kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah guna mempercepat pemulihan pascabencana di Bener Meriah.
Dengan target penyelesaian sebelum Ramadan, pemerintah berharap masyarakat terdampak dapat segera meninggalkan masa darurat dan memulai kembali kehidupan secara lebih layak dan aman.










