Banda Aceh – Tim Program Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Gampong Binaan (PKM-BGB) Universitas Syiah Kuala (USK) melaksanakan audiensi dengan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) untuk memaparkan hasil serta keberlanjutan program pengembangan wisata edukasi bencana dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat di Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.
Audiensi tersebut dipimpin oleh Ketua Tim PKM-BGB USK, Freddy Sapta Wirandha, didampingi mahasiswa pelaksana program. Rombongan diterima langsung oleh Fazli, Seksi Kesiapsiagaan pada Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBA, beserta jajaran, di Kantor BPBA Provinsi Aceh, Jumat (6/2/2026).
Gampong Lamreh yang berada di pesisir Samudra Hindia dikenal memiliki potensi wisata alam dan sejarah yang besar, namun sekaligus berada di kawasan dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Secara geologis, wilayah ini tersusun atas sedimen klastik, material vulkanik, batupasir berkapur, serta breksi vulkanik yang mengalami rekahan dan patahan akibat pelapukan, sehingga berpotensi terjadi longsor. Selain itu, Lamreh dilintasi sesar aktif dan berada di zona subduksi Lempeng Indo-Australia, yang menjadikannya rentan terhadap gempa bumi dan tsunami.
“Gampong Lamreh memiliki potensi wisata yang sangat beragam, namun juga berada di zona rawan bencana. Karena itu, program PKM-BGB tidak hanya fokus pada pengembangan ekowisata, tetapi secara khusus mengintegrasikan edukasi mitigasi bencana dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat,” kata Freddy.
Ia menjelaskan, kerentanan bencana tersebut justru ditransformasikan menjadi nilai tambah melalui konsep wisata edukasi kebencanaan, yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan literasi bencana bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.
Salah satu inovasi utama dalam program ini adalah pengembangan aplikasi digital “Explore Lamreh”, yang memiliki empat fitur utama, salah satunya Fitur Kebencanaan. Fitur ini menyediakan informasi terkini mengenai empat jenis bencana utama yang relevan dengan kondisi Gampong Lamreh, disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Aplikasi tersebut juga telah terintegrasi dengan Peta Sistem Informasi Geografis (SIG) kebencanaan yang dikembangkan oleh tim PKM-BGB USK.
Menanggapi paparan tersebut, Fazli menyampaikan apresiasi atas inovasi yang dilakukan oleh Tim PKM-BGB USK. Menurutnya, pendekatan yang menggabungkan pengembangan wisata dengan edukasi kebencanaan sejalan dengan visi BPBA dalam membangun masyarakat Aceh yang tangguh terhadap bencana.
“Kami sangat mengapresiasi upaya Tim PKM-BGB USK yang mengintegrasikan aspek kebencanaan dalam pengembangan ekowisata. Edukasi kebencanaan yang dikemas dalam konsep wisata edukasi merupakan strategi efektif untuk meningkatkan literasi bencana, tidak hanya bagi masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan,” kata Fazli.
BPBA, lanjutnya, mendukung keberlanjutan program tersebut dan mendorong Gampong Lamreh untuk dikembangkan sebagai desa wisata tangguh bencana. Dengan potensi alam, sejarah, dan kondisi geografisnya, Lamreh dinilai layak menjadi model desa tangguh bencana yang sekaligus berfungsi sebagai destinasi wisata edukatif.
“Gampong Lamreh memiliki potensi besar untuk menjadi contoh desa wisata tangguh bencana di Aceh. Ini merupakan kombinasi yang unik dan sangat relevan, mengingat Aceh merupakan wilayah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana,” ujarnya.
Dengan dukungan BPBA, Tim PKM-BGB USK optimistis program wisata edukasi bencana di Gampong Lamreh dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
“Wisata edukasi bencana yang kami kembangkan tidak hanya menawarkan pengalaman yang unik bagi wisatawan, tetapi juga berkontribusi dalam membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Kami berharap program ini dapat direplikasi di gampong-gampong lain di Aceh yang berada di kawasan rawan bencana,” ujarnya.[]










