Banda Aceh — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat bencana hidrometeorologi akibat Siklon Tropis Senyar memberi tekanan signifikan terhadap perekonomian daerah. Dampaknya terlihat pada penurunan aktivitas produksi, gangguan distribusi, hingga melemahnya daya beli masyarakat.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, menjelaskan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak akibat bencana tersebut.
“Terjadi penurunan aktivitas produksi ekonomi, terutama karena gagal panen di sektor pertanian, serta kerusakan pada sektor perkebunan dan hortikultura. Selain itu, aktivitas industri juga ikut terganggu,” ujar Agus, Kamis (5/2/2026).
Ia menambahkan, kerusakan infrastruktur memperparah kondisi ekonomi masyarakat. Sejumlah ruas jalan, jembatan, jaringan listrik, serta fasilitas umum terdampak, sehingga menghambat mobilitas dan konektivitas antarwilayah.
“Gangguan konektivitas ini membuat aktivitas ekonomi masyarakat tidak berjalan normal karena distribusi barang dan jasa ikut terhambat,” katanya.
Dari sisi perdagangan, BPS mencatat adanya pelemahan kinerja ekspor disertai peningkatan impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah keterbatasan produksi lokal.
“Penurunan kinerja perdagangan tercermin dari turunnya ekspor, sementara impor meningkat guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi ini turut memengaruhi keseimbangan ekonomi daerah,” jelasnya.
Dampak lanjutan juga dirasakan masyarakat melalui penurunan daya beli. Berkurangnya pendapatan akibat terganggunya aktivitas ekonomi serta kenaikan harga sejumlah komoditas menjadi faktor utama.
“Daya beli masyarakat ikut tertekan karena pendapatan menurun, sementara harga beberapa komoditas mengalami kenaikan,” ujar Agus.
Meski demikian, Agus menyebut proses pemulihan terus berlangsung melalui berbagai dukungan. Pemerintah bersama masyarakat dan berbagai lembaga menyalurkan bantuan serta menjalankan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur secara bertahap.
“Upaya pemulihan terus berjalan melalui penyaluran bantuan pemerintah, donasi masyarakat, lembaga non-profit, serta rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur secara bertahap,” pungkasnya.[]










