Jumat, November 6, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Burung dan Pengetahuan Lokal Masyarakat Adat Mbaham Matta

Redaksi Oleh Redaksi
Rabu (16/10/2024) - 13:35 WIB
in DAERAH
0
Burung dan Pengetahuan Lokal Masyarakat Adat Mbaham Matta

#image_title

 

  • Bagi masyarakat Mbaham Matta, Fakfak, Papua Barat, burung memiliki arti penting dalam kehidupan mereka. Masyarakat menjadikan suara burung sebagai pertanda cuaca, aktivitas sosial, maupun simbol-simbol tertentu.
  • Burung kasuari gelambir ganda [Casuarius casuarius], misalnya, dapat menjadi penunjuk jalan ketika tersesat di hutan.
  • Masyarakat juga menjadikan bubut pini [Ivory-billed coucal] sebagai penanda untuk melubangi alat musik tradisional tifa tumour.
  • Selain penandaan aktivitas sosial, masyarakat adat Mbaham Matta menjadikan beberapa burung sebagai simbol tertentu. Contoh, cenderawasih dan kasuari sebagai lambang keindahan dan kepemimpinan.

 

Bagi masyarakat Mbaham Matta, Fakfak, Papua Barat, burung memiliki arti penting dalam kehidupan mereka. Masyarakat menjadikan suara burung sebagai pertanda cuaca, aktivitas sosial, maupun simbol-simbol tertentu.

Burung kasuari gelambir ganda [Casuarius casuarius], misalnya, dapat menjadi penunjuk jalan ketika tersesat di hutan. Masyarakat juga menjadikan bubut pini [Ivory-billed coucal] sebagai penanda untuk melubangi alat musik tradisional tifa tumour.

Proses melubangi tifa dengan alunan suara burung bubut pini, akan membuat bunyi alat musik semakin nyaring.

“Burung itu kan suaranya ‘buk, buk, buk’ dalam bahasa Lha, kami artikan ‘otak-otak terbukalah’. Jadi detik-detik dia berkicau itu tifa dilubangi, diyakini bunyinya akan nyaring,” ujar Fredrikus Warpopor, tokoh budaya Fakfak, saat peluncuran buku “Burung-burung dalam Tinjauan Budaya Mbaham Matta, Fakfak”, di Jakarta, Jumat [11/10/2024].

Buku yang melibatkan 15 fotografer Fakfak Birding ini, berhasil mendokumentasikan lebih dari 70 jenis burung di Cagar Alam Fakfak, Papua Barat, sejak tahun 2020. Buku ini dinarasikan dalam empat bahasa yakni Inggris, Indonesia, dan dua bahasa adat.

Baca: Tarian Memikat Cendrawasih Botak Menaklukkan Pasangan

 

Cendrawasih botak jantan. Foto: Fransisca N Tirtaningtyas/Mongabay Indonesia

 

Menurut Fredrikus, selain penandaan aktivitas sosial, masyarakat adat Mbaham Matta menjadikan beberapa burung sebagai simbol tertentu. Contoh, cenderawasih dan kasuari sebagai lambang keindahan dan kepemimpinan.

Sementara, burung dengan nama lokal wakiong [kakatua raja] menjadi simbol kebijaksanaan. Oleh masyarakat setempat, mahkotanya disebut syong, yang dalam bahasa Lha berarti menimba.

“Syong dimaknai sebagai upaya menimba ilmu dan pengetahuan.”

Buku ini diharapkan dapat mempertegas pengetahuan budaya masyarakat setempat. Sebab, selama ini, sejumlah jenis burung yang terdapat pada nyanyian maupun cerita rakyat, belum banyak disaksikan secara langsung.

“Dalam nyanyian, anak-anak bahkan saya, tidak tahu jenis burungnya,” jelasnya.

Baca: Menikmati Ragam Pangan Fakfak

 

Western Parotia [Parotia sefilata]. Foto: Dok. INFIS

 

Edukasi perlindungan ekosistem

Meizani Irmadhiany, Senior Vice President & Executive Chair Yayasan Konservasi Indonesia, mengatakan Kabupaten Fakfak memiliki ekosistem penting sebaran burung, mulai dari pegungungan hingga pesisir.

Di kabupaten ini terdapat sekitar 138 spesies burung dengan beberapa spesies ikonik seperti kasuari, rangkong dan cenderawasih. Burung-burung tersebut, kpunya peran melestarikan ekosistem hutan, dengan cara mengendalikan hama dan menebar benih.

“Fungsi-fungsi ekosistem tersebut berkaitan langsung dengan tutur budaya di Fakfak. Dari lagu, cerita turun-temurun tentang alam, binatang, juga spesifik tentang burung,” terangnya.

Buku dapat menjadi alat untuk merawat ingatan kolektif masyarakat, serta membuat kearifan lokal jadi lebih relevan dengan zaman.

“Dengan begitu, masyarakat dapat memahami keterancaman populasi burung yang tentunya berdampak pada keberlanjutan budaya dan kehidupan mereka.”

Baca juga: Kasuari, Burung Purba Penjaga Hutan Papua

 

Kasuari, spesies endemik Papua. Foto: Rhett Butler/Mongabay

 

Ady Kristanto, fotografer alam liar menilai, publikasi buku dapat memperkaya referensi tentang burung yang diproduksi masyarakat lokal. Sebab, selama ini, penerbitan buku banyak dilakukan fotografer luar negeri.

“Pelibatan fotografer dalam program konservasi, juga dipercaya akan meningkatkan minat dan partisipasi mereka dalam topik-topik keanekargaman hayati.”

Praktik-praktik itu, menurutnya, sebagai bentuk partisipasi pehobi foto dalam menyebarkan informasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Serta, menunjukkan pemahaman bahwa degradasi lingkungan dan kepunahan spesies, akan memberangus objek fotografi.

 

Koen Setyawan, Ilustrator Handal Satwa Liar Indonesia

 

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

MTsN Pematang Siantar Salurkan Donasi untuk Palestina

Next Post

KIP Aceh Ingatkan Penyelenggara Tak Utamakan Kepentingkan Pribadi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Pemuda Muhammadiyah Aceh: Hentikan Tindakan Represif terhadap Rakyat, Usut Penembakan di Pidie, Tuntaskan MoU Helsinki

Pemuda Muhammadiyah Aceh: Hentikan Tindakan Represif terhadap Rakyat, Usut Penembakan di Pidie, Tuntaskan MoU Helsinki

Kamis (05/11/2026) - 22:23 WIB
Mualem-Dek Fadh Berduka atas Meninggalnya Warga Pidie dalam Insiden Pengibaran Bendera

Mualem-Dek Fadh Berduka atas Meninggalnya Warga Pidie dalam Insiden Pengibaran Bendera

Kamis (05/11/2026) - 22:17 WIB
Menko Yusril Tegaskan Penyadapan Ilegal Bisa Dijerat Pidana

Menko Yusril Prihatin atas Peristiwa di Pidie, Pemerintah Sepakat Lakukan Penyelidikan

Kamis (05/11/2026) - 16:04 WIB
LBH Banda Aceh Desak Penembakan Warga di Pidie Diusut Tuntas

LBH Banda Aceh Desak Penembakan Warga di Pidie Diusut Tuntas

Rabu (04/11/2026) - 22:52 WIB
Kak Na: PAUD Holistrik Integratif untuk Penuhi Kebutuhan Dasar Anak Usia Dini

Kak Na: PAUD Holistrik Integratif untuk Penuhi Kebutuhan Dasar Anak Usia Dini

Rabu (04/11/2026) - 22:13 WIB
Kopertais V Aceh Siapkan Auditor untuk Perkuat Mutu 39 PTKIS

Kopertais V Aceh Siapkan Auditor untuk Perkuat Mutu 39 PTKIS

Rabu (04/11/2026) - 22:03 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.