Aceh Utara – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Utara pada 26 November 2025 masih menyisakan dampak serius terhadap akses masyarakat terhadap air bersih dan air layak minum.
Hingga Februari 2026, sebagian sumber air seperti sumur dan jaringan air rumah tangga belum sepenuhnya pulih dan masih berisiko tercemar.
Sebagai bentuk respons berkelanjutan terhadap kondisi tersebut, Yayasan Geutanyoe kembali melaksanakan distribusi air bersih siap minum sepanjang Februari 2026 guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak banjir tetap terpenuhi.
Distribusi dilakukan di empat desa terdampak, yakni Desa Matang Serdang dan Desa Matang Seuke Pulot di Kecamatan Tanah Jamboe Aye, serta Desa Alue Anoe Timu dan Desa Alue Anoe Barat di Kecamatan Baktiya.
Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat yang hingga kini masih mengalami keterbatasan akses terhadap air bersih dan air layak konsumsi pascabencana.
Selama Februari 2026, penyaluran air bersih siap minum telah dilaksanakan sebanyak delapan kali dengan kapasitas 2.000 liter setiap distribusi. Total volume air yang disalurkan mencapai 16.000 liter.
Berdasarkan asumsi kebutuhan air minum sebesar 19 liter per kepala keluarga (KK), bantuan tersebut telah menjangkau sekitar 842 KK atau setara dengan 2.526 jiwa masyarakat terdampak banjir.
Selain distribusi air minum, relawan juga menyerahkan satu unit tangki air berkapasitas 1.000 liter kepada masyarakat Desa Alue Anoe Barat, Kecamatan Baktiya. Tangki tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan umum masyarakat selama bulan Ramadan guna mendukung aktivitas ibadah dan pemenuhan kebutuhan air bersih harian di tengah keterbatasan akses terhadap sumber air layak konsumsi.

Upaya pemulihan tidak hanya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar air bersih. Di Desa Alue Anoe Timu, Kecamatan Baktiya, dibangun Ruang Ramah Anak sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak terdampak banjir untuk bermain, belajar, serta memperoleh dukungan psikososial.
Sejalan dengan itu, selama Februari 2026, Yayasan Geutanyoe juga melaksanakan kegiatan dukungan psikososial bagi anak-anak dan masyarakat terdampak di keempat desa tersebut.
Hingga kini, kegiatan psikososial telah dilakukan sebanyak delapan kali sebagai bagian dari upaya pemulihan kondisi mental dan emosional warga, khususnya anak-anak.
Koordinator Lapangan Yayasan Geutanyoe, Iskandar, mengatakan bahwa persoalan sanitasi dan ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan serius di sejumlah titik terdampak banjir besar dan longsor di Aceh.
“Sanitasi dan ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan utama di sejumlah titik terdampak. Oleh karena itu, dukungan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, dapat hidup lebih sehat dan aman selama masa pemulihan,” kata Iskandar, dalam keterangan tertulis, Rabu (25/2/2026).
Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mendukung pemulihan masyarakat pascabanjir di Kabupaten Aceh Utara, baik dari aspek kesehatan, akses air bersih, maupun perlindungan anak.
Dukungan serta kerja sama dari berbagai pihak dinilai sangat diperlukan agar proses pemulihan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat terdampak.[]










