Banda Aceh — Ekosistem mangrove tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran dan inspirasi bagi masyarakat untuk menghasilkan karya kreatif.
Hal tersebut diperkenalkan Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Pembangunan Berkelanjutan (PKMBPB) bersama Pemuda Peduli Mangrove Kutaraja (PEMANGKU) melalui kegiatan “Ecoprint Mangrove sebagai Media Edukasi dalam Pengembangan Ekowisata dan Ekonomi Kreatif Berbasis Konservasi di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh”, Minggu (30/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdi mengenalkan teknik ecoprint sebagai salah satu cara kreatif untuk mempelajari karakter tumbuhan melalui bentuk, tekstur, dan warna alaminya.
Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai proses pembuatan ecoprint, tetapi juga memahami keterkaitan antara potensi lingkungan pesisir dengan kreativitas yang dapat memberikan nilai tambah.
Ketua tim pengabdi, Harum Farahisah, mengatakan pemilihan ecoprint didasari keinginan untuk menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif bagi pengunjung kawasan mangrove.
“Melalui ecoprint, masyarakat dapat mengenal mangrove dari sisi yang berbeda. Tumbuhan yang selama ini dipahami terutama dari fungsi ekologisnya juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya kreatif,” kata Harum.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat membantu PEMANGKU menghadirkan pilihan aktivitas baru bagi pengunjung Mangrove Park Lampulo.
“Kami berharap kegiatan ini membantu PEMANGKU menghadirkan pilihan aktivitas baru bagi pengunjung, sehingga pengalaman di Mangrove Park Lampulo tidak hanya sebatas menikmati kawasan, tetapi juga dapat diisi dengan kegiatan belajar dan berkarya,” ujarnya.
Pada sesi penyampaian materi, peserta diperkenalkan dengan karakteristik mangrove, prinsip dasar ecoprint, serta bahan dan teknik yang digunakan. Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan melalui praktik langsung menggunakan media kain.
Peserta mengikuti sejumlah tahapan pembuatan ecoprint, mulai dari menata bahan hingga memindahkan bentuk dan pigmen alami tumbuhan ke permukaan kain. Proses tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengolah bahan alam menjadi produk kreatif.
Dalam praktiknya, pemanfaatan material tumbuhan dilakukan secara bijak dengan mempertimbangkan kelestarian vegetasi. Prinsip tersebut menjadi bagian penting agar kegiatan kreatif tetap sejalan dengan upaya menjaga lingkungan.
Sebagai tindak lanjut kegiatan, tim pengabdi menyerahkan paket ecoprint kepada PEMANGKU. Peralatan dan bahan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk melanjutkan praktik secara mandiri sekaligus menjadi fasilitas pendukung aktivitas wisata berbasis pengalaman di kawasan Mangrove Park Lampulo.
“Paket ini kami harapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh PEMANGKU. Ke depan, ecoprint dapat dikemas menjadi salah satu bagian dari paket kunjungan di Mangrove Park Lampulo,” ujar Harum.
Menurutnya, pengunjung nantinya tidak hanya datang untuk melihat kawasan mangrove, tetapi juga memiliki kesempatan untuk belajar dan menghasilkan karya yang dapat menjadi kenang-kenangan dari pengalaman mereka.
Harum menambahkan, keterlibatan mitra menjadi kunci agar pengetahuan yang telah diberikan dapat terus diterapkan setelah program selesai. PEMANGKU diharapkan dapat mengembangkan konsep tersebut sesuai dengan karakter pengunjung dan potensi yang dimiliki kawasan.
Tim PKMBPB terdiri atas Harum Farahisah, sebagai ketua, dengan anggota Khairunnisa, Ulil Amri MC, Siti Hijrah Happy Akasi, dan M. Abdul Mahlil.
Melalui pendekatan kreatif tersebut, potensi mangrove diharapkan dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dan menarik bagi masyarakat. Ecoprint juga diharapkan menjadi salah satu pilihan aktivitas yang dapat memperkaya pengalaman wisata sekaligus membuka ruang bagi lahirnya produk kreatif khas kawasan pesisir.[]








