Senin, Juni 15, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home DAERAH

Ternyata, Dogong Memiliki Jenis Makanan Favorit

Redaksi Oleh Redaksi
Senin (11/11/2024) - 12:35 WIB
in DAERAH
0
Ternyata, Dogong Memiliki Jenis Makanan Favorit

#image_title

 

  • Dugong, selain dikenal dalam cerita rakyat di Indonesia sebagai duyung, juga memiliki sebutan lain yakni sapi laut.
  • Sebagaimana sapi yang makan rumput, dugong juga mengonsumsi rumput laut, yaitu lamun (seagrass).
  • Dari banyaknya jumlah spesies rumput laut atau lamun, dugong hanya memakan rumput laut yang mengandung nitrogen tinggi dan serat rendah untuk dijadikan pakan utama.
  • Dugong termasuk satwa dilindungi yang saat ini menghadapi ancaman kepunahan. Selain faktor reproduksi yang cukup lama, kondisi habitat lamun yang berkurang ikut menjadi penghambat populasi dugong.

 

Dugong (Dugong dugon) merupakan satwa laut yang terkenal dalam berbagai cerita rakyat Indonesia. Ia sering disebut juga duyung maupun sapi laut. Sebagaimana sapi di darat yang makan rumput, dugong juga menyukai rumput laut atau yang dikenal dengan lamun (seagrass).

Lamun yang berbentuk hamparan disebut padang lamun dan merupakan habitat, sumber makanan, serta perlindungan bagi beragam spesies, mulai ikan, teripang, kepiting, udang, penyu, dugong, dan lainnya.

Secara global terdapat 60 spesies lamun di dunia dan terbagi 12 marga (genus). Di Indonesia, secara umum ditemukan 15 spesies lamun yang terbagi 7 genus. Secara luasan, 5-10 % ekosistem lamun dunia terdapat di Indonesia dan yang diteliti sekitar 16-35% dari potensi sesungguhnya.

Dugong memiliki ketergantungan terhadap lamun, karena merupakan sumber pakan utamanya. Tubuh dugong dapat tumbuh hingga mencapai tiga meter dan berat mencapai 400 kilogram. Sebagai mamalia laut, dugong dewasa memakan sekitar 28 hingga 40 kilogram lamun setiap hari.

Namun karena ada banyak jenis rumput laut, tidak semua bisa dimakan dugong. Sebab, jika tersedia berbagai jenis makanan atau ada banyak spesies lamun dalam jangkauannya, maka dugong akan memilih spesies lamun yang mengandung nitrogen tinggi dan serat rendah.

Baca: Kisah Para Pemburu Dugong di Teluk Bogam

 

Dugong yang menyukai padang lamun. Foto: Pixabay/dietmaha/Public Domain

 

Hal ini sebagimana disebutkan dalam publikasi ilmiah Budiarsa, dkk, berjudul, “Dugong foraging behavior on tropical intertidal seagrass meadows: the influence of climatic drivers and anthropogenic disturbance”. Menurut peneliti, dugong diketahui memakan hampir semua jenis lamun, namun lebih menyukai lamun berukuran kecil dan lunak seperti jenis Halodule spp dan Halophila spp.

Jenis lain yang disukai dugong adalah Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cymadoce rotundata, Cymadoce serrulate, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hempricii dibandingkan lamun berserat tinggi seperti jenis Enhalus acoroides.

“Selain itu, lamun intertidal dianggap lebih bergizi dibandingkan padang lamun subtidal karena kandungan nitrogen dan daya cerna lebih tinggi,” tulis Budiarsa dan kolega.

Baca: Seperti Apa Rencana Aksi Nasional untuk Penyelamatan Duyung dan Lamun?

 

Dugong yang terpantau di wilayah perairan Kabupaten Alor, NTT. Foto: WWF-Indonesia/Tutus Wijanarko

 

Kandungan Nitrogen

Publikasi lain yang dilakukan oleh Samantha J Tol, dkk dari James Cook University, menjelaskan berdasarkan studi di Australia, tepatnya di bagian tenggara Queensland, menunjukan preferensi makanan dugong didasarkan pada kualitas nutrisi dan daya cerna lamun sebagai sumber pakan.

Berdasarkan penelitian ini, dugong memakan lamun jenis Halophila ovalis dan Halodule uninervis karena memiliki kandungan nitrogen yang lebih besar. Ini dikombinasikan dengan preferensi umum untuk untaian biomassa rendah, karena konsentrasi serat yang lebih rendah. Para peneliti menjelaskan, banyak faktor yang dapat memengaruhi pilihan makan dugong.

“Perubahan dalam preferensi dan perilaku makan dapat terjadi jika satwa ini berada di bawah tekanan, seperti dari suhu di tepi wilayah sebarannya atau tekanan perburuan,” ungkap para peneliti.

Faktor penting lain adalah karakteristik fisik lingkungan laut seperti kedalaman, jenis sedimen, suhu air dan arus air. Atau, faktor biologis seperti jenis spesies lamun, biomassa di atas dan bawah permukaan, daya cerna, kandungan nutrien, dan umur lamun itu sendiri.

Secara teoritis, perilaku makan dugong diperkirakan mengikuti strategi mencari makan yang optimal. Pemilihan tempat makan, didasarkan pada energi maksimum yang diperoleh dengan energi yang dikeluarkan.

Selain itu, lokasi dan waktu makan juga dapat dipengaruhi faktor eksternal seperti kemungkinan terdampar, kehadiran predator, gangguan manusia, perubahan musim, atau sekadar keakraban dengan daerah tersebut dan sejarah padang lamun.

“Penting untuk mengembangkan konservasi tepat sasaran pada habitat makan dugong berkualitas tinggi,” tulis peneliti.

Baca: Ada Apa dengan Dugong?

 

Jenis lamun di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

 

Konservasi Dugong

Di Indonesia, dugong termasuk satwa dilindungi yang saat ini menghadapi ancaman kepunahan. Mikaela Clarissa, pendiri Tamang Dugong, seperti ditulis Mongabay sebelumnya, mengatakan populasi dugong terindikasi terjadi penurunan. Dikhawatirkan, jika tidak ada tindakan serius kelestarian dugong bakal hilang.

“Ada beberapa faktor yang membuat dugong rentan. Waktu reproduksinya cukup lama, sekitar 14 bulan mengandung dan membutuhkan 10 tahun untuk tumbuh dewasa. Interval mating (perkawinan) beragam, mulai 2,5 tahun sampai 5 tahun,” ungkapnya dalam Bincang Alam Mongabay, Kamis (17/6/2022) lalu.

Baca juga: Kisah Pilu Dugong di Perairan Pulau Bangka

 

Jenis lamun yang hidup di antara terumbu karang di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

 

Selain faktor reproduksi yang cukup lama, kondisi habitat dugong yaitu padang lamun yang berkurang, telah menjadi penghambat populasi. Diperkirakan, berdasarkan data hanya 5% padang lamun yang tergolong sehat, 80 % kurang sehat, dan 15 % tidak sehat dari 1,507 km persegi luas padang lamun di Indonesia.

Merujuk seagrass watch, padang lamun membentuk habitat pesisir yang penting di seluruh Kepulauan Indonesia, membentang dari intertidal hingga subtidal, di sepanjang garis pantai mangrove, muara sungai, dan muara laut dangkal.

Padang lamun di Indonesia, memainkan peran penting dalam mendukung komunitas laut pesisir dan menjaga keanekaragaman flora dan fauna.

Selain sumber makanan penting bagi penyu hijau dan dugong, habitat lamun di Indonesia merupakan komponen penting dalam menjaga produktivitas perikanan pesisir dan kualitas kejernihan air laut.

Di sepanjang garis pantai yang didominasi hutan mangrove, komunitas lamun sering menjadi penghubung fungsional dan penyangga antara terumbu karang di laut dengan hutan bakau di daratan.

 

Air Mata Dugong Hanya Mitos, Hentikan Perburuan

 

Sumber: Mongabay.co.id

ShareTweetPin
Previous Post

Menjaring Inovasi Anak Muda Menjawab Persoalan Lingkungan

Next Post

COP29: Organisasi Masyarakat Sipil Soroti Soal Pendanaan Iklim

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Zulkifli H. Adam Resmi Pimpin DPD PAN Sabang

Zulkifli H. Adam Resmi Pimpin DPD PAN Sabang

Senin (15/06/2026) - 16:10 WIB
Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, BPS Aceh Terjunkan Petugas ke Seluruh Pelosok Serambi Mekkah

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, BPS Aceh Terjunkan Petugas ke Seluruh Pelosok Serambi Mekkah

Senin (15/06/2026) - 15:51 WIB
Satu Tahun Kepemimpinan Zulkifli–Suradji, Melanjutkan dan Menguatkan Pembangunan Sabang

Satu Tahun Kepemimpinan Zulkifli–Suradji, Melanjutkan dan Menguatkan Pembangunan Sabang

Senin (15/06/2026) - 15:48 WIB
PPIH Aceh Matangkan Persiapan Debarkasi, Kloter Pertama Tiba Malam Ini

PPIH Aceh Matangkan Persiapan Debarkasi, Kloter Pertama Tiba Malam Ini

Senin (15/06/2026) - 15:44 WIB
Buka Perjusa MIN 27 Aceh Besar, Yahwa Tekankan Kemandirian, Ukhuwah, dan Jaga Ibadah

Buka Perjusa MIN 27 Aceh Besar, Yahwa Tekankan Kemandirian, Ukhuwah, dan Jaga Ibadah

Sabtu (13/06/2026) - 21:45 WIB
Dua Kloter Jemaah Haji Aceh Tiba di Madinah, Berikut Aktivitasnya

Jelang Kepulangan Jamaah Haji, PPIH Aceh Optimalkan Layanan Debarkasi

Sabtu (13/06/2026) - 21:42 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.