Jumat, September 11, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home INTERNASIONAL

Rumput Jadi Barang Mewah di Santiago yang Kering

Redaksi Oleh Redaksi
Kamis (28/04/2022) - 01:35 WIB
in INTERNASIONAL
0
Relawan Erick Thohir Siap Bantu Bangkitkan Ekonomi Masyarakat

Chile harus beradaptasi dengan iklim yang berubah dan lebih kering.

SANTIAGO — Rumput menjadi barang mewah yang langka di ibukota Chile, Santiago. Santiago mengalami kekeringan selama satu dekade. Otoritas lokal dan penata taman pun terpaksa harus mengganti tanaman hijau subur dengan flora gurun.


“Kekeringan melanda kita semua,” kata wakil direktur taman Eduardo Villalobos.


Villalobos mengatakan bahwa orang membutuhkan perubahan paradigma dalam kebiasaan sehari-hari untuk membantu menghemat air. Perubahan wajah kota berpenduduk sekitar enam juta orang ini menggarisbawahi negara produsen tembaga ini harus beradaptasi dengan iklim yang berubah dan lebih kering.


Villalobos menyatakan lima hektare area rumput telah diganti yang menghemat 300.000 liter air dalam setiap siklus penyiraman. Chile mengumumkan pada awal bulan tentang rencana untuk menjatah air di ibu kota.


Keputusan tersebut belum pernah terjadi sebelumnya dalam hampir 500 tahun sejarah kota itu, dengan sistem peringatan empat tingkat termasuk pembatasan tekanan air hingga penjatahan air bergilir.


“Lanskap Santiago dari tahun lalu, dirancang untuk iklim Mediterania. Sekarang kita berada di iklim semi-gurun,” ujar kepala area hijau di distrik pasar atas kota Providencia, Valentina Vega.


“Kami tidak bisa membuang semua air itu lagi,” ujarnya.


Sedangkan di Providencia, pemerintah daerah berencana untuk mengubah wilayah hijau di sepanjang jalan dan jalan raya. Mereka akan mengganti dengan tanaman yang mengkonsumsi sedikit air dan menggunakan irigasi tetes.


“Ini menghemat hampir 90 persen air dibandingkan dengan lansekap tradisional,” kata Vega.


Providencia ini juga terbagi. Daerah kaya memiliki lebih banyak padang rumput hijau dan jalan berpohon rindang, yang jarang terlihat di wilayah yang kurang makmur. Namun semua orang membuat perubahan, menggabungkan vegetasi asli dan irigasi modern untuk menghindari pemborosan air.


Mahasiswa ekonomi Aracely Rodriguez yang tinggal di Pudahuel, daerah kelas menengah ke bawah di barat laut Santiago melihat sekitarnya tidak ada tanaman hijau. “Di mana saya tinggal tidak ada taman atau area hijau di dekatnya, tidak banyak air. Kami mencoba menjaga air. Kami memiliki hati nurani,” katanya.


Pakar pengelolaan air dari University of Chile Rodrigo Fuster mengatakan, orang perlu menyesuaikan penggunaan air mengingat iklim yang lebih kering dengan sedikit curah hujan dan salju di Andes. Kondisi ini telah mengurangi aliran sungai ke kota.


“Ada banyak ruang untuk mengurangi konsumsi air. Di kota seperti Santiago, dengan iklim semi-kering yang semakin parah, tidak dapat diterima bahwa kami memiliki rumput dan menggunakan air seolah-olah kami berada di London,” ujar Fuster.


Warga terbelah tentang perubahan tersebut. Ada yang mengatakan lanskap baru di beberapa tempat tampak seperti tumpukan batu. Namun warga lain ada juga yang mengatakan butuh waktu dan bisa menjadi indah.


Dina Robles menunjuk ke tamanĀ  di depan rumahnya yang penuh dengan semak-semak, bunga berwarna-warni, dan little foxtail yang bergoyang ditiup angin sore dengan aroma mint dan rosemary dari tanaman di dekatnya. “Seorang tetangga mengatakan kepada saya bahwa dia menyesali perubahan itu, bahwa mereka telah dijanjikan bunga dan hanya ada batu,” kata Robles sambil tertawa menekankan butuh tiga bulan untuk tanaman di dekat rumah untuk mekar.


“Lalu semuanya meledak dalam nuansa ungu dan biru. Sangat indah,” katanya.

Sumber: Republika

Tags: kekeringan di chilekekeringan di santiagokemarau chilesantiago
ShareTweetPin
Previous Post

IAEA Minta Akses ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia

Next Post

Tantowi Yahya Diangkat Jadi Presiden United in Diversity

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Buka ACF 2026, Plt Sekda Aceh Dorong Kuliner Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Buka ACF 2026, Plt Sekda Aceh Dorong Kuliner Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Jumat (11/09/2026) - 18:27 WIB
Alumni Harvard Reza Idria Dilantik Jadi Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry

Alumni Harvard Reza Idria Dilantik Jadi Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry

Jumat (11/09/2026) - 15:00 WIB
67 Pejabat Baru UIN Ar-Raniry Dilantik, Rektor Dorong Kerja Keras dan Kolaborasi

67 Pejabat Baru UIN Ar-Raniry Dilantik, Rektor Dorong Kerja Keras dan Kolaborasi

Jumat (11/09/2026) - 14:54 WIB
Tindak Lanjuti Kerja Sama, Lapas Blangpidie Beri Sosialisasi Bantuan Hukum

Tindak Lanjuti Kerja Sama, Lapas Blangpidie Beri Sosialisasi Bantuan Hukum

Jumat (11/09/2026) - 14:50 WIB
DAMASQUSS V Diikuti 1.012 Peserta dari 80 Sekolah, Hadirkan 25 Cabang Lomba

DAMASQUSS V Diikuti 1.012 Peserta dari 80 Sekolah, Hadirkan 25 Cabang Lomba

Jumat (11/09/2026) - 14:46 WIB
TikTok Go Dukung ACF 2026, Perkuat Digitalisasi UMKM Kuliner Aceh

TikTok Go Dukung ACF 2026, Perkuat Digitalisasi UMKM Kuliner Aceh

Kamis (10/09/2026) - 13:52 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.