Kamis, Juni 4, 2026
  • Login
Lensakita.com
Advertisement
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA
No Result
View All Result
Lensakita.com
No Result
View All Result
Home INTERNASIONAL

Pengungsi Rohingya Berupaya Lestarikan Akar Budaya di Pengungsian Bangladesh

Redaksi Oleh Redaksi
Sabtu (26/08/2023) - 10:07 WIB
in INTERNASIONAL
0
Pengungsi Rohingya berkumpul di sebuah kamp pengungsi Rohingya Kutupalong di Ukhiya di distrik Coxs Bazaar, Bangladesh.

#image_title

 DHAKA — Tercerabut dari tanah leluhur, sekelompok pemuda Muslim Rohingya di Bangladesh selatan berusaha untuk menjaga warisan budayanya tetap hidup di komunitasnya. Mohammed Rezuwan Khan berusia 26 tahun adalah salah satunya yang membawa misi baru jauh dari tanah kelahirannya.


Khan merupakan lulusan sekolah menengah atas yang ditolak dari pendidikan tinggi meskipun telah lulus ujian matrikulasi di wilayah asalnya Rakhine, sebuah negara bagian di Myanmar barat. Nasib itu akibat latar belakang etnisnya sebagai seorang Rohingya.


Prospek Khan untuk masuk kampus mendapat pukulan terakhir pada Agustus 2017, ketika dia dan keluarganya harus meninggalkan desa karena tindakan keras brutal yang dilakukan militer Myanmar. Khan tidak sendirian menerima nasib malang itu, hampir 1,2 juta warga Rohingya terpaksa mengungsi ke negara tetangga Bangladesh dan telah tinggal selama bertahun-tahun di kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak.


“Semua orang kehilangan semua miliknya. Militer (Myanmar) membakar desa-desa kami dan menghapus semua tanda keberadaan kami dari tanah tempat kami tinggal selama beberapa generasi,” kata Khan kepada Anadolu Agency.

 


Khan kini berupaya untuk menjaga generasi penerus Rohingya mengenal asal usul mereka. Dia mencoba melestarikan unsur-unsur budaya seperti cerita rakyat dari tanah kelahirannya sebelum akhirnya menghilangan.


“Generasi baru kita perlu mempelajarinya agar kita dapat kembali ke tanah air kita, Myanmar, dengan pengetahuan dan pendidikan yang memadai,” ujar Khan.


Dengan 54 persen populasi Rohingya adalah anak-anak, anggota kelompok ini khawatir masa depan komunitas itu berada dalam bahaya. Anak-anak dan remaja dapat kehilangan pengetahuan tentang budaya, bahasa, cerita rakyat, dan moral.


Terlebih lagi, anggota kelompok etnis tersebut juga tidak diperbolehkan bersekolah di lembaga pendidikan tinggi di Bangladesh atau mencari pekerjaan formal. Bertepat dalam peringatan Hari Peringatan Genosida Rohingya pada 25 Agustus, Khan memperbarui komitmennya terhadap komunitasnya.


“Saya memulai kehidupan pengungsi saya dengan kehampaan,” kata Khan yang tinggal di sebuah gudang bambu bersama istri, anak perempuannya, ibu dan saudara laki-lakinya.


“Saya menyadari bahwa setiap bayi baru lahir di kamp pengungsian tumbuh tanpa sentuhan sejarah, budaya, cerita rakyat, dan pendidikan kita sendiri. Ini adalah akar kami, identitas kami, yang ingin dihapus oleh junta militer,” ujarnya.


Khan memprakarsai Proyek Cerita Rakyat Rohingya untuk melestarikan budaya, bahasa, dan cerita asli etnis tersebut. Pada 2018, dia mendapat kesempatan untuk bekerja dengan seorang teman dari Amerika Serikat  Alex Ebsary di proyek Music in Exile, di kamp pengungsi Rohingya yang terletak di distrik Cox’s Bazar.


Khan menjadi penulis cerita rakyat pada 2020. Dia menerjemahkan cerita rakyat ke dalam bahasa Inggris dan mengirimkannya ke Ebsary, yang membantu Khan mengedit naskahnya.


“Saya mengumpulkan cerita-cerita rakyat dari orang-orang Rohingya yang terpelajar dan lanjut usia dari seluruh kamp. Saya mengumpulkan mereka dengan mengunjungi para lansia dengan berjalan kaki, yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga,” kata Khan.


Kisah-kisah ini mengajarkan pelajaran moral dari para sesepuh Rohingya kepada anak-anak. “Saya sudah menerbitkan buku yang memuat cerita-cerita rakyat itu,” ujar Khan.


Khan juga meluncurkan situs web untuk proyek cerita rakyatnya dan terlibat dalam pengajaran dan pengelolaan sekolah informal. “Lagu, bahasa, budaya, cerita rakyat, dan kurikulum pendidikan kita adalah aset kita, jati diri kita,” katanya.


Pemuda itu pun tidak sendirian dalam menjalankan misi mendidik generasi muda Rohingya. Aebad Ullah, seorang pemuda yang tinggal di Cox’s Bazar Camp 7, mengelola sebuah sekolah untuk sekitar 600 anak dan remaja dari TK hingga kelas 11.


Ali Jinnah Hussin, warga kamp lainnya, juga mendapatkan nasib yang sama. Pria berusia 26 tahun ini tidak mendapat penerimaan di kampus beberapa tahun yang lalu. Kini bekerja sebagai pekerja kemanusiaan dan direktur komunikasi di Asosiasi Pemuda Rohingya  yang terlibat dalam pengajaran dan pengembangan keterampilan pelajar muda Rohingya.


Menggambarkan situasi yang tidak menguntungkan bagi pengungsi, Khan mengatakan, ada ratusan sekolah informal berbasis masyarakat di kamp pengungsi yang mengajarkan kurikulum Myanmar, serta budaya asli dan nilai-nilai moral mereka.


Tapi upaya untuk mencapai tujuan ini bukannya tanpa hambatan bagi Khan dan anggota kelompok lainnya. “Kami harus menjalankan pekerjaan dan sekolah dengan dana kami sendiri. Kami tidak mendapatkan bantuan apa pun dari orang lain. Semakin sulit menjalankan kegiatan ini karena masalah keuangan,” kata Khan.


Khan menjelaskan, hanya mendapat delapan dolar AS per bulan. “Tidak cukup untuk memberi makan sebuah keluarga. Kami harus bergantung sepenuhnya pada bantuan pangan karena kami tidak memiliki izin kerja,” ujarnya.


Khan mendesak masyarakat global untuk mengambil tindakan untuk menyelamatkan nyawa warga Rohingya. Nasib pengungsi ini secara diam-diam mulai menghilang dari perhatian dunia.

Sumber: Republika

Tags: akar budaya rohingyabangladeshpengungsi rohingyarohingya
ShareTweetPin
Previous Post

Puluhan Hektare Hutan TN Gunung Ciremai Terbakar

Next Post

7 Tornado Terjang Michigan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Gus Irfan Bidik Pasar Katering Haji Arab Saudi untuk Produk Pangan Indonesia

Gus Irfan Bidik Pasar Katering Haji Arab Saudi untuk Produk Pangan Indonesia

Kamis (04/06/2026) - 16:29 WIB
Menag Tegaskan Zakat Tidak Boleh Digunakan di Luar Asnaf

Menag: Jabatan Adalah Amanah, Jangan Tergoda Gratifikasi dan Suap

Kamis (04/06/2026) - 16:23 WIB
Penumpang Angkutan Udara dan Laut di Aceh Menurun

Penumpang Pesawat dan Kapal di Aceh Turun pada April 2026

Kamis (04/06/2026) - 16:13 WIB
Malaysia Dominasi Kunjungan Turis ke Aceh Oktober 2024

Kunjungan Wisman ke Aceh Naik 14,75 Persen pada April 2026, Okupansi Hotel Ikut Menguat

Kamis (04/06/2026) - 16:10 WIB
Hari Kedua Pencarian, Pendaki Hilang di Gunung Seulawah Belum Ditemukan

Hari Kedua Pencarian, Pendaki Hilang di Gunung Seulawah Belum Ditemukan

Kamis (04/06/2026) - 16:05 WIB
Nilai Ekspor Aceh Tembus 56,99 Juta Dolar AS, Impor Didominasi Gas Propana dan Butana

Nilai Ekspor Aceh Tembus 56,99 Juta Dolar AS, Impor Didominasi Gas Propana dan Butana

Kamis (04/06/2026) - 15:01 WIB
Lensakita.com

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • DAERAH
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • OLAH RAGA
  • BOLA
  • FOTO
  • LIFESTYLE
  • LINGKUNGAN
  • FEATURE
  • EDUKASI
  • DPRA

© 2026 Lensakita.com | Menatap dunia lebih luas.